Jumat, 08 Desember 2017

Cari Perhatian

Alkisah datanglah seorang wanita muda kejang, diantar oleh teman-temannya dengan keseluruhan otot kaku, keseluruhan jari tangannya kaku menguncup, kakinya tegang tak bisa ditekuk, matanya terkadang terbuka atau tertutup namun si wanita muda ini tidak menjawab pertanyaan pemeriksa sama sekali. Dari cerita ternyata si wanita ini baru melahirkan anak pertamanya beberapa bulan lalu, dan beberapa hari lalu suaminya meninggalkannya tanpa ada kabar berita bersama anak semata wayangnya. Si wanita ini yatim piatu, dia tidak punya siapapun lagi, tidak ada lagi yang memperhatikannya. Lalu beberapa tim medis dan penunjang medis lain segera mencibir mengatakan, "dasar cari perhatian". Benarkah si wanita ini cari perhatian? Apakah wanita ini berpura pura kejang untuk mendapat perhatian? Yuk kita bahas sedikit



Secara umum seseorang menghadapi stres dengan dua cara: fight (berkelahi) atau flight (melarikan diri). Misalnya ketika di lampu merah dan kamu melihat spion mobilmu ditabrak pemuda mabuk, spontan tentunya kamu marah dan mengejar pemuda tersebut (fight). Namun ada hal hal yang tidak bisa ditangani dengan fight, misalnya ketika dosenmu menyuruhmu maju presentasi disaat kamu benar benar belum siap, maka pilihannya adalah flight atau melarikan diri. Bentuknya bisa berbagai macam, antara dia sakit, tiba tiba tidak masuk, atau beralasan macam macam, tujuannya satu: melarikan diri dari perintah dosen.

Tidak setiap orang mampu memilih dengan baik cara menghadapi stres ini. Bahkan sebagian besar orang tidak dapat memilih reaksi stres ini, semua berlangsung begitu saja, secara spontan, diluar kendali kesadaran, atau yang menurut anak gawl sebut sebagai "bawah sadar". Sebagian besar pilihan kita justru berasal dari bawah sadar.

Jika sebuah stres dianggap dapat dihadapi, kita masih akan menghadapinya dalam keadaan sadar. Namun pernahkah kamu melihat ibu yang tiba tiba pingsan di pemakaman anaknya? Atau ayah yang hanya mematung melihat putra semata wayangnya tidak bernyawa? Atau seorang anak yang berteriak histeris melihat kucing kesayangannya mati? Menurut kita mungkin kucing mati itu tidak bermakna, tapi bisa saja berbeda dengan anak ini. Karena anak ini tidak memiliki siapa siapa kecuali sang kucing. Kita tidak pernah tahu kondisi seseorang yang sebenarnya, alangkah baiknya jika tidak menghakimi dahulu bukan?

Dalam PPDGJ dikenal konvulsi disosiatif, kalau istilah Papa Freud dulu histeria konversi. Istilah ini muncul karena kejang yang dialami seseorang muncul sebagai respon atas stres besar dan tidak mampu diatasi oleh kesadaran orang tersebut, sehingga stres ini dikonversikan dalam bentuk kejang. Supaya apa? Supaya orang ini tidak lagi merasakan rasa sakit akibat stres, sehingga bawah sadarnya mengambil alih penanganan stres.

Jadi pasien dengan konversi/ disosiatif ini sadar nggak dengan apa yang dia lakukan? Jawabannya: TIDAK. Berbeda dengan asumsi awam yang berpikir seseorang ini berpura pura untuk mencari perhatian, sang pasien disosiatif/konversi tidak sedang berpura pura. Dia bisa saja tidak sadar pada saat itu, sekalipun matanya terbuka. Karena kesadaran yang muncul pada saat itu adalah kesadaran yang berbeda, bahasa kerennya altered state of consciousness. Dia sadar tapi tidak sadar, dia sadar tapi tidak ingat, compos mentis tapi tidak mampu merespon dengan normal. Kenapa? Ya lagi lagi karena ini adalah kesadarannya bawah sadar. Orang ini tidak sadar yang sedang dia lakukan.


