Kamis, 20 Februari 2014

Gangguan Konversi

Seorang remaja perempuan datang ke IGD masih dengan pakaian seragam SMP lengkap dalam keadaan pingsan. Kejadian bermula ketika remaja ini olah raga, upacara, malam pelantikan, di tempat keramaian tiba tiba remaja ini pingsan, atau bisa didahului dengan gejala "ayan". Bisa juga berupa remaja ini terdiam membeku, tidak bicara, mata hanya terfokus pada satu tujuan. Hal ini bisa dipicu sebuah masalah atau bahkan muncul secara tiba tiba.

Mereka yang bekerja di IGD pasti sering menghadapi pasien seperti ini. Dan dari pengalaman saya, banyak pasien ini disepelekan dan hanya dianggap "psikosomatis", titik, tanpa ada penanganan memadai. Apa si sebenarnya gangguan ini? Bagaimana mengatasinya? Mari kita bahas secara singkat disini



Menurut DSM IV gangguan di atas digolongkan sebagai gangguan konversi, yaitu gangguan yang ditandai oleh satu atau lebih gejala neurologis (kelumpuhan, kebutaan, kebas) yang tidak dapat dijelaskan oleh gangguan neurologis dan tidak terjadi secara disengaja. Diagnosis gangguan ini juga mengharuskan faktor psikologis yang mencetuskan awal gejala. Dahulu gangguan ini lazim disebut histeria, reaksi konversi atau reaksi disosiatif.

Istilah gangguan konversi pertama kali diperkenalkan oleh Sigmund Freud, bapak psikoanalisa, yang menghipotesiskan gangguan ini sebagai reaksi terhadap konflik bawah sadar. Secara sederhana bisa dijelaskan seperti ini: Pasien mengalami kejadian yang traumatis, dan tidak diterima serta ditangani dengan baik sehingga menjadi awal mula pencetus gangguan konversi. Konflik dan kecemasan tidak dapat diterima oleh ego sehingga terjadi represi kejadian traumatis tersebut. Oleh karena suatu hal, kecemasan ini meningkat dan mengancam untuk muncul ke kesadaran, sehingga untuk mengatasinya, bawah sadar secara otomatis "mengkonversi" kecemasan ke dalam gejala fisik. Hal ini akan mengurangi kecemasan dan membuat pasien mengatasi konfliknya dalam bentuk lain (simbol fisik). Keuntungan sekunder (secondary gain) yang didapatkan pasien dalam keadaan seperti ini: perhatian dari banyak pihak, simpati, kesempatan untuk lari dari tanggung jawab, pemaafan atas sebuah kejadian, dsb.

Jika pemeriksa jeli, maka dapat terlihat bahwa gejala konversi merupakan simbol dari sebuah masalah yang intrapsikis yang dialami pasien. Gejala kelumpuhan, pingsan, kebutaan, kejang, merupakan simbol yang memiliki makna dari bawah sadar. Dan ketrampilan untuk mengetahui makna simbol ini menjadi penting untuk membantu pasien menyelesaikan masalahnya.

Angka kejadian ini sekitar 20% di masyarakat umum. Di usia dewasa muda, perempuan dua kali lebih banyak mengalami kejadian ini ketimbang laki laki. Pada usia remaja perempuan lima kali lebih sering mengalami gangguan konversi. Oleh karena itu pada jaman dahulu gangguan ini disebut histeria, "his" artinya uterus/rahim.

Gejala konversi secara nonverbal berfungsi untuk mengendalikan atau memanipulasi orang lain. Sehingga pada pemeriksaan, usahakan jangan terlalu banyak orang disana, apalagi sampai penuh dan terlihat panik, gejala pasien akan lebih lama berhenti. Gejala konversi sering terjadi pada individu dengan ciri kepribadian histrionik, yaitu manja, ingin jadi pusat perhatian, mendambakan rabaan erotis, dan suka mendramatisir masalah.

Penanganan gangguan ini bisa dengan asosiasi bebas ataupun hipnoterapi. Pendekatan ini dipilih karena dengan cara ini pasien dapat dengan mudah mengerti maksud bawah sadar dalam memberikan gejala, serta melakukan edukasi pada bawah sadar untuk memilih pola lain dalam menghadapi kecemasan. Hipnosis diri dan relaksasi dapat membantu untuk mencari makna dari sebuah kejadian, memberi arti dari sebuah tragedi, dan mampu mengenali bawah sadar sendiri. Namun teknik ini perlu dilakukan oleh seseorang yang terlatih.

Walaupun bukan gangguan organik murni, pengobatan dengan antidepresan golongan SSRI memiliki manfaat dalam penanganan kasus konversi. Tidak semua gejala psikiatri diobati dengan golongan benzodiazepine. Gangguan konversi tetaplah sebuah gangguan, seperti DM, hipertensi, stroke, mari kita tatalaksana secara tepat.

0 komentar:

Posting Komentar