Kamis, 09 Januari 2014

Laundry dan Hidup

Bagi yang kuliah di sekitar kampus, pasti tahu betul betapa menjamurnya usaha yang satu ini. Iya betul, apalagi kalau bukan laundry.  Di  setiap jalan besar, gang, tikungan, bahkan di jalan buntu sekalipun usaha ini muncul terus menerus bak koruptor. Uniknya, saya belum pernah melihat ada usaha laundry yang bangkrut, makin menjamur iya. Coba kita melihat lebih dekat, apa si yang dicari oleh para pengguna jasa laundry ini?


Kata mereka penggunanya, laundry jadi pilihan karena menghemat waktu. Sehingga waktu untuk mencuci yang berjam jam itu dapat digunakan untuk hal yang lebih penting, mengerjakan tugas misalnya. Ada juga yang beralasan, tinggal taruh pakaian kotor, bayar, dan secara ajaib pakaian tersebut jadi bersih kembali, menunggu kita kotori lagi. Ada juga yang secara jujur menjawab, malas mencuci, dan memang tidak terbiasa mencuci, daripada mencuci tapi masih kotor lebih baik dilaundry. Ada juga yang masih agak baik, melaundry jika perlu saja. Jika benar benar lelah, benar benar sibuk, atau alasan logis lainnya. Di luar sana, masih banyak alasan lain yang tidak tercantum kenapa seseorang melaundry pakaiannya.

Bicara tentang alasan orang melaundry, sebenarnya ada satu kesamaan: instan. Tinggal taruh, ga usah repot, pakaian bersih kembali. Jika dilihat secara jujur dengan orang yang mencuci sendiri, sebenarnya tidak terdapat perbedaan yang ekstrim pada waktu yang dimiliki pencuci mandiri dan pelaundry. Pencuci mandiri tetap bisa tidur siang, main futsal, main game, ngedate, ngopi, ngerjain tugas, belajar dan segudang aktivitas lainnya, persis seperti para pelaundry. Lalu, dimana bedanya?

Ingat pelaundry saya jadi ingat perilaku yang serupa. Kita masyarakat yang sudah disuguhi berbagai macam budaya instan. Kita mau segala sesuatunya bisa tinggal taruh, bayar, ditinggal, dan kemudian secara ajaib semua telah selesai. Dan ini tercermin dari banyak cara kita bertindak. Contoh nyata untuk urusan kesehatan. Berbulan bulan tidur seenaknya, begadang, makan makanan ga sehat, ditambah jadwal makan yang berantakan dan kemudian secara tiba tiba kita jatuh sakit. Di saat sakit kita pergi ke dokter, dan kita mau obat yang dalam sekali minum dapat membuat tubuh langsung merasa lebih baik. Berbulan bulan merusak tubuh sendiri, lalu menginginkan pil ajaib untuk kesembuhan, sangat instan bukan?

Kita keracunan semua yang instan bukan hanya soal kesehatan dan pencucian, tapi sampai urusan kehidupan pribadi. Kita tidak belajar soal bagaimana membangun hubungan yang sehat, tidak belajar tentang bagaimana cinta bekerja, kemudian secara kebetulan kita bisa memulai sebuah hubungan. Kemudian kita warnai hubungan yang kebetulan kita miliki ini dengan drama, rengekan manja, kecemburuan, kode kode ga jelas, hingga akhirnya pasangan kita lelah. Di tengah kondisi seperti ini pasti kita ingin duduk berdua, tanpa bicara banyak kemudian pasangan kita secara ajaib mengerti semua kondisi kita dan masalah selesai. Voila!

Kita keracunan bahkan sampai ke diri kita yang terdalam. Kita tidak lagi belajar untuk bertarung, memilah pakaian kotor yang berwarna dan putih, memilih mana yang harus dicuci dengan tangan dan yang bisa dengan mesin. Tidak lagi merasakan lelah dan sehatnya mengucek, membilas dan mengeringkan pakaian dengan tangan sendiri. Kita membiarkan diri kita menyerahkan cucian kita dicuci oleh orang lain untuk kemudian kita kotori lagi.

Sebenarnya agak wajar si kalau menemukan usaha laundry banyak di dekat kampus. Banyak mahasiswa yang mengaku sibuk, tidak punya waktu, dan segudang alasan lainnya untuk tidak mencuci. Tapi bahkan di desa sayapun laundry sudah punya pelanggan lho. Unik dan sangat mengejutkan, karena budaya ini terus menjamur.


Tapi saya tetap memutuskan untuk mencuci sendiri kok, yuk mencuci. Salam sadar J

0 komentar:

Posting Komentar