Bagaimana menangani kasus ini akan dibahas dalam artikel yang terpisah. Tapi pada saat ini hanya mengingatkan kepada rekan sekalian, pasien konversi/disosiatif tidak sedang mencari perhatian, mereka mencari pertolongan. Salam sadar

Sabtu, 02 September 2017

Sabtu, 05 Agustus 2017

Bakar dan Bunuh!!

Masih belum lepas dari ingatan kita tentang seorang teknisi dibunuh dan dibakar karena disangka pencuri oleh warga sekitar. Seakan mudah saja bagi kita untuk menghukum sampai membunuh seseorang yang kita anggap bersalah, yang tampak berbeda. Kita heran bagaimana mungkin seseorang bertindak begitu kejam, padahal tanpa sadar kita semua memelihara perilaku seperti ini.

Sabtu, 10 Juni 2017

Courage

"Pokoknya saya ga mau tau, kalau kamu ke psikiater, kamu saya usir dari rumah! Bikin malu keluarga!", seru seorang dokter terkenal. "Tapi Pa, aku ga kuat lagi. Kita udah ke semua terapis herbal, hipnoterapis, guru agama, tapi aku ngerasa perasaan sedihku ini ga wajar. Aku gak sanggup hidup lagi Pa, aku..."| "CUKUP!", bentak sang Ayah. "Kalau kamu ke psikiater, kamu keluar dari rumah sekarang!". Sang anak dengan putus asa kembali ke kamarnya, terisak disudut ruangan, tidak mampu memahami dirinya sendiri dan tidak ada orang lain yang mau memahaminya.

Selasa, 16 Mei 2017

Pilihlah Untuk Memilih

Dalam dunia yang begitu cepat, begitu banyak tuntutan, begitu banyak tekanan, begitu banyak hal yang menjadikan kita mungkin saja merasa kelelahan.Kelelahan demi kelelahan ini tampak dari kalimat yang sering kita dengar, "hidup itu mengalir saja", atau "go with the flow", atau "kita jalani dulu aja". Ekspresi pasrah dan ketidakberdayaan ini muncul dari kelelahan dan keengganan dalam memilih. Entah pasrah atau hilang arah dalam menjalani hidup.

Kamis, 20 April 2017

10 Hal Yang Sebaiknya Tidak Diucapkan Ke Orang Yang Terpikir Untuk Bunuh Diri

"Saya mau mati saja!!" Pernah mendengarkan kalimat seperti ini dari teman, keluarga atau kenalanmu? Dan bagaimanapun cara kita membujuk, menenangkan, menasihati, memberi pencerahan, semuanya terdengar sebagai omong kosong intelektual saja oleh orang yang kita sayangi. Sementara kita tidak mampu memahami, bagaimana mungkin dia berpikir demikian? Bagaimana bisa dia terpikir untuk bunuh diri?! Sementara itu kita bersiap untuk menolong dengan kalimat yang kita pikir akan membantu, berhati-hatilah dengan kalimat yang akan kita gunakan nanti. Kita bisa saja membuat dia membuka diri dan mengijinkan kita masuk untuk menolongnya, atau sebaliknya dia menutup pintu rapat rapat dan membunuh dirinya sendiri karena kesalahan kita memilih kata.


Sebelum beranjak lebih jauh tentang kalimat atau sikap apa yang tidak boleh diucapkan dan apa yang sebaiknya dilakukan, saya hanya ingin bertanya, adakah kamu benar peduli dan ingin mendengarkan? Ataukah kamu hanya ingin terlihat benar dan hebat? Dan kemudian menyerang orang yang kamu sayangi? Orang yang sedang terluka tadi kamu hujam dengan kalimat, logika, ayat, perilaku yang kelihatannya logis dapat membantu dia keluar dari pikiran bunuh diri. Namun sebenarnya jauh didalam hatimu kamu tau, bahwa kamu sedang menyerangnya dengan kalimat dan perilakumu. Apa yang kamu katakan itu untuk dirimu, supaya kamu terlihat benar, kamu tidak benar benar ingin menolong.

