Sabtu, 16 Juli 2011

Kehidupan itu Sukar

Buku adalah jendela dunia. Jendela yang terlihat di barisan rapi toko entah ada di Mal atau sekedar ruko atau bahkan emperan jalan. Tersaji dengan indah dengan janji manis yang tercetak tebal, besar dengan tinta berwarna menarik mata, “It’s time to Change”, “It’s Your Time”, “Rahasia hidup bahagia”, “Ubah hidup Anda dalam Lima menit”. “Kiat” praktis mengubah hidup Anda dengan sangat cepat, jauh lebih cepat dari cara Anda menciptakannya. Jendela menarik yang menyajikan rumput yang hijau di tempat tetangga, atau rumput tetangga memang selalu terlihat lebih hijau?


Seorang wanita melahirkan anak yang memiliki keterbelakangan mental, adakah “kiat” yang bisa menyingkirkan rasa sakitnya? Kemiskinan dan ketidak adilan terjadi, dan tetap tidak lenyap terlepas dari program-program terbaik kita, adakah “kiat” untuk mengatasinya? Anak-anak di daerah paling makmur menembaki teman teman sekelasnya di sekolah. Masalah perkawinan tidak terpecahkan. Kematian merenggut kita semua pada akhirnya, adakah “kiat” untuk mengatasi ini semua? Sederhana saja, menjadi manusia itu berbahaya bagi kesehatan. Tidak seperti malaikat, manusia terkena kanker, kehilangan pekerjaan, dan punya rasa lapar. Kita membutuhkan harapan untuk tertawa di tengah penderitaan sekaligus realisme di tengah pujian.

Pengharapan memberi kita kekuatan untuk memandang melewati keadaan yang tampaknya memutuskan asa. Pengharapan membuat para sandera bertahan hidup ketika mereka tidak memiliki bukti rasional bahwa ada yang perduli dengan kesengsaraan (bahkan kehidupan) mereka. Pengharapan membujuk petani untuk menanam benih setelah tiga tahun berturut turut kemarau panjang yang berujung pada gagal panen. Keraguan menyeruak keluar sebagai produk alami pikiran manusia. Pengharapan yang dilihat bukan lagi pengharapan.

Pegharapan menyuguhkan kepercayaan pada apa yang tidak bisa dibuktikan, hasil samping dari kesetiaan, mengabdikan diri pada kejutan dan misteri. Misteri bukan apa yang tidak kita mengerti tapi lebih banyak arti dari yang kita mampu mengerti.

Perjalanan hidup menyajikan begitu banyak alur, jalan memutar, rawa yang dalam, jalan buntu, dasar lembah yang curam, tebing yang terjal, gunung yang tinggi, yang semuanya (walaupun saya tidak ingin mengakuinya) sulit untuk dijalani. Saya berharap bisa lebih yakin dari sekarang, namun kehidupan lebih banyak menunjukkan perjalanan unik dan rumit. Kehidupan tentunya lebih rumit dari peta Jakarta. Peta tidak menjanjikan perjalanan akan mudah, namun membantu kita sampai ke tujuan.

Peta yang ditawarkan buku instant tentang “kiat” keberhasilan ataupun hidup bahagia tentunya memaparkan hal yang menarik untuk dipahami. Namun saya tidak bisa tidak penasaran tentang berapa banyak perjalanan yang hilang disana.

-Life is an adventure-

0 komentar:

Posting Komentar