Kamis, 16 September 2010

Dunia yang Kotak


Topeng-topeng berkeliaran? Ego berkelahi di dalam diri? Tidakkah semua orang merasakannya?



Memakai peran serius saat kuliah, peran bercanda saat diluar, pintar saat di sekeliling orang pintar, pura-pura menyukai diri sendiri, suci saat dilihat orang, telah lama dia kehilangan dirinya yang sebenarnya karena mengikuti kata orang-orang berpengaruh di sekitarnya. Mengkotak-kotakkan perilakunya dan orang lain dalam kategori yang belum ada saat dunia selesai diciptakan, mengkotak-kotakkan dunia menjadi sederhana dan melewatkan dinamikanya yang menakjubkan. Mengkotak-kotakkan jiwa manusia yang unik, original, dan penuh gejolak hanya dengan dua kata: benar dan salah! Kudus dan Dosa..



Kamu diterima jika dan hanya jika kotakmu sama denganku. Jika kamu suku X maka kamu kuterima, jika agamamu X maka aku menerimamu, jika kamu punya uang sejumlah X maka aku menerimamu, jika kelakuanmu memenuhi standar X atau setidaknya berusaha mencapainya maka aku menerimamu, jika kamu sependapat denganku maka aku menerimamu. Jika tidak, keluar dari sini dan gunakan topengmu. Aku tidak butuh mengenalmu.



Tertolak, terbuang, tertinggal, terhilang. Di sini banyak orang dengan sindrom kehilangan penerimaan tanpa syarat suatu bentuk kedewasaan tanpa model. Kesedihan yang diungkapkan lewat tangisan sendirian di kamar, kesedihan yang diungkapkan dengan melayani orang di sekitar, kesedihan yang diungkapkan dengan mendengarkan musik keras-keras, kesedihan yang diungkapkan dengan menjadi penting bagi orang lain. Topeng untuk membeli perhatian. Topeng yang harus digunakan supaya kamu diterima. Topeng suci.

Keluargamu menerimamu dengan syarat, sahabatmu menerimamu dengan syarat, temanmu menerimamu dengan syarat, kolegamu menerimamu dengan syarat, tetanggamu menerimamu dengan syarat, anjing peliharaanmu menerimamu dengan syarat, bahkan agamamu menerimamu dengan syarat.



Syarat yang harus kamu penuhi bahkan oleh lembaga yang menganggap dirinya suci. Hipokrit-hipokrit bermunculan hanya untuk memenuhi standar tertentu. Hipokrit muncul sebagai pahlawan yang membela diri mereka sendiri dengan luka parut yang dalam di jiwa mereka. Hipokrit yang menekan orang lain supaya sama dengan mereka, jika tidak jangan harap kamu diterima. Hipokrit yang berkeliaran dengan topeng baiknya. Hipokrit adalah para orang baik dalam arti terburuk kata itu.



Syarat juga harus dipenuhi bahkan di lembaga yang dipertemukan secara random. Keluargapun menerapkan syarat mengerikan dalam penerimaan. Kamu harus jadi dokter! Kenapa kakakmu pintar dan kamu bodoh ya? Kakakmu cantik/tampan, kamu kog jelek ya? Apa kamu bisa bertindak baik? Kenapa si kamu tu selalu salah? Apa kamu gak pernah dengar kata mama/papa? Ini semua buat kebaikanmu sendiri! Apa kata orang nanti kalau kamu begini terus? Mau ditaruh mana muka papa/mama kalau rekan papa/mama melihat kelakuanmu?



Dunia itu bulat, bukan kotak.



Dunia merindukan penerimaan tanpa syarat dalam bentuk paling mengerikan yang pernah ada. Berbahagialah mereka yang diterima tanpa syarat, dan berhati-hatilah mungkin penerimaan tanpa syarat yang Anda rasakan sebenarnya bersyarat, ketika Anda telah keluar dari syaratnya maka…Selamat tinggal…



-Tambahan sedikit. Kotak itu peninggalan jaman dulu, contoh: HP Nokia Kotak, Mobil bentuknya Kotak, TV kotak (sekarang uda ada TV borderless), Kotak itu jadul, waktunya beralih. Dunia tanpa batasan! Dunia tanpa Topeng, Dunia, iya dunia...-



Aku tidak perduli kamu dulu bagaimana. Apakah kamu dulu menyakiti Bapak, pemberontak, bahkan dulu kamu pernah mengutuk Bapak supaya Bapak cepet mati. Bapak ga perduli semua itu, kalaupun kamu nanti akan menyakiti Bapak lagi, atau kamu kembali jadi sejahat dulu lagi atau lebih buruk, Bapak tetap sayang sama kamu. Bapak akan mencari kamu dan ketika Bapak melihat kamu dari kejauhan , Bapak akan berlari dan memeluk kamu, seperti yang Bapak lakukan dulu. -Bapakku-

0 komentar:

Posting Komentar