Jika hal itu yang kamu rasakan, saya rasa kamu perlu berhenti untuk berusaha menolong, karena kalimat apapun yang keluar akan menjadi bohong dan terasa seperti omong kosong intelektual. Kamu tidak berniat menolong, kamu hanya ingin terlihat benar dan keren, kamu lah yang perlu ditolong.

Jika kamu sudah pastikan motifmu untuk menolong benar, mari kita lihat 10 kesalahan paling umum dalam mencoba menolong seseorang dengan ide bunuh diri. Karena kalimat kalimat ini mengimplikasikan penghakiman dan ketidakmengertian kita. Namun bergantung dari konteks, motif, cara penyampaian, dan persepsi individual, beberapa orang mungkin berespon positif dengan paling tidak satu kalimat yang secara umum keliru. Mari kita lihat ke 10 hal yang sebaiknya tidak diucapkan kepada orang yang ingin bunuh diri:
  1. "Bagaimana mungkin kamu terpikir untuk bunuh diri? Hidupmu baik baik saja." Mungkin saja kehidupan dalam dunia nyata seseorang yang mengalami depresi terlihat "baik baik saja". Namun rasa sakit itu terjadi dibawah kehidupan yang biasa saja dia jalani. Dengan memahami bahwa hidup yang terlihat "baik baik saja"pun dapat menyimpan rasa sakit, kita membantu seseorang untuk dimengerti dan diterima sepenuhnya. Bukan dengan menghakimi dan mengabaikan.
  2. "Apa yang akan terjadi dengan orang orang yang kamu sayangi jika kamu bunuh diri? Kamu akan menyakiti mereka jika bunuh diri". Seseorang yang sedang ingin bunuh diri sudah dipenuhi perasaan bersalah. Menambahkan perasaan bersalah pada tumpukan perasaan bersalah tidak akan membantu mereka keluar dari depresi. Alih alih kesemuanya tadi akan menjadikan mereka merasa tidak diterima dimengerti. Dan, selamat, dia tidak akan membuka diri lebih jauh.
  3. "Bunuh diri itu egois". Coba rasakan kalimat ini. Jelas ini bukan kalimat untuk mencoba memahami dan mengerti. Kalimat ini adalah kalimat serangan, yang kita tujukan untuk membuat seseorang merasa bersalah. Ada dua hal yang penting disini. Pertama, seseorang yang secara sering ingin bunuh diri sebenarnya sudah berpikir bahwa dalam hidup, mereka telah membebani keluarga mereka. Sehingga dalam kondisi pola pikir yang tidak sehat, seseorang yang ingin bunuh diri berpikir bahwa mereka akan membantu orang yang mereka tinggalkan untuk terbebas dari sebagian beban hidupnya, yaitu hidup sang pengidap depresi ini. Kedua, bukankah sudah menjadi logika sederhana kita semua, bahwa untuk membantu seseorang yang sedang merasakan sakit demikian luar biasa, kita perlu membawanya keluar dari rasa sakit?
  4. "Bunuh diri itu tindakan pengecut" Kalimat ini mencetuskan rasa malu. Ya, sama tidak masuk akalnya memunculkan rasa malu atau rasa bersalah dapat membantu seseorang dengan depresi. Tindakan bunuh diri memang bukan merupakan tindakan pemberani, namun bukan berarti melabel seseorang dengan pengecut membantu dia menjadi pemberani. Harap logika jangan dibolak balik jika kita benar ingin menolong orang.
  5. "Kamu tidak benar benar ingin bunuh diri." Biasanya kalimat ini diucapkan karena kecemasan atau ketakutan dari kita yang diajak bicara, namun kalimat ini jelas tidak valid dan cenderung mengabaikan. Anggaplah seseorang yang kita kenal ini benar benar ingin bunuh diri. Dengan mengucapkan kalimat ini, dan mengabaikan pesan serius tentang kematiannya, hal ini lebih menyakitkan baginya karena terabaikan. Ya, kita sedang menyakiti orang yang sudah sakit begitu berat.
