Jumat, 05 Juni 2009

Fakta Menyakitkan Tentang Pengampunan

Fakta menyakitkan tentang pengampunan

Pertanyaan paling mendasar dari statemen di atas adalah apa itu pengampunan. Pengampunan tidak bicara tentang "mentolerir" kesalahan kecil dan wajar, pengampunan juga bicara tentang yang tidak terampunkan. Justru pengampunan sebenarnya bisa disebut pengampunan ketika dia mengampuni yang tidak terampuni. Mengampuni berarti menghapus sebuah kesalahan dan mengulangi semua dari awal, seperti mencuci kain kotor sehingga menjadi bersih kembali.

Maka jika demikian istilah "pengampunan kedua" atau "kesempatan kedua" menjadi sangat rancu, karena pengampunan berarti melupakan yang telah lalu, semua diulang dari NOL. Sehingga akan selalu ada kesempatan, akan selalu ada pengampunan, jika kita benar-benar mengampuni tentunya.

Lalu pertanyaan pasti muncul, "lalu apakah adil jika kesalahan seseorang diampuni (dilupakan) begitu saja??". Memang secara naluriah kita sudah biasa untuk menuntut balas, untuk menuntut keadilan dari sebuah kebenaran yang kita pegang. Namun kebenaran seharusnya tidak perlu dibela, karena semakin dia ditekan, dia akan muncul seperti emas, karena dia adalah kebenaran. dan penuntut balas akan keadilan tidak akan pernah puas, sebab pencarian keadilan yang sebenarnya merupakan pencarian damai sejahtera, berada di dalam dirinya sendiri yang akan keluar jika seandainya dia mengampuni.

Pengampunan memang tidak adil, namun jika tidak demikian maka dia tidak bisa disebut sebagai pengampunan. Pengampunan memberikan kebebasan dalam kenyataan bahwa keadilan tidak mampu menyediakan damai sejahtera. Pengampunan memberikan kelegaan dalam pemberian cuma-cuma bernama kasih karunia. Pengampunan bahkan yang tidak terampunkan adalah cara melepaskan diri sendiri dari belenggu kebencian dan lingkaran ketiadaan kasih karunia.

0 komentar:

Posting Komentar