Rabu, 18 April 2018

Mindfulness Class 7 Mei 2018 Surakarta

Sakit adalah bagian dari kehidupan, dan tentunya setiap orang akan mengalami penyakit cepat atau lambat. Ada kalanya beberapa orang mengalami penyakit yang lebih berat, atau mungkin lebih lama, atau mungkin tidak ada kejelasan kapan sembuh, atau mungkin seakan semua tidak ada harapan.

Dalam kondisi seperti ini bahagia seringkali jadi angan angan saja. Banyak orang tidak mampu lagi merasakan bahagia dalam kondisi sakit penyakit yang tak kunjung usai ini.

Namun hal ini tidak sepenuhnya tidak bisa diubah. Bahagia ditengah rasa sakit mungkin sekali didapatkan.

Berbahagia ditengah penyakit adalah ketrampilan yang bisa dan perlu dilatihkan bersama bahkan sebelum sakit datang, menyadari rasa sakit, menerima rasa sakit dan tetap berbahagia ditengah rasa sakit.

Di kelas ini kita akan belajar bersama tentang kesadaran lain dalam rasa sakit. Kita akan belajar bersama tetap menjadi bahagia ditengah penyakit. Atau mungkin bersama-sama orang yang kita sayangi menjadi bahagia ditengah penyakit.

Acara ini akan diadakan pada
Tanggal 7 Mei 2018
Lokasi RSUD Dr Moewardi Surakarta
Waktu 15.00-19.00

Informasi dan pendaftaran (WA/SMS)
CP Asti 0812-6971-351
Ardi 0896-7346-9339

Investasi
Umum/Mahasiswa: 200.000
Dokter: 300.000


Pendaftaran bisa dengan menghubungi CP atau mengisi form ini

Rabu, 21 Februari 2018

Indigo, Spesial atau Bencana?

Anak-anak Indigo, menurut konsep New Age yang pseudoscience, adalah anak-anak yang diyakini memiliki sifat atau kemampuan istimewa, tidak biasa, dan supernatural. Konsep anak indigo mendapat minat dengan terbitnya serangkaian buku populer di akhir tahun 1990an dan beberapa film pada dekade berikutnya. Berbagai buku, konferensi dan materi terkait telah diciptakan seputar keyakinan akan gagasan anak indigo dan sifat dan kemampuan mereka. Penafsiran keyakinan ini berkisar dari tahap berikutnya dalam evolusi manusia, dalam beberapa kasus memiliki kemampuan paranormal seperti melihat makhluk halus, telepati, dengan keyakinan bahwa mereka lebih berempati dan kreatif daripada rekan-rekan mereka.

Jumat, 08 Desember 2017

Cari Perhatian

Alkisah datanglah seorang wanita muda kejang, diantar oleh teman-temannya dengan keseluruhan otot kaku, keseluruhan jari tangannya kaku menguncup, kakinya tegang tak bisa ditekuk, matanya terkadang terbuka atau tertutup namun si wanita muda ini tidak menjawab pertanyaan pemeriksa sama sekali. Dari cerita ternyata si wanita ini baru melahirkan anak pertamanya beberapa bulan lalu, dan beberapa hari lalu suaminya meninggalkannya tanpa ada kabar berita bersama anak semata wayangnya. Si wanita ini yatim piatu, dia tidak punya siapapun lagi, tidak ada lagi yang memperhatikannya. Lalu beberapa tim medis dan penunjang medis lain segera mencibir mengatakan, "dasar cari perhatian". Benarkah si wanita ini cari perhatian? Apakah wanita ini berpura pura kejang untuk mendapat perhatian? Yuk kita bahas sedikit



Secara umum seseorang menghadapi stres dengan dua cara: fight (berkelahi) atau flight (melarikan diri). Misalnya ketika di lampu merah dan kamu melihat spion mobilmu ditabrak pemuda mabuk, spontan tentunya kamu marah dan mengejar pemuda tersebut (fight). Namun ada hal hal yang tidak bisa ditangani dengan fight, misalnya ketika dosenmu menyuruhmu maju presentasi disaat kamu benar benar belum siap, maka pilihannya adalah flight atau melarikan diri. Bentuknya bisa berbagai macam, antara dia sakit, tiba tiba tidak masuk, atau beralasan macam macam, tujuannya satu: melarikan diri dari perintah dosen.

