Rabu, 05 Maret 2014

Obat Psikiatri Menyebabkan Kecanduan?

"Dok, saya ga memberikan ayah saya minum obat ini lagi karena ga mau ayah saya kecanduan obat penenang. Sudah 2 bulan ayah saya tidak minum obat ini" kata seorang anak yang membawa ayahnya yang mengalami gangguan depresi (lagi). Apa benar obat obatan psikiatri menimbulkan kecanduan? Bagaimana cara yang paling tepat dan aman dalam menggunakan obat obatan psikiatri? Apa tepatnya cara kerja obat obatan psikiatri?


Keluhan tentang ketakutan kecanduan seperti yang anak tadi utarakan bukan satu dua kali saya dengar di ruang praktek. Seperti sebuah ketakutan bersama, obat obatan psikiatri dapat menimbulkan kecanduan. Anehnya ketakutan semacam ini jarang saya temukan pada pasien pasien lain yang meminum obat lama, seperti pada diabetes, hipertensi ataupun gagal jantung. Padahal semuanya memiliki prinsip yang sama, obat digunakan untuk membantu mengatur proses tubuh yang terganggu dan sakit.

Perlu dipahami bahwa obat obatan psikiatri bekerja dengan memperbaiki ketidak seimbangan zat dalam otak, dan obat obatan ini membantu pasien melewati kondisi tidak menyenangkan yang mengganggu kehidupannya. Misalnya obat anti cemas, akan membantu pasien keluar dari kondisi cemas tanpa alasan yang mengganggu. Obat ini bukan satu satunya alat terapi, akan dilakukan terapi lain seperti psikoterapi, meditasi, hipnoterapi yang membantu pasien dalam mengatasi sendiri kecemasannya. Obat bukan satu satunya cara terapi, jadi tidak perlu takut untuk kecanduan obat.

Sebenarnya stigma obat psikiatri menimbulkan kecanduan ini hanyalah mitos belaka. Hal ini berdasar pada kata tetangga, televisi, pak camat, mbah dan mereka yang kurang memiliki pengetahuan yang tepat tentang obat obatan psikiatri. Obat psikiatri sama seperti obat obatan diabetes, hipertensi dan gagal jantung. Perlu diminum dalam jangka waktu panjang untuk mempertahankan kondisi pasien tetap stabil (remisi) dan mencegah kekambuhan.

Ada beberapa obat yang memiliki efek yang sangat cepat, golongan diazepam misalnya. Pasien menyukai obat jenis ini karena efeknya yang cepat. Namun obat ini tidak baik jika digunakan jangka panjang karena berpotensi untuk toleransi dan menimbulkan gejala jika putus obat. Obat golongan SSRI lebih aman untuk penggunaan jangka panjang. Walaupun perlu konsumsi jangka panjang, dan efeknya tidak langsung terasa. Hal ini diterjemahkan pasien sering sebagai "Obat tidak cocok", atau "Obat tidak mempan". Padahal memang membutuhkan waktu panjang dalam penggunaannya.

Perlu pula diperhatikan, untuk mencapai kesembuhan dan mencegah kekambuhan, diperlukan pengobatan jangka panjang, bisa mencapai dua tahun setelah tidak ada gejala. Ini juga yang bisa disalahartikan sebagai kecanduan oleh pasien. Pasien tidak menyadari bahwa mereka membutuhkan obat ini sama seperti pasien gagal jantung memerlukan obat obatan. Kecanduan itu lebih cocok disematkan pada narkoba, rokok, alkohol, kita memakai terus padahal tidak ada manfaat bahkan merusak tubuh. Kalau obat psikiatri yang diberikan psikiater itu bukan kecanduan, tapi kebutuhan. Menjadi sebuah kebutuhan karena obat obatan ini membantu otak mencapai keseimbangan ulang setelah terkena penyakit. Stress yang ditumpuk lama hingga menimbulkan gejala, tentunya perlu waktu cukup panjang juga untuk sampai pada keseimbangan ulang seperti sebelum stress merusak.

Semoga setelah membaca tulisan ini, pemahaman kita tentang kecanduan obat berubah. Dan bila bermanfaat bisa share tulisan ini agar kita semua memiliki pemahaman yang tepat. Salam sadar

0 komentar:

Posting Komentar