Rabu, 16 Juli 2014

Depresi? Kamu kurang beragama!

Alkisah di sebuah desa nun jauh di langit datanglah pasien laki laki yang sulit memulai dan mempertahankan tidur. Hal ini sudah berlangsung berbulan bulan dan mengganggu aktivitasnya sehari hari. Tubuhnya lepas, pikirannya sulit fokus, setiap saat rasanya tidak mood dan tidak berdaya. Hal ini sebenarnya sudah mulai dirasakan sejak istrinya meninggal dunia karena kanker dua tahun yang lalu, namun beberapa bulan terakhir kondisinya semakin memburuk hingga membuat dia dipecat dari perusahaan tempatnya bekerja. Datanglah dia berkonsultasi dengan seorang mantri, dari tampilannya mantri ini agak terlihat rohani, mungkin dia bisa menolong.


"Pak saya sudah lama tidak bisa tidur, semua sejak meninggalnya istri saya. Saya merasa tak berdaya dan sering sedih tanpa alasan Pak." keluh lelaki paruh baya dengan suara parau dan tanpa daya ini.
"Bapak punya agama kan? Kalau bapak punya agama bapak tidak akan depresi seperti ini. Lebih baik bapak......"
Kalimat selanjutnya dari sang mantri tak bisa didengar dengan jelas oleh sang pasien. Pasien ini berharap ada empati, harapan, semangat atau paling tidak jika dia tak mampu memberikan ini semua, setidaknya dia mampu memberikan obat. Namun apa yang ditemukan si pasien? Tuduhan, penghukuman, sindiran, yang jelas tidak membuat dia menjadi lebih baik.

Dalam banyak literatur disebutkan banyak sekali peran spiritualitas dan agama dalam penanganan depresi. Namun hal ini bukan berarti agama bisa dijadikan kedok oleh klinisi untuk menyalahkan pasien karena sang klinisi gagal berempati atau tak mampu memberikan solusi. Peran klinisi itu mengayomi, menolong, menguatkan. Kita bukan Tuhan yang boleh menghukum apalagi mengintimidasi.
Depresi seperti kita ketahui berasal dari masalah neurotranmitter norepinefrin dan serotonin. Kurangnya zat ini menjadikan kita sedih, tidak bisa merasakan kesenangan, tidak berenergi. Badan bisa sakit, begitu juga dengan otak. Ketika badan sakit maka kita pusing, batuk, pilek, nyeri pinggang dsb. Ketika otak sakit maka adalah wajar jika kita merasakan sulit tidur, sedih yang berkepanjangan, sulit mengatur emosi, dsb. Penyebab badan sakit bisa berasal dari luar, misal bakteri, virus, racun dsb, dan juga dari dalam kegagalan pembelahan sel, autoimun, dsb. Maka penyebab jiwa kita sakit juga bisa berasal dari luar, kematian, bullying, perceraian, dsb ataupun dari dalam, ketidakseimbangan neurotransmitter, sindrom kromosom x, dsb.

Jangan kita menyederhanakan gangguan mental dengan menyalahkan pasien dan menuding dia tak beragama, ini tidak bertanggung jawab dan kejam. Hendaknya jika tidak menguasai psikoterapi, cukup berikan dukungan suportif dan rujuk ke klinisi yang kira kira mampu mengatasi. Agama sangat bisa membantu pasien depresi, namun tidak sedikit yang justru memburuk jika konselornya tidak menguasai cara menyelesaikan masalah dengan sehat. Terlebih jika depresi ini sudah menyangkut ide menetap tentang bunuh diri atau muncul gejala psikotik, sudah saatnya klinisi segera merujuk ke psikiater untuk penanganan serius.
Tulisan ini cuma sekedar curhat karna beberapa pasien depresi dituding tidak beragama dengan baik, padahal sehari hari ibadahnya lancar. Tulisan ini sekedar mau mengingatkan kita untuk tidak menyederhanakan masalah kompleks dan melemparkan ketidakmampuan kita menyelesaikan problem pada pasien atas nama agama. Tudingan kita tak menyelesaikan masalah. Pelukan, dukungan, empati, dan pengetahuan, itulah yang menyelesaikan masalah.

1 komentar: