Jumat, 12 Februari 2010

Laki-laki itu kalo ga brengsek ya homo..


Laki-laki itu kalo ga brengsek ya homo..

Apa bener begitu? Brengsek itu apa si? Mungkin yang dimaksud adalah para laki2 yang ga bisa dipegang ucapannya, ga konsisten plus ga konsekuen, ga bertanggung jawab, suka mainin perempuan dan tindakan2 sejenisnya..

Satu-satunya yang bener dari stigma adalah stigma itu salah.. Aku ambil kisah nyata aja
Saudara jauhku, sekalipun ditinggal selingkuh istrinya tetep mempertahankan pernikahannya mati2an, walaupun sampai detik ini belum ada hasilnya. Orang terdekatku juga pernah di ambang perceraian dan mempertahankan sampai akhirnya rujuk lagi. Bapanya temenku udah ditinggal pergi istrinya masih menghargai wanita sampai sekarang (dan ga jadi homo). Apa semua cowo kalo ga brengsek itu homo??
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Salah satu alat yang sering dipakai pria untuk menutupi kekurangannya adalah pornografi..

Pornografi telah merusak laki-laki sampai ke harga diri mereka. Pornografi dijadikan pelarian “kesenangan” mereka, karena para laki-laki ini gagal meraih kesenangan dalam dunia nyata, sehingga mereka lari ke dunia maya seperti pornografi, atau dalam bentuk lebih ringan seperti games, ngebut2an, atau apapun yang bisa membuat mereka terlihat sebagai “pemenang”.

Bukan perempuan yang menjadi korban dari pornografi, laki-laki menjadi korban utama pornografi. Dalam teori interaksionisme simbolis, GAMBARAN kita tentang pria dan wanita adalah produk dari wacana yang ramai diobrolkan masyarakat. Salah satu wacana besar tentang seksualitas menyatakan, laki-laki lebih sering memikirkan seks, melakukan masturbasi, atau menginginkan hubungan seksual. WACANA MASYARAKAT inilah yang dieksploitasi oleh para pornografer dan pornoaktor untuk menampilkan “sisi rapuh pria”. Semakin kita menerima wacana ini, semakin pornografi berkembang biak. Jelas disini, pria adalah korban utama pornografi.

Dari pornografi pria telah kehilangan gambaran relasi yang sehat antara wanita dan pria. Lingkaran setan ini tidak akan berhenti jika gambaran masyarakat tentang pria tidak dibenahi. Pornografi akan tetap subur, gambaran perempuan di mata pria akan semakin hancur, perselingkuhan akan tetap ada, jika wacana masyarakat tentang pria tidak dirubah

Lalu kenapa banyak laki-laki ga bisa dipegang ucapannya, ga konsisten, ga “bertindak seperti laki-laki”. Apa benar harus tampil seperti pria yang berjalan tegak, bisa mengatasi semua masalah, mengayomi para perempuannya, cool, menjadi jagoan di saat genting dan mampu mengatasi semua masalah? Jika para wanita yang sedang membaca tulisan ini mengharapkan bisa bertemu pria seperti di atas, kalian sedang bermimpi..

Pria tetap manusia, dan manusia tetap punya sistem limbik (perasaan), pasti pernah bersalah, pasti beberapa kali terlihat tidak konsisten, pasti beberapa kali terlihat tidak dewasa. Kalaupun memang laki-laki yang kalian lihat benar2 busuk dalam arti terburuk kata itu, jangan dihina. Tolong dia. Para pria juga butuh pertolongan. Siapa bilang pria ga butuh pertolongan wanita? Dalam beberapa hal bahkan tanpa pertolongan wanita, pria akan kewalahan (para pria, akuilah ini, kalau tidak suatu saat kalian akan mengalaminya). Jangan berharap ada pria sempurna sepeti dalam cinderella lalu kalian hidup bahagia selamanya. Cinta sejati itu ditumbuhkan, bukan ditemukan. Kalau cinta sejati mencari seseorang yang sempurna, maka bukan kalianlah pasangannya.


Pria dewasa itu bertumbuh, bukan tiba-tiba muncul.. jadi jangan berharap pasangan kalian sempurna saat kalian menemukannya..Kalau ada bagian yang salah, tolong untuk bertumbuh, kalau kalian melihat ternyata semuanya salah.. Aq mempertanyakan penolongnya, mungkin yang salah bukan cuma yang ditolong, tapi penolongnya juga.

Semua dimulai dari pikiran. Para pria berpikir cara menjadi pria dari wacana masyarakat sekitar dan itu menghancurkan diri mereka sendiri. Para wanita berharap ada pria SUPER seperti wacana masyarakat tentang pria IDEAL, dan itu hanya berhenti pada mimpi mereka saja. Semua dimulai dari pikiran, dan pikiran kitalah yang perlu dirubah. Pria brengsek dan homo juga hanyalah wacana masyarakat yang salah tentang para pria. Pria memang banyak yang brengsek, tapi yang baik juga banyak. Satu statemen di atas menurut Yancey, satu-satunya yang benar dari stigma adalah stigma itu salah.

Saya akan menutup kisah ini dengan satu ilustrasi.

Dua biarawan menyusuri jalan berlumpur di tengah hujan deras. Ketika sampai di persimpangan, mereka menemui gadis cantik yang tidak bisa menyeberang. Salah satu biarawan berkata, ”Ayo, saya bantu.” Ia pun menggendongnya menyeberangi jalan berlumpur.
Melihat itu, biarawan yang lain diam merengut dan tidak berbicara hingga mereka sampai di tujuan. Karena tidak kuat lagi menahan, ia berkata, ”Kita, para biarawan, tidak boleh dekat dengan wanita. Itu berbahaya. Kenapa kamu melakukannya?” Biarawan yang satu menjawab, ”Saya sudah meninggalkan gadis itu di sana. Apakah kamu masih membawanya (dalam pikiranmu)?”
“Semua dimulai di pikiran..”

0 komentar:

Posting Komentar