Jumat, 04 April 2008

TIGA ALASAN ANAK MUDA HAVING SEX SEBELUM NIKAH!!!!!!

Menurut Barclay, ada tiga alasan yang
paling kerap dikemukakan orang guna
membenarkan kegiatan seksual yang
dilakukan sebelum-atau di luar-
pernikahan..
PERTAMA
1.ANTISIPASI
Sepasang kekasih merasa yakin akan
menikah, sehingga tanpa ragu
berhubungan seks. "Apa salahnya? Kami
toh pasti menikah."
Motivasi mereka boleh jadi tulus-
mengekspresikan cinta kasih yang murni.
Pertanyaan saya adalah, mengapa tidak
sebaliknya? Mengapa mereka tidak
mengekspresikannya justru dengan TIDAK
berhubungan seks sebelum menikah?
Bukankah salah satu ekspresi cinta yang
sejati adalah kesanggupan mengendalikan
diri??
KEDUA
2. Saya sebut saja SIMULASI
Atau "COBA DULU BARU BELI"
Caranya?? Dengan "hidup bersama" dulu,
yang dianggap sebagai "simulasi" atau
"tiruan" hidup perkawinan yang
sesungguhnya. Dalam kaitan ini, Barclay
mengemukakan sebuah analogi menarik.
Tentang seseorang yang memutuskan hidup
beberapa bulan di daerah kumuh bersama
orang-orang miskin. Tetapi ia salah
perhitungan. Tinggal di daerah kumuh
memang memberi pengalaman berharga.
Namun, tetap tidak mungkin membuat
orang benar-benar tahu "bagaimana
rasanya jadi orang melarat". Sebab si
relawan bisa setiap saat meninggalkan
kemiskinan, sedang orang-orang miskin
itu? Seumur hidup, mereka sudah
terperangkap kemelaratan. Dan ini
melahirkan dua sikap, bahkan mentalitas
yang berbeda!!
INTINYA,"pernikahan" tak dapat
"dieksperimenkan". Pernikahan itu
sebuah "komitmen".Yang mungkin hanyalah
"menerima" atau "menolak". Tidak ada
peluang untuk "coba-coba".
KETIGA
Alasan yang mengatakan bahwa ESENSI
adalah segala-galanya. Pernikahan lebih
dari secarik kertas atau sebuah
seremoni. Esensi pernikahan adalah
komitmen untuk membangun relasi. Inilah
yang terpenting, dengan atau tanpa
formalitas. Argumentasi jitu, bukan??
Esensi dan kualitas tentu lebih utama
ketimbang bungkus luarnya. Tetapi
apakah itu berarti formalitas tak ada
nilainya? Kenyataan menunjukkan, walau
formalitas bukan segalanya, orang
memerlukannya.
Saya khawatir, orang mengatakan bahwa
"komitmen, bukan formalitas yang
penting", sebenarnya menolak komitmen.
Orang yang mengatakan bahwa formalitas
pernikahan tidak penting-sebab hanya
cinta kasih, relasi, dan komitmenlah
yang penting-sering adalah orang yang
menolak untuk membuat komitmen "resmi".
Mereka masuk dari pintu depan, tetapi
diam-diam menyiapkan "pintu darurat" di
belakang, agar sewaktu-waktu bisa
melarikan diri dari komitmen dan
relasi, yang selalu mereka katakan
paling penting itu.Dan, nereka
melarikan diri dengan mudah, tanpa
direpotkan oleh tetek bengek
formalitas, seperti mengurus surat
cerai, dsb. Nah, ketauan belangnya
bukan??


Kekudusan ada untuk kekudusan itu
sendiri, bukan ketakutan karena
"hukuman"..

0 komentar:

Posting Komentar