Rabu, 12 Februari 2014

Depresi Pada Anak

Anak yang mengalami depresi akan mengalami banyak hambatan dan kesulitan dalam kesehariannya. Orang tua sering menganggap remeh penyakit yang satu ini, menganggap keadaan ini akan menghilang dengan sendirinya. Jika tidak menghilang anak akan ditunding kurang beragama, kurang percaya Tuhan, ga beriman, dan tudingan ga membangun sejenisnya. Memang beragama mempengaruhi kemampuan seseorang mengendalikan stress dan pada akhirnya mengurangi angka depresi, namun menuding anak kurang beragama itu tidak menyelesaikan masalah dan sama saja menyiksa anak anda.

Depresi pada orang dewasa dapat terlihat tanda depresi mayor seperti: anhedon (tidak ada kesenangan lagi dalam melakukan apapun), anergi (tidak bersemangat, lemah, lelah), afek depresif (wajah yang tampak murung). Dapat juga diikuti dengan gejala minor seperti penurunan berat badan dan nafsu makan, ide berulang tentang bunuh diri, sulit tidur, jika gangguan ini terjadi pada waktu minimal dua minggu, maka dapat dikategorikan sebagai depresi.

Depresi pada anak memiliki gejala yang berbeda, perlu kepekaan orang tua untuk mengenali tanda depresi pada anak dan melakukan tindakan. Berikut ini adalah tanda-tanda apabila seorang anak mengalami depresi:
  1. Uring-uringan dan gampang marah, ini adalah gejala yang paling umum dari anak yang depresi. Bahkan dalam beberapa kasus sering terjadi ledakan amarah.
  2. Terdapat rasa sakit atau nyeri tanpa didapatkan kelainan medis. Apabila seorang remaja merasakan sakit kepala, sakit perut, dan keluhan lain yang tak nampak secara fisik penyebabnya dan tak menunjukkan masalah medis. Maka kemungkinan si anak mengalami depresi.
  3. Peka terhadap kritik, seseorang yang sensitif terhadap kritikan terkadang normal. Akan tetapi bila seorang remaja terlalu marah ketika dikritik, bisa jadi remaja tersebut sedang mengalami depresi.
  4. Berkumpul dengan kenalan-kenalan baru, jika seorang remaja menjauhi teman-teman lama, keluarga dan sahabat kemudian lebih sering berkumpul dengan komunitas yang baru dikenalnya, ada kemungkinan si anak sedang depresi.
Jika anak tiba tiba meminta periksa ke psikiater, jangan remehkan atau kaget. Biasanya beberapa anak memiliki insiatif dan keberanian untuk memeriksakan diri ke psikiater. Orang tua hendaknya tidak menghalangi dengan menganggap hal ini sepele. Beberapa orang tua mengambil sikap denial, hal ini justru merusak anak semakin jauh. Anak sudah merasa ada gangguan namun orang tua yang egois dan tak ingin harga dirinya terluka membiarkan anak tersiksa sementara mereka hidup pura pura tenang. Orang tua juga tidak perlu merasa bersalah atau bingung, karena anak dengan kesadaran tinggi seperti ini menunjukkan kemampuan mengenali diri yang baik. Namun jika tidak ditanggulangi tentunya depresi pada anak ini akan merusak kehidupannya lebih jauh lagi.

Berbeda halnya pada anak yang lebih kecil. Depresi dapat mulai terjadi pada bayi usia 4 bulan, biasanya terjadi karena kehilangan ibu dalam bentuk fisik maupun emosional. Pada anak kecil depresi dapat terlihat dengan kasat mata, biasanya anak bicara monoton, datar dan kehilangan minat akan sesuatu. Anak tak lagi tertarik bermain dan hanya suka menyendiri. Meski demikian, ada juga anak yang justru tampil nakal, hiperaktif dan ofensif untuk memperlihatkan depresi. Depresi pada anak dapat mengakibatkan gangguan perkembangan, pada bayi bahkan dapat mengakibatkan kematian.

Anak yang menderita depresi sebagian besar diakibatkan faktor lingkungan dan jarang sekali yang disebabkan faktor genetik. Anak anak yang mengalami depresi melihat diri sendiri dan lingkungan sebagai hal yang buruk. Anak merasa bahwa orang tuanya tidak lagi sayang dengannya, dirinya telah bersalah karena menyebabkan orang tuanya tak sayang lagi. Atau disebabkan memori yang masih melekat tentang perlakuan orang tua pada mereka. Pada fase awal anak akan menyalahkan diri sendiri namun kemudian akan menyalahkan orang di sekitarnya. Anak akan merasa buruk, merasa tidak layak dicintai, layak hidup sendiri.

Depresi pada anak tak boleh dianggap sepele. Pada banyak kasus hal ini akan berkembang menjadi sesuatu yang lebih buruk. Kenakalan remaja, pemberontakan, masalah studi, hingga bunuh diri dimulai dari keadaan ini. Jika anak mengalami depresi, sesegera mungkin konsultasikan pada psikiater atau psikolog klinis terdekat untuk mengatasinya. Jangan ragu untuk meminta tolong tenaga profesional.

0 komentar:

Posting Komentar