Tidak setiap orang mampu memilih dengan baik cara menghadapi stres ini. Bahkan sebagian besar orang tidak dapat memilih reaksi stres ini, semua berlangsung begitu saja, secara spontan, diluar kendali kesadaran, atau yang menurut anak gawl sebut sebagai "bawah sadar". Sebagian besar pilihan kita justru berasal dari bawah sadar.

Jika sebuah stres dianggap dapat dihadapi, kita masih akan menghadapinya dalam keadaan sadar. Namun pernahkah kamu melihat ibu yang tiba tiba pingsan di pemakaman anaknya? Atau ayah yang hanya mematung melihat putra semata wayangnya tidak bernyawa? Atau seorang anak yang berteriak histeris melihat kucing kesayangannya mati? Menurut kita mungkin kucing mati itu tidak bermakna, tapi bisa saja berbeda dengan anak ini. Karena anak ini tidak memiliki siapa siapa kecuali sang kucing. Kita tidak pernah tahu kondisi seseorang yang sebenarnya, alangkah baiknya jika tidak menghakimi dahulu bukan?

Dalam PPDGJ dikenal konvulsi disosiatif, kalau istilah Papa Freud dulu histeria konversi. Istilah ini muncul karena kejang yang dialami seseorang muncul sebagai respon atas stres besar dan tidak mampu diatasi oleh kesadaran orang tersebut, sehingga stres ini dikonversikan dalam bentuk kejang. Supaya apa? Supaya orang ini tidak lagi merasakan rasa sakit akibat stres, sehingga bawah sadarnya mengambil alih penanganan stres.

Jadi pasien dengan konversi/ disosiatif ini sadar nggak dengan apa yang dia lakukan? Jawabannya: TIDAK. Berbeda dengan asumsi awam yang berpikir seseorang ini berpura pura untuk mencari perhatian, sang pasien disosiatif/konversi tidak sedang berpura pura. Dia bisa saja tidak sadar pada saat itu, sekalipun matanya terbuka. Karena kesadaran yang muncul pada saat itu adalah kesadaran yang berbeda, bahasa kerennya altered state of consciousness. Dia sadar tapi tidak sadar, dia sadar tapi tidak ingat, compos mentis tapi tidak mampu merespon dengan normal. Kenapa? Ya lagi lagi karena ini adalah kesadarannya bawah sadar. Orang ini tidak sadar yang sedang dia lakukan.


Bagaimana menangani kasus ini akan dibahas dalam artikel yang terpisah. Tapi pada saat ini hanya mengingatkan kepada rekan sekalian, pasien konversi/disosiatif tidak sedang mencari perhatian, mereka mencari pertolongan. Salam sadar

Sabtu, 02 September 2017

Sabtu, 05 Agustus 2017

Bakar dan Bunuh!!

Masih belum lepas dari ingatan kita tentang seorang teknisi dibunuh dan dibakar karena disangka pencuri oleh warga sekitar. Seakan mudah saja bagi kita untuk menghukum sampai membunuh seseorang yang kita anggap bersalah, yang tampak berbeda. Kita heran bagaimana mungkin seseorang bertindak begitu kejam, padahal tanpa sadar kita semua memelihara perilaku seperti ini.

Sabtu, 10 Juni 2017

Courage

"Pokoknya saya ga mau tau, kalau kamu ke psikiater, kamu saya usir dari rumah! Bikin malu keluarga!", seru seorang dokter terkenal. "Tapi Pa, aku ga kuat lagi. Kita udah ke semua terapis herbal, hipnoterapis, guru agama, tapi aku ngerasa perasaan sedihku ini ga wajar. Aku gak sanggup hidup lagi Pa, aku..."| "CUKUP!", bentak sang Ayah. "Kalau kamu ke psikiater, kamu keluar dari rumah sekarang!". Sang anak dengan putus asa kembali ke kamarnya, terisak disudut ruangan, tidak mampu memahami dirinya sendiri dan tidak ada orang lain yang mau memahaminya.

Selasa, 16 Mei 2017

Pilihlah Untuk Memilih

Dalam dunia yang begitu cepat, begitu banyak tuntutan, begitu banyak tekanan, begitu banyak hal yang menjadikan kita mungkin saja merasa kelelahan.Kelelahan demi kelelahan ini tampak dari kalimat yang sering kita dengar, "hidup itu mengalir saja", atau "go with the flow", atau "kita jalani dulu aja". Ekspresi pasrah dan ketidakberdayaan ini muncul dari kelelahan dan keengganan dalam memilih. Entah pasrah atau hilang arah dalam menjalani hidup.