  6. "Kamu masih punya banyak hal untuk disyukuri." Dalam benak kita, dan pada konteks tertentu, kalimat ini bisa saja menggambarkan adanya harapan, rasa syukur. Namun bagi sebagian besar orang depresi, mereka tidak mampu merasakan rasa syukur, tepatnya mereka bahkan tidak bisa merasakan kesenangan. Sehingga kalimat ini tidak lah menggambarkan kondisi pikiran dan perasaan mereka yang sebenarnya,kalimat ini sering sekali dirasakan sebagai omong kosong intelektual. Dan kalimat ini menandakan ketidakmampuan kita untuk memberikan pengertian dan penerimaan.
  7. "Lihat kebawah, masih ada orang yang lebih tidak beruntung dari kamu." Ya benar, banyak orang yang lebih tidak beruntung dan tidak bunuh diri. Saya terpikir untuk membandingkan dua orang yang terkena luka tusuk, satu orang terkena luka tusuk di paha, dan satu lagi terkena luka tusuk di dada. Ya benar, jauh lebih buruk mengalami luka tusuk di dada, namun bukan berarti yang mengalami luka tusuk di paha tidak mengalami rasa sakit. Rasa sakitnya tetap ada disana, meradang dan merusak. Dan luka yang sudah ada ini kamu tambahkan dengan perasaan malu dari kalimat ini. Seseorang yang ingin bunuh diri sudah terbiasa membandingkan dirinya dengan orang lain, dan mereka merasa gagal dan rusak. Dengan kamu menyuruh dia membandingkan diri dengan orang yang lebih tidak beruntung, kamu sedang membuat pikirannya menjadi semakin benar, bahwa dia adalah orang yang gagal dan rusak.
  8. "Tuhan tidak pernah memberi pencobaan lebih dari kekuatan umatnya." Lagi, menggunakan ayat untuk menyerang seseorang yang depresi lebih sering mengakibatkan hasil yang kontraproduktif. Dia menjadi semakin merasa bersalah, semakin merasa gagal, semakin merasa malu, yang keseluruhannya menjadikan rasa sakitnya menjadi semakin hebat. Iya saya setuju Tuhan tidak pernah memberi pencobaan lebih dari kekuatan umatnya, namun bukankah bunuh diri itu terjadi karena dia sudah tidak mampu menanggung beban yang sedang dia tanggung? Ketimbang menghakimi, cobalah mengerti dan rasakan sejenak.
  9. "Kamu akan masuk neraka jika bunuh diri." Anda tidak perlu memberitahu orang yang ingin bunuh diri tentang hal ini, dia sudah sering berpikir tentangnya. Mungkin bagi beberapa orang tidak percaya dengan neraka, mungkin juga mereka berpikir tentang belas kasih Tuhan yang akan mengampuni mereka nanti. Apapun kepercayaan atau ketidakpercayaan mereka, keinginan untuk mati tetap kuat. Mengatakan mereka akan pergi ke neraka, hanya akan mengakibatkan perasaan terkucilkan lebih kuat lagi.
  10. "Lakukan saja kalau kamu berani." Saya tidak perlu menjelaskan bagian ini. Menantang seseorang yang benar benar ingin bunuh diri adalah cara tercepat untuk dia segera melaksanakan aksinya. Mungkin kamu yakin bahwa dia tidak benar benar ingin bunuh diri, namun seberapa yakinnya kamu cenayanganmu tentang dia itu benar? Bagaimana jika kamu keliru? Tidakkah kamu telah mengambil satu nyawa dari muka bumi?
Lalu apa yang sebaiknya kita lakukan? Mengutip dari senior saya dari bidang psikiatri, dr. Gina Anindyajati, ketika ada seseorang yg sampai mengungkapkan apa yg ia pikirkan, maka ia sungguh ingin didengarkan. Kita hanya perlu hadir dan memberi jaminan bahwa kita siap mendengar. Mereka yg datang tak melulu perlu nasihat, bahkan solusi. Kadang mereka hanya perlu tahu bahwa kita ada dan peduli. Memanusiakan manusia sungguh suatu perilaku yang sederhana, kalau kita mau menggunakan nurani


