Selasa, 08 September 2009

Gay, masalah dan cara pandang


16 Agustus 2009, gw denger dari acara Oprah di metro TV. Di acara ini ada dua pendeta yang ngomong
"being gay is a gift from God!!". Statement yang membuat kepala aq berputar, apa benar?Atau salah?

Jika aq mendengar kalimat ini dua tahun yang lalu, jelas aq akan menentang kalimat ini, memaki kedua
orang pendeta dan menganggap mereka telah menghina Allah. Tapi hari ini otakku menanggapi kalimat
ini dengan cara yang lain. Satu pertanyaan yang timbul dalam otakku adalah "Gay itu kebutuhan atau
pilihan?", apa mungkin gay itu "pemberian" Allah? Di satu sisi, semua agama dengan keras menentang,
mengusir, memberi pandangan yang sangat buruk kepada kelompok-kelompok gay, waria, atau semacamnya.
Apa dengan seperti menyingkirkan mereka maka permasalahan sosial ini akan selesai? Apa dengan
mengusir mereka dari masjid, gereja, vihara, pura, dll maka akan menyelesaikan semuanya? Apa dengan
kecaman akan menghentikan aksi mereka? Hipotesis dengan data empiris sampai sekarang, keliatannya
TIDAK!!

Meminjam kalimat dari penulis Philip Yancey, palung terdalam Mariam dan gunung tertinggi Everest akan
terlihat sama saja di tempat "Yang Tinggi". Jika dilihat dengan skala yang sama, bola billiard akan lebih
kasar terlihat ketimbang bumi. Orang-orang "berdosa" dan orang-orang "suci"(berpakaian putih-putih,
memakai simbol-simbol keagamaan, beribadah dengan taat) tidak akan berbeda jika dilihat dari "Tempat
Tinggi". Suka atau tidak, baik orang berdosa maupun orang benar adalah sama-sama ciptaan Allah yang
paling tinggi derajatnya, citra(gambaran) Allah di bumi, makhluk yang dipercaya untuk mengelola bumi.
Artinya, Gay ataupun Saya dan saudara, adalah sama-sama gambaran Allah di bumi.

Kekerasan tidak terbukti menyelesaikan masalah. Contohnya salah satu ormas berseragam putih-putih
yang setiap hari raya sebuah agama menggunakan kekerasan untuk menutup bar, cafe, mengusir PSK,
sweeping orang-orang yang makan saat siang, mereka terus melakukan ini tetapi "masalah"(atau setidaknya
mereka menganggapnya demikian) tidak kunjung selesai. Afrika Selatan yang memiliki hukum moral tertulis
yang paling kuat, justru memiliki angka kasus pencabulan tertinggi di dunia. Agama menjadi tempat
orang-orang suci, dan itu bukan tempat kaum gay, juga bukan tempat saya (saya bukan gay).

Mungkin perkataan kedua pendeta tadi ada benarnya, atau jika gay bukan pemberian Allah, setidaknya
Allah mengijinkan itu terjadi sekarang. Adalah tugas para manusia untuk mengatasi masalah dengan benar
dan tidak menggunakan kekerasan. Merangkul para gay, memberi mereka kesempatan yang sama di
masyarakat, menghargai mereka sebagai manusia, lebih menunjukkan kasih Allah ketimbang memukuli
mereka. Kasih kelihatannya jawaban yang tepat bagi permasalahan sosial ini. Sehingga jika mereka
mengalamiperubahan bukan karena kekuatan dari luar yang hanya bersifat sementara. Tetapi dari kasih
yang mengalir dan meluap dari dalam hati, dan tidak akan bisa ditahan lagi.

0 komentar:

Posting Komentar