Minggu, 26 Januari 2014

Post Traumatic Stress Disorder

Trauma psikis seringkali dianggap sederhana dan sepele di komunitas kita. Seakan yang dianggap penyakit itu hanyalah stroke, serangan jantung, diabetes, kanker, sedangkan stress itu milik orang lemah dan tidak beragama. Orang akan dengan sangat bangga bercerita ke tetangga tetangga bahwa dia menderita penyakit jantung (padahal sudah sembuh), dan akan menutup diri bahkan tidak mau berkunjung ke psikiater jika mengalami stress berkepanjangan. Kurang lebih begitulah stigma yang ada di masyarakat.

Melalui tulisan ini saya mau mengajak melihat, bahwa tubuh dan pikiran adalah sebuah sistem. Salah satu saja terganggu maka kesemua sistem terganggu. trauma psikis adalah penyakit, sama beratnya dengan diabetes, sama sama mengganggu kehidupan dan meningkatkan angka kesakitan dan kematian.
Post Traumatic Stress Disorder/ stress pasca trauma adalah sebuah sebuah gangguan karena reaksi maladaptif terhadap suatu pengalaman traumatis. Pengalaman traumatis ini merupakan kejadian luar biasa yang dianggap mencekam, mengerikan dan mengancam jiwa, korban perkosaan, korban kecelakaan hebat dan orang orang yang telah menjadi sakti dari hancurnya rumah dan lingkungan oleh bencana alam, atau oleh bencana teknologi.
Gangguan stress pasca trauma ini dapat berlangsung berbulan bulan atau sampai bertahun tahun dan bisa saja baru muncul setelah beberapa tahun kejadian tersebut dilami. Seseorang didiagnosia PTSD bila setelah periode waktu tertentu, ia tidak dapat kembali ke fungsi sebelumnya dan terus terganggu oleh pengalaman tersebut.
Diagnosis baru dapat ditegakkan bila PTSD ini timbul dalam waktu 6 bulan setelah kejadian trauma berat. Gejala yang harus muncul sebagai bukti tambahan selain trauma adalah:
  1. Individu tersebut mengalami mimpi mimpi atau bayang bayang dari kejadian traumatik secara berulang ulang (flashback)
  2. Muncul gangguan otonomik (berdebar debar, gelisah, cemas, keringat dingin), gangguan perilaku dan emosi, jika teringat dengan kejadian traumatis

Hal ini jika terjadi terus menerus akan mengganggu kehidupan seseorang dan menjadikan tidak produktif. PTSD juga berhubungan dengan kejadian functional somatic syndrome, termasuk di dalamnya fibromialgia, nyeri menyeluruh, sindrom kelelahan kronis, irritable bowel syndrome. Stress setelah trauma bukan hanya akan mempengaruhi pikiran, namun akan memicu penyakit lain.
Solusi terbaik jika mengalami kejadian traumatis adalah konsultasikan pada psikiater atau psikolog klinis terdekat. Banyak pendekatan dapat dilakukan dalam menangani kasus PTSD, seperti di bawah ini
1.Terapi perilaku melalui proses yang melibatkan imajinasi dari peristiwa yang memicu pengalaman traumatik dan bersamaan dengan terapi relaksasi. Dengan pendekatan ini, pasien akan belajar menanggulangi rasa takutnya pada pemicu trauma.
2.Terapi kognitif dengan cara pasien bercerita, hal ini akan membantu pasien mengurangi intensitas emosi dari kenangan buruk masa silam. 
3.Terapi psikodinamik dengan memaparkan kembali pasien terhadap peristiwa traumatik namun dengan resources yang lebih mendukung. Dengan pendekatan ini, pasien akan mengerti perasaan baik sadar maupun bawah sadar terhadap peristiwa yang mempengaruhinya tersebut dan belajar menerima keadaannya.
4.Farmakoterapi dengan pemberian obat obatan dapat membantu untuk mengurangi gejala PTSD.  

Pendekatan hipnoterapi sendiri pada kasus PTSD adalah sebagai berikut:
1. Mengenali kejadian traumatis yang dialami pasien lewat proses hipnosis. 
2. Lewat proses hipnosis, pasien kembali pada saat dia pertama kali mengalami kejadian traumatis, dan menyelesaikan masalahnya di masa tersebut.
3. Menggali resources atau sumber daya yang ada dari saat ini untuk menyelesaikannya sekarang dan menjalani kehidupannya masa sekarang
Banyak pendekatan bisa dilakukan untuk mengatasi PTSD. Namun yang perlu diingat, kasus PTSD tidak akan selesai dengan didiamkan bahkan akan semakin memburuk. Maka carilah pertolongan ketika merasa terjadi gangguan pasca trauma.

0 komentar:

Posting Komentar