Selasa, 29 Desember 2015

Black Shadow

"Aku ga pernah bisa beda pendapat sama suamiku. Tiap aku beda pendapat pasti ujungnya berantem besar dan aku ga tau kenapa kita berantem. Kalo dia yang nyanggah pendapat aku, rasanya itu lebih menyakitkan daripada orang lain yang menyanggah" Keluh seorang perempuan pada psikiater yang mendengarkan dengan seksama. "Kalau yang bicara orang lain, saya bisa terima dok. Tapi kalau suami sