Kamis, 03 April 2014

Gangguan Cemas Menyeluruh

Gangguan cemas merupakan salah satu gangguan psikiatri yang banyak ditemui di meja praktek. Seringkali keluhan gangguan cemas sering disalah mengerti oleh dokter maupun pasien, karena bisa saja pasien tidak mengeluhkan "cemas". Pasien bisa saja datang ke ruang praktek dengan keluhan sesak, sulit konsentrasi, jantung berdebar. Jangan terjebak jika kita hanya bertanya soal cemas dan pasien menyangkal, seringkali pasien menyangkal karena perbedaan definisi cemas dokter dan pasien, perlu digali lebih jauh.



Gangguan cemas menyeluruh adalah suatu kekhawatiran yang berlebihan dan dihayati disertai gejala somatik yang menyebabkan gangguan bermakna dan fungsi sosial atau pekerjaan atau penderitaan yang jelas bagi pasien. Pasien harus menunjukkan ansietas sebagai gejala primer yang berlangsung hampir setiap hari untuk beberapa minggu. Kecemasan yang dirasakan pasien bersifat mengambang dan tidak terbatas pada hal hal terntentu saja.

Cemas sendiri bisa dimengerti sebagai ketakutan yang yang tidak didasari oleh sumber yang jelas. Sedangkan rasa takut didasari oleh hal yang nyata dan jelas. Menjadi menarik ketika seorang pasien mengatakan dirinya takut akan sebuah penyakit berat, khawatir akan nasib buruk, merasa seperti di ujung tanduk, namun hal hal yang ditakutkan ini bukanlah hal yang nyata dan bersifat irasional, maka hal ini adalah kecemasan.

Gejala gejala gangguan cemas bisa mencakup hal hal berikut ini:
  1. Perasaan Cemas
  2. Ketegangan motorik (gelisah, sakit kepala, tidak santai dsb)
  3. Overaktivitas otonomik (berkeringat, sesak, berdebar, keluhan lambung, pusing, mulut kering, dsb)
Pada pasien anak dapat dilihat kebutuhan untuk ditenangkan terus menerus serta keluhan somatik yang lebih menonjol.

Pasien dengan gejala somatik yang menonjol sering mengeluhkan takut penyakit berat. Biasanya pasien demikian berulang kali memeriksakan dirinya karena keluhan fisik yang dirasakan pasien, padahal kondisi ini tidak diakibatkan masalah fisik. Kebanyakan pasien mengeluh sakit berat mengalami gangguan fisik yang berkaitan dengan saraf otonom, biasanya berkisar antara lambung, paru, jantung. Keluhan dan rasa tidak nyaman di bagian ini justru membuat ketakutan dan kecemasan pasien menjadi.

Terapi pada pasien ini perlu mengombinasikan psikoterapi dan farmakoterapi. Pendekatannya dapat berupa Cognitive Behavioral Therapy, diperlukan untuk menjawab setiap kebingungan pasien dan keluhan somatiknya. Terapi suportif untuk menangkan pasien, dan juga terapi untuk mengungkapkan konflik bawah sadar dan mengenali kekuatan ego pasien, bisa dengan psikoanalisa ataupun hipnoterapi. 

Drug of choice pada kondisi ini menggunakan golongan benzodiazepin. Golongain ini meliputi efek anti ansietas, antikonvulsan dan anti insomnia.
  1. Diazepam: broadspectrum
  2. Nitrazepam: dosis anti ansietas dan anti insomnia berdekatan, lebih efektif sebagai anti insomnia
  3. Clobazam: "Psychomotor performance". Paling kurang terpengaruh, untuk pasien dewasa dan usia lanjut yang ingin tetap aktif
  4. Lorazepam: Memiliki half life yang pendek, diindikasikan untuk pasien dengan gangguan fungsi hati dan ginjal
  5. Alprazolam: Efektif untuk ansietas antisipatorik, onset lebih cepat dan mempunyai komponen anti depresan

-Kecemasan, suatu penyebab utama berbagai neurosa.-

0 komentar:

Posting Komentar