Kita terlalu sibuk memikirkan apa yang perlu kita ucapkan, kita katakan, sampai lupa berada bersama sang empunya perasaan disini, kini, hadir sepenuhnya untuk mendengarkan, hanya mendengarkan. Kita terlalu banyak melihat acara motivasi, public speaking, bahkan mungkin terlalu banyak mengikuti pelatihan yang isinya tentang apa yang harus kita katakan dan lakukan. Kita lupa sebuah kemampuan manusia yang sangat sulit walau terkesan mudah, yang belum pernah ada pelatihannya sampai sekarang, yaitu mendengarkan dengan sadar, hanya mendengarkan.

Salam sadar.

Read more at:
“How could you think of suicide? Your life’s not that bad.” Perhaps on the outside the suicidal person’s life does not seem “that bad.” The pain lies underneath. It can greatly help a suicidal person to feel understood. This sort of statement conveys disbelief and judgment, not understanding. “Don’t you know I would be devastated if you killed yourself? How could you think of hurting me like that?” Your loved one already feels awful. Heaping guilt on top of that is not going to help them feel soothed, understood, or welcome to tell you more. “Suicide is selfish.” This inspires more guilt. Two points are important here. One, many people who seriously consider suicide actually think they are burdening their family by staying alive. So, in their distressed, perhaps even mentally ill state of mind, they would be helping their loved ones by freeing them of this burden. Two, isn’t it a natural response to excruciating pain to think first of helping oneself escape the torment? “Suicide is cowardly.” This inspires shame. It also does not really make sense. Most people fear death. While I hesitate to call suicide brave or courageous, overcoming the fear of death does not strike me as cowardly, either. “You don’t mean that. You don’t really want to die.” Often said out of anxiety or fear, this message is invalidating and dismissive. Presume that the person really does mean that they want to die. It does more harm to dismiss someone who is truly suicidal than it does to take someone seriously who is not suicidal, so why not just take everyone seriously? “You have so much to live for.” In some contexts, this kind of statement might be a soothing reminder of abundance and hope. But for many people who think of suicide and do not at all feel they have much to live for, this remark can convey a profound lack of understanding. “Things could be worse.” Yes, things could be worse, but that knowledge does not inspire joy or hope. I compare it to two people who are stabbed, one in the chest, one in the leg. It is far worse to be stabbed in the chest, but that does not make the pain go away for the person stabbed in the leg. It still hurts. A lot. So even if people who think of suicide have many good things going for them, even if their lives could be far worse, they still experience a seemingly intolerable situation that makes them want to die. “Other people have problems worse than you and they don’t want to die.” True, and your loved one may well have already considered this with shame. People who want to die often compare themselves to others and come up wanting. They may even feel defective or broken. Comparing them to others who cope better may only worsen their self-condemnation. “Suicide is a permanent solution to a temporary problem.” I do know people, especially teens, for whom this statement was tremendously helpful. It spoke to them. But it also communicates that the person’s problems are temporary, when they might be anything but. In such a situation, a realistic goal for the person might be to learn to cope with problems and to live a meaningful life in spite of them. The other problem with this statement is it conveys that suicide is a solution – permanent, yes, and a solution. At a minimum, I recommend changing the word “solution” to “act” or “action,” simply to avoid reinforcing that suicide does indeed solve problems. “You will go to hell if you die by suicide.” Your loved one has likely already thought of this possibility. Maybe they do not believe in hell. Maybe they believe the god they believe in will forgive their suicide. Regardless, their wish to die remains. Telling them they will go to hell can exacerbate feelings of alienation

