Rabu, 12 Maret 2014

Kapan Minum Antibiotik?

Semua pembaca tentu pernah meminum obat jenis ini. Sepertinya bahkan untuk mendapatkan obat jenis ini di apotek bukan sebuah kesulitan. Ada yang hanya belasan ribu rupiah hingga ratusan ribu rupiah. Uniknya, seringkali bayi panas satu haripun di puskesmas sudah diberikan amoksilin, atau anak diare baru dua kali sudah diberikan antibiotik. Ada juga paramedis non dokter yang dengan mudahnya memberikan antibiotik. Dapat dibenarkankah ini? Bagaimanakah perilaku yang benar meminum antibiotik? Apa saja pedoman umum memberikan antibiotik yang aman? Mari kita simak penjelasan selengkapnya


Antibiotik itu adalah senyawa, baik sintetik maupun alami yang punya sifat membunuh atau menghentikan aktifitas bakteri. Bekerja secara spesifik pada suatu proses, dan mempengaruhi bakteri jenis tertentu. Jadi sebuah antibiotik digunakan hanya untuk jenis bakteri bakteri tertentu yang memang diindikasikan. Perlu diketahui, penggunaan antibiotika umumnya ditujukan untuk mengatasi infeksi bakteri, bukan untuk infeksi virus ataupun jamur. Begitu juga bukan untuk mengatasi demam satu hari, karena kemungkinan besar hal itu bukanlah indikasi pemberian antibiotik.

Antibiotik bisa diklasifikasikan berdasarkan mekanisme kerjanya,yaitu:
1. Menghambat sintesis atau merusak dinding sel bakteri: seperti beta laktam (penisilin, sefalosporin, monobaktam, karbapenem, inhibitor beta-laktamase), basitrasin, dan vankomisin.
2. Memodifikasi atau menghambat sintesis protein, misalnya aminoglikosid, kloramfenikol, tetrasiklin, makrolida (eritromisin, azitromisin, klaritromisin), klindamisin, mupirosin, dan spektinomisin.
3. Menghambat enzim-enzim esensial dalam metabolisme folat, misalnya trimetoprim dan sulfonamid.
4. Mempengaruhi sintesis atau metabolisme asam nukleat, misalnya kuinolon, nitrofurantoin.

Karna fungsi yang spesifik, yang perlu dicari bukanlah obat dengan dosis tertinggi ataupun jenis terbaru. Namun antibiotik dengan jenis yang paling tepat sesuai dengan sumber infeksi. Infeksi bakteri memiliki gejala gejala yang khas, dan itu yang dinilai oleh dokter sebagai pertimbangan untuk memberikan antibiotik. Misalnya pada batuk pilek, jika dahak yang dikeluarkan sudah berwarna hijau, atau sudah lebih dari 1 minggu, kemungkinan sudah ada bakteri dan diperlukan antibiotik. Atau jika saat buang air kecil dirasakan panas, tubuh demam, mungkin dibutuhkan antibiotik. Dan banyak jenis penyakit serta pertimbangan dalam pemberian antibiotik.

Mengingat kompleksnya pertimbangan jenis antibiotik dan jenis bakteri yang menyerang, interaksi antar obat, kemanan obat, dan lain sebagainya, sangat tidak bijak jika antibiotik ini dibeli sendiri secara bebas oleh masyarakat. Lemahnya pengawasan pemberian antibiotik, tuntutan masyarakat, bahkan tidak jarang masyarakat sendiri yang meminta walaupun tidak sesuai indikasi, menjadikan konsumsi antibiotik tidak lagi rasional, bahkan cenderung abusive.

Sebagian besar infeksi sebenarnya berasal dari virus dan tidak perlu pemberian antibiotik. Batuk pilek, demam, sakit tenggorokan, sebagian besar berasal dari virus. Tidur cukup, makan bergizi dan istirahat, serta minum obat obatan warung sebenarnya cukup untuk mengatasi infeksi virus. Virus tidak bisa dibunuh oleh antibiotik, satu satunya yang bisa membunuh virus adalah daya tahan tubuh kita sendiri. Oleh karenanya, istirahat dan makan cukup diperlukan dalam kondisi seperti ini.

