Rabu, 31 Oktober 2012

Pria Sub Kultur Pahlawan

Air mata mengalir dari mata Vero, menandakan kesedihan dan frustasi yang mendalam disana. “Mengapa Kamu tidak bisa bersikap terbuka denganku?”, ungkapnya

Suaminya Eko, duduk di atas sofa hanya beberapa meter di depannya, menatap ke lantai dengan penuh perasaan tidak nyaman.

“Kita sudah menikah delapan tahun, Mas. Tapi aku merasa seperti menikahi orang asing. Aku sama sekali tidak mengenalmu”.
Dia menyeka kembali air matanya dengan selembar tissue. “Kita tak pernah bicara, sama sekali tidak.”, Vero meneruskan “Kamu pulang dari pekerjaan, kita makan malam, dan kamu langsung saja ke pekerjaan sampai waktunya tidur. Aku bertanya kepadamu tentang kabarmu, dan jawabanmu hanya ‘Baik’.

Kamu baik Mas, bermoral, tanggung jawab, pekerja keras. Tapi aku seperti menikah dengan orang asing. Dan aku udah ga tahan lagi seperti ini terus.”

Eko mengamati dengan penyesalan dan tak berdaya, sambil melihat air mata Vero yang bercampur dengan maskaranya yang telah luntur mengalir di pipinya.

Rahasia Pria yang paling dijaga ketat adalah kerinduan yang mendalam akan keakraban. Wanita mengira pria takut dengan keakraban, dan mereka benar. Pria diajar untuk selalu kelihatan kuat, dan karena itu kita takut untuk terlihat lemah. Namun yang tidak diketahui banyak wanita adalah kita mendambakan keakraban oleh emosional sama seperti mereka, bahwa kita ingin menurunkan jembatan gantung kehidupan dan mengundang mereka masuk ke tempat terdalam dimana banyak tersimpan ketakutan, harapan, dan impian disana. Namun itu menakutkan, dan dalam banyak kasus kita tidak tahu caranya karena belum pernah ada yang melakukannya di depan kita.

Beruntunglah para Pria yang mengerti cara berkomunikasi dengan baik pada para wanita, yang bisa mengutarakan perasaannya, bahkan mungkin memanipulasi wanita. Karena setidaknya beberapa wanita menyukai peran seperti ini. Setidaknya mereka bisa mengarang cerita yang sensasional, mempermainkan lidah mereka untuk merekayasa kejadian yang tak pernah ada sehingga meyakinkan, atau sekedar merasionalisasi kesalahan mereka sehingga terkesan benar. Mungkin juga mereka bisa mengumbar kata “Cinta” yang membuat para wanita bertekuk lutut. Namun apalah bedanya? Sebenarnya Pria ini juga adalah hasil subkultur kita yang menginginkan laki laki kuat tanpa kelemahan. Menjadikan wanita sebagai “Tongkat Ajaib” yang dapat mengubah dirinya dalam waktu sekejab, merasa menjadi laki laki ketika berhasil mendapatkan perempuan. Apa ini murni salah si Pria? Kalau mau jujur, saya juga akan menyalahkan sistem yang membentuk pria ini.

Para Pria dituntut menjadi bapak yang baik, pengumpul pundi pundi yang cepat, pekerja sosial yang murah hati, tetangga yang ramah, suami yang pengertian, dan semuanya diimbangi dengan sisi kuat tanpa bisa mengungkapkan emosinya. Laki kog rasa-rasa? Cowo ga boleh nangis?

Sangat wajar jika pencarian adrenalin bawah sadar membenturkan para pria ini pada jalan yang tidak tepat, pencarian seks dan wanita sebagai pengakuan kelaki-lakiannya.

Ibarat gelas berisi air yang dicampur dengan garam sampai titik jenuh, kehidupan para pria beruntung di zaman postmodern ini memaksa dirinya untuk meninggikan suhu sehingga garam masih bisa tercampur. Supersaturation, ya inilah yang terjadi. Terus hingga akhirnya suhu tinggi membentur tembok teratas, dan tambahan sedikit garam saja akan merusakkan seluruh sistem.

Bersyukurlah karena kalian adalah pria di sub kultur pahlawan. Kalian sangat “beruntung”.

0 komentar:

Posting Komentar