Kamis, 21 November 2013

Tamu Dari Belanda

Hari ini saya kedatangan dokter kompre tamu dari Belanda. Entah dari universitas mana, kota mana, bahkan namanya siapapun saya ga bisa sebut, ternyata bahasa belanda kaya kumur kumur, susah.

Hari ini kebetulan dokter penanggung jawab kusta sedang berhalangan, jadi saya ditunjuk untuk menemani mereka jalan jalan di rumah sakit kusta sambil melihat pasien. Tujuan utama mereka kesini adalah belajar tentang kusta, maklum di Belanda tidak ada kasus kusta seperti disini. Mereka hanya pernah membaca teori dan mendengar saja, tanpa mengerti bentuk kusta. Sedangkan di negara kita tercinta ini, kusta bukan barang langka, setiap hari saya melihat pasien kusta, bahkan tanpa takut tertular lagi.

Kami berkeliling bangsal di rumah sakit kusta, ada yang khusus kusta dengan luka, kusta dengan reaksi, bangsal inventaris (semacam rumah inap bagi pasien kusta yang sudah tidak diterima lagi di keluarganya), fisioterapi dan protesa ortesa. Dengan bermodal bahasa inggris yang pas pasan, dan untungnya mereka bisa bicara sedikit bahasa indonesia, dimulailah perjalanan yang mengerikan hari ini.

Berkeliling bangsal bukanlah hal yang mudah lagi, karena harus disertai dengan cerita dan kebingungan translate bahasa. Lebih mudah jika menggunakan bahasa inggris untuk komunikasi sehari hari, tapi untuk terminologi kedokteran? Ga kebayang gimana susahnya kan? Pertanyaan sederhana tentang success rate, reaksi kusta, pengobatan kusta, jenis kusta, jadi agak sulit karena harus berpikir dua kali, terutama berpikir translate ke bahasa inggrisnya.

Dari bangsal ke bangsal terlihat sekali curiosity dokter dokter ini. Persis seperti saya melihat anak SD polos yang masih mau belajar, berbeda dengan mahasiswa kita yang terkesan acuh tak acuh. Jelas ini ada hubungannya dengan pola didik bangsanya. Di Indonesia anak SD dididik untuk mematikan kreativitasnya, belajar tentang apa bukan mengapa, menghafal tanpa tau maknanya, diajari apa yang harus diketahui bukan mencari tahu sendiri, yah sekolah kita sendirilah yang membodohi anak anak. Disana kreativitas, rasa ingin tahu, kesalahan dalam belajar menjadi poin plus, disini semua itu ditekan habis. Dan jadilah dokter yang penuh rasa penasaran dan bersemangat bertemu dengan saya yang datar dan biasa.

Dari mereka saya melihat bahwa kemampuan diagnosis dokter luar negri dengan dokter lokal tidak berbeda, bahkan di beberapa poin kita lebih unggul. Hanya saja perbedaan alat dan teknologi menjadikan dunia kesehatan di negara eropa dan amerika lebih baik, dan itu yang perlu kita kejar. Sumber daya manusianya cukup, alat tidak ada, APBN terbatas, pengobatan digratiskan, nah lalu uang dari mana buat mendatangkan teknologi baru?

Ah kok malah jadi curhat? Ya intinya begitu, mereka sangat antusias belajar tentang infeksi tropis, yang mana adalah makanan sehari hari dokter indonesia. Kalau dokter luar aja belajar, yuk dokter lokal juga kita belajar demi indonesia yang lebih sehat :)
 

0 komentar:

Posting Komentar