Lalu kapan antibiotik diperlukan? Pada sakit sehari hari seperti batuk pilek, antibiotik baru boleh diberikan jika dahak berwarna hijau, atau pada batuk kering lebih dari satu minggu, dan batuk terjadi sepanjang hari, bukan hanya malam, bukan batuk pilek karena alergi, bukan pula batuk pilek karena iritasi. Pada diare, tidak selalu membutuhkan antibiotik. Jika didapatkan diare didapatkan bercampur lendir ataupun darah, maka antibiotik dibutuhkan. Pada demam satu dua hari tanpa gejala lainnya, jangan terburu buru meminum antibiotik. Minum obat turun panas, minum air putih, istirahat cukup, makan makanan bergizi, jika dalam tiga hari panas tidak kunjung turun, temui dokter untuk berkonsultasi.

Apa jadinya jika antibiotik diberikan tidak sesuai indikasi? Bahaya sudah mengintai jika kita meminum obat jenis ini sesukanya. Misalkan kita pilek karena virus influenza, kemudian karena meniru resep dokter tanpa pertimbangan matang, kita meminum antibiotik. Padahal seluruh tubuh manusia itu memiliki bakteri baik, yang akhirnya malah mati atau sekarang terserang antibiotik yang sembarangan kita beli. Alhasil pileknya tidak sembuh, malah gejala berganti menjadi sakit perut atau diare atau sekedar rasa tidak nyaman. Jika ini dilanjutkan, maka sebenarnya kita sedang mencelakai diri sendiri.

Ada juga beberapa pasien yang memang membutuhkan antibiotik, sudah diberikan antibiotik, namun karena di tengah pengobatan sudah merasa lebih baik, kemudian tidak dihabiskan? Ini juga tidak kalah berbahayanya dengan yang pertama. Jika memang terbukti infeksi bakteri, biasanya dokter akan memberikan antibiotik. Dalam beberapa kali minum obat, biasanya tubuh akan terasa lebih baik, namun ini bukan berarti bakteri seluruhnya sudah mati. Bakteri bakteri yang belum mati dalam pemberian antibiotik yang tidak dihabiskan, justru akan menjadi kebal dengan jenis antibiotik tersebut maupun turunannya. Bakteri bakteri yang kebal ini kemudian berkembang dan menyebabkan penyakit yang tidak mudah disembuhkan, karena kekebalan yang disebabkannya. Belum lagi jika bakteri kebal ini menyebar ke orang lain. Tentunya kita sedang mencelakakan diri sendiri dan orang orang di sekitar kita dengan tidak menghabiskan antibiotik dari dokter.

Pada bayi, anak kecil, ibu hamil dan menyusui, pemberian antibiotik perlu berhati hati. Karena beberapa jenis antibiotik dapat berbahaya untuk janin, mengganggu tubuh anak kecil, atau belum terbukti keamanannya. Beberapa jenis antibiotik bahkan dapat mengakibatkan cacat pada janin jika dikonsumsi oleh ibu hamil. Oleh karenanya konsultasikan pada dokter jika ibu hamil terserang penyakit.

Dapatkan antibiotik diberikan pada orang tanpa infeksi bakteri? Iya, namun perlu pertimbangan ahli. Misal pada anak yang tinggal serumah dengan orang tua penderita TBC, maka perlu diberikan antibiotik profilaksis (pencegahan) agar anak tidak tertular TBC. Namun hal ini kembali, perlu pertimbangan ahli. Ada juga beberapa jenis antibiotik yang dapat digunakan untuk indikasi lain, misalnya untuk membantu gerak usus.

Pemakaian antibiotik sebenarnya kompleks, dan sebaiknya masyarakat tidak dengan mudah meminta antibiotik pada dokter, atau membeli sendiri di apotek tanpa resep dokter. Mari kita kurangi bersama pemakaian antibiotik yang tidak rasional, yang malah menciptakan masalah kesehatan baru. Salah sehat

0 komentar:

Posting Komentar