Read more at:
“How could you think of suicide? Your life’s not that bad.” Perhaps on the outside the suicidal person’s life does not seem “that bad.” The pain lies underneath. It can greatly help a suicidal person to feel understood. This sort of statement conveys disbelief and judgment, not understanding. “Don’t you know I would be devastated if you killed yourself? How could you think of hurting me like that?” Your loved one already feels awful. Heaping guilt on top of that is not going to help them feel soothed, understood, or welcome to tell you more. “Suicide is selfish.” This inspires more guilt. Two points are important here. One, many people who seriously consider suicide actually think they are burdening their family by staying alive. So, in their distressed, perhaps even mentally ill state of mind, they would be helping their loved ones by freeing them of this burden. Two, isn’t it a natural response to excruciating pain to think first of helping oneself escape the torment? “Suicide is cowardly.” This inspires shame. It also does not really make sense. Most people fear death. While I hesitate to call suicide brave or courageous, overcoming the fear of death does not strike me as cowardly, either. “You don’t mean that. You don’t really want to die.” Often said out of anxiety or fear, this message is invalidating and dismissive. Presume that the person really does mean that they want to die. It does more harm to dismiss someone who is truly suicidal than it does to take someone seriously who is not suicidal, so why not just take everyone seriously? “You have so much to live for.” In some contexts, this kind of statement might be a soothing reminder of abundance and hope. But for many people who think of suicide and do not at all feel they have much to live for, this remark can convey a profound lack of understanding. “Things could be worse.” Yes, things could be worse, but that knowledge does not inspire joy or hope. I compare it to two people who are stabbed, one in the chest, one in the leg. It is far worse to be stabbed in the chest, but that does not make the pain go away for the person stabbed in the leg. It still hurts. A lot. So even if people who think of suicide have many good things going for them, even if their lives could be far worse, they still experience a seemingly intolerable situation that makes them want to die. “Other people have problems worse than you and they don’t want to die.” True, and your loved one may well have already considered this with shame. People who want to die often compare themselves to others and come up wanting. They may even feel defective or broken. Comparing them to others who cope better may only worsen their self-condemnation. “Suicide is a permanent solution to a temporary problem.” I do know people, especially teens, for whom this statement was tremendously helpful. It spoke to them. But it also communicates that the person’s problems are temporary, when they might be anything but. In such a situation, a realistic goal for the person might be to learn to cope with problems and to live a meaningful life in spite of them. The other problem with this statement is it conveys that suicide is a solution – permanent, yes, and a solution. At a minimum, I recommend changing the word “solution” to “act” or “action,” simply to avoid reinforcing that suicide does indeed solve problems. “You will go to hell if you die by suicide.” Your loved one has likely already thought of this possibility. Maybe they do not believe in hell. Maybe they believe the god they believe in will forgive their suicide. Regardless, their wish to die remains. Telling them they will go to hell can exacerbate feelings of alienation

Read more at:

Rabu, 22 Maret 2017

Depresi: Siapa yang Mengalaminya?

He who conquers others is strong;
He who conquers himself is mighty
-Lao Tsu-

Saya sudah punya segalanya, anak, pasangan, rumah, uang tapi kenapa hanya karena kehilangan hewan peliharaan saja saya bisa merasakan depresi? Bagaimana mungkin dalam hidup yang begitu sempurna kita masih bisa merasakan depresi? Siapakah yang bisa mengalami depresi? Adakah kerentanan tertentu yang mengakibatkan kita mudah terkena depresi? Adakah diri kita juga mungkin mengalami depresi?