Jumat, 27 November 2009

Memberi itu sakit


Berawal dari keisengan teman yang tindakannya memungkinkan orang untuk mengintip
uang persembahan saya yang ada di dalam dompet yang saya sembunyikan di tas. Akhirnya karena buru-buru dan takut ketahuan, saya ambil saja asal2an tanpa tahu berapa jumlah uang yang saya ambil. Tragedipun terjadi, uang yang terambil jumlahnya cukup besar untuk ukuran anak kos. Dan "pemberian" sayapun menjadi terasa begitu "sakit".

Kemudian dalam beberapa detik ke depan saya mulai berpikir, ternyata benar ayat yang mengatakan di mana hartamu berada, di situ hatimu berada. Ilustrasi yang kemudian muncul adalah
janda miskin yang memberikan seluruh uangnya yang emang tinggal sedikit.Yang terpikir
bagi saya adalah, janda ini memberi dengan kesadaran, sedangkan saya memberi karna "terjebak"
ini perbedaan besar dari pemberian saya dana janda tua, mempercayakan harta pada Tuhan sepenuhnya, dan tetap percaya perlindungan Tuhan.

Kemudian teman saya yang "menjebak" saya ini untuk menghibur mengatakan "Tenang Jim, uangmu sekarang ada di tempat yang lebih baik". Kalimat yang begitu menyentak dan menghajar saya. Selama ini ketika ada seseorang yang memberikan "sesuatu" (baca: seluruh) bagian dari hidupnya bagi Tuhan selalu ada saja orang yang menganggap orang ini aneh. 


Memberikan masa muda bagi Tuhan misalnya. Pasti ada beberapa orang yang ketika kita melayani saat muda, mereka akan protes dan menganggap ini adalah kesalahan, seharusnya sejak muda kita mencari pengalaman, kemudian saat tua kita melayani Tuhan. Atau ketika pengusaha ingin menjadi hamba Tuhan, bisa dipastikan beberapa temannya akan menganggap orang ini aneh, karena meninggalkan lahan "subur" dan masuk ke ladang yang lebih "tandus". Abraham juga mendapat tanah yang relatif lebih tandus ketimbang Lot, namun bersama dengan Tuhan, abraham diberkati berlimpah2. Ketika kita memberikan uang bagi pekerjaan Tuhan, kita kelihatannya "kehilangan" namun sebenarnya uang itu ada di dalam tempat yang lebih baik, di Tangan TUHAN. Dan Tuhan tidak pernah berhutang, dia akan mengembalikan semua yang kita "berikan". Orang percaya tidak akan dibiarkan Tuhan meminta-minta.

Ketika parfum yang mahal ditumpahkan ke kaki Yesus,Yudas dengan segera mengambil kesimpulan yang sangat logis. Ini adalah pemborosan!! Pemberian yang mahal bagi TUHAN adalah pemborosam. Sedang uang untuk belanja yang kita inginkan adalah "kebutuhan".

Kasih kita terhadap sesuatu dapat diukur dari seberapa banyak kita bersedia mengeluarkan uang kita terhadap yang kita kasihi. Jika kita tidak berani memberi pada TUhan, bagaimana kasih kita terhadap Tuhan,mungkin kita perlu berbenah ulang dan melihat apakah kasih kita murni atau hanya ingin mengambil berkat Tuhan saja?

0 komentar:

Posting Komentar