Selasa, 25 Maret 2014

Depresi Terselubung

Depresi terselubung, mungkin banyak dari kita yang baru mendengar istilah ini, makanan jenis apa si depresi terselubung itu? Yang biasanya orang orang tahu, depresi ya karena stress, orangnya murung sedih, tidak bergairah, nafsu makan menurun, kesenangannya menghilang, jam tidurnya berkurang karena sulit tidur, tidak punya tenaga dan terus menerus kelelahan, wajahnya murung terus. Yah, ini gambaran umum depresi memang, walau tidak selamanya demikian.

 Jadi apa itu depresi terselubung? Depresi terselubung (masked depression) termasuk dalam depresi atipikal, dimana keluhan fisik dan perubahan perilaku lebih dominan daripada gangguan mood .Biasanya pasien seperti ini datang ke dokter dengan gejala fisik yang menonjol. Nyeri kepala, sakit lambung, nyeri tulang belakang, leher kaku. Walaupun akhir akhir ini konsep depresi terselubung sudah tidak lagi digunakan oleh banyak klinisi.

Banyak dari pasien pasien seperti ini datang tanpa gangguan perasaan. Pasien tidak mengeluhkan stress, dan memang tidak merasa stress. Karena depresi memang tidak selalu terkait dengan stress eksternal. Sehingga sebagai klinisi perlu cermat dalam menangani pasien seperti ini. Stress yang sudah terlalu lama dan terkompensasi dengan baik mungkin saja tidak lagi dirasakan secara sadar oleh pasien, tapi konflik bawah sadar yang terus menerus berjalan akan membuat hari hari pasien terus terganggu.

Harus diakui sulit mendiagnosis depresi ketika pasien datang dengan keluhan "saya nyeri punggung" dan kemudian beralih dengan "saya nyeri dada". Keluhan yang tidak khas seperti ini oleh klinisi biasanya dicoba ditangani sesuai gejalanya, dan memang tidak salah dan harusnya demikian. Namun kita tidak boleh lupa, pada nyeri yang terus menerus beralih tetap jangan lupakan gangguan psikiatri.

Selain gejala fisik, depresi juga bisa ditutupi dengan banyak hal, misalnya:
Hidden/Tersembunyi: "Saya orang yang sangat sibuk, tidak sempat dengan aktivitas sosial" atau "Saya sangat suka bersosialisasi, saya tidak suka kesendirian" 
Faked/Palsu: "Saya hanya sedikit stress" 
Displaced by Anger/Marah: "Saya ga kenapa kenapa! Tinggalkan saya sendiri" 
Masked by Addiction/Kecanduan: Obat, Alkohol, Makanan, Sex, Pornografi, "Ya, saya cuma make kalo lagi butuh aja. Gapapa."
Ketika depresi menjadi terselubung, sulit bagi kita (dan pasien) untuk menyadari bahwa dia depresi. Dalam pikiran pasien, bisa saja lingkungannyalah yang salah, istri yang selalu menuntut, suami yang selalu tidak bisa mengerti, anak yang selalu nakal, bos yang selalu menekan, rekan kerja yang selalu menyebalkan, perkerjaan yang membosankan, semua masalah seakan ada di luar dirinya. Ketika semua hal dalam dirimu seakan disebabkan oleh orang lain, ssstttt tenang dulu, kemungkinan besar masalahnya justru ada dalam dirimu sendiri.

Sulit untuk mengobati seseorang, kalau dia tidak mau mengakui penyakitnya. Sulit juga untuk kita menjadi sembuh, kalau kita tidak mengakui kita sedang terluka. Ya, mungkin bukan sekitar kita penyebab masalahnya, mungkin kita yang membiarkan diri kita terluka terlalu lama. Salam sadar :)

4 komentar:

  1. Bagai mana cara mengatasi depresi terselubung dok

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bisa dengan mengatasi masalah yang mendasarinya. Namun jika kita tidak mampu mengetahui masalah yang mendasari, tidak mampu pula mengatasi perasaan yang mengganggu, atau jika itu sudah terlalu lama dan mengikutsertakan gejala fisik, segera hubungi psikiater terdekat untuk berkonsultasi

      Hapus