Minggu, 15 Desember 2013

Psikoneuroimunologi Stress


Stres adalah respon tubuh nonspesifik terhadap tuntutan apa saja. Faktor yang menyebabkan stres disebut stresor. Stresor dapat berupa faktor internal atau eksternal atau stimuli yang mengakibatkan stres, seperti faktor fisik, biologis, lingkungan, situasi, kejadian, peristiwa dan spiritual. Stres internal atau stres subjektif disebabkan oleh interaksi pikiran dan tubuh, misalnya bagaimana kita memandang makna sebuah situasi. Stres eksternal adalah peristiwa atau kejadian yang dipandang atau dirasa sebagai stresor, contohnya kematian pasangan hidup, perceraian, luka atau sakit.


Stres dibagi menjadi tiga:

1. Eustres
Stres jangka pendek yang memberikan kekuatan, bersifat menantang namun masih dapat dikendalikan. Eustres juga meningkatkan antusiasme, kreativitas, motivasi, dan aktivitas fisik. Contoh: kompetisi.
2. Distres
Stres yang dipandang atau dirasa terlalu berat dan sulit untuk diatasi, sehingga sering merasa terjebak dan tidak bisa keluar dari permasalahan.
3. Hyperstres
Bila seseorang didorong keluar melampaui batas kemampuannya bertahan dan mengatasi tekanan. Muncul sebagai akibat dari kondisi beban lebih (overload) atau bekerja keras. Saat terjadi hal ini, bahkan stimulus terkecil dapat memunculkan respon emosi yang sangat kuat.
4. Hypostres
Saat seseorang merasa hidupnya monoton, tidak ada tantangan dan membosankan. Sering tidak bersemangat, gelisah, apatis.

FUNGSI OTAK DAN STRES

Di subcortex terdapat dienceaphalon yang terdiri dari ganglia basalis, thalamus, dan hipotalamus. Diencephalon ini mengatur emosi seperti takut, benci, gairah, marah dan euforia. Jika tidak terdapat jaras desenden dari korteks, maka seseorang akan cenderung beraksi secara tak terkendali dengan emosi yang ekstrim. Di wilayah ini, hipotalamus yang sangat penting dipelajari untuk bisa memahami respon tubuh terhadap stres dalam kaitannya terhadap HPA Axis.

SISTEM ENDOKRIN DAN STRES
Dalam merespon stres, sistem saraf simpatik aktif bekerja sama dan berkoordinasi dengan sistem endokrin. Reaksi stres pada tingkatan seluler bersifat menyebar, menyeluruh dan bersifat serius. Takut, misalnya, memicu lebih dari 1400 reaksi stres fisik dan kimiawi, mengaktifkan lebih dari 30 hormon dan neurotransmitter yang berbeda.
Seluruh sistem respon fisik melibatkan, terutama, epinefrin dan norepinefrin. Kedua hormon ini memiliki efek yang dramatis pada saraf simpatik selama masa stres yang intens.
Stres >> (HPA Axis)  hipotalamus mengeluarkan CRH >> Hipofisis mengeluarkan ACTH >> adrenal mengeluarkan kortisol. Hans Selye (sayangnya tahun 1984) merupakan peneliti pertama endokrin dan stres mengatakan bahwa terdapat hubungan antara stres emosi dan penyakit. Emosi seperti marah, takut, sedih, bersalah menyebabkan kelenjar hipotalamus terstimulasi berlebih dan kelenjar adrenal membesar. Selanjutnya akan dibicarakan soal dua hormon stres penting: adrenalin dan kortisol

ADRENALIN DAN KORTISOL
Menurut waktu kerjanya, adrenalin memiliki waktu kerja yang singkat sementara kortisol punya momentum besar dan bekerja untuk waktu yang lama. Sistem stres menjadi aktif bila otak memandang bahaya atau ancaman dalam bentuk apapun. Di awal, akan terjadi pelepasan adrenalin sehingga sistem saraf simpatis tereksitasi. Respon ini dipandang sebagai fight atau flight.
Adrenalin adalah hormon stres yang menghasilkan perasaan semangat yang intens, mengahasilkan kondisi “puncak” sama kuatnya dengan narkoba. Jumlah adrenalin yang meningkat dapat membuat orang merasa hebat, kuat, dan memiliki banyak energi, hanya butuh sedikit tidur, dan cenderung merasa semangat dan antusias. Banyak profesional yang menyukai pekerjaan yang menantang dengan kadar stres yang tinggi dapat menjadi ketagihan pada stres. Mereka sebenarnya bukan ketagihan pada tantangan, namun pada aliran adrenalin.
Adrenalin membuat otak fokus, menajamkan pandangan, tekanan darah dan denyut jantung meningkat, dan mengkontraksi otot otot sebagai persiapan untuk mekanisme fight or flight. Hal ini terjadi karena dalam mekanisme fight atau flight tubuh membutuhkan tenaga lebih besar, sehingga darah lebih banyak dialirkan, sehingga darah dari kulit, sistem pencernaan, dialihkan ke otot tungkai.
Saat stres berlangsung lama, membuat hormon ini terpompa terus menerus dalam tubuh. Misalnya jika seseorang memendam terus menerus perasaan marahnya. Keadaan ini akan mengakibatkan tubuh toleran terhadap adrenalin.
Namun jika level kortisol dan adrenalin mulai menurun maka akan terjadi efek negatif dari turunnya hormon stres ini. Bisa saja seseorang merasa tidak nyaman, gelisah dan timbul berbagai pikiran negatif. Ini penting untuk diketahui, kita hanya merasa kondisi negatif ini SAAT tubuh kita bergerak menuju kondisi yang lebih rileks.

0 komentar:

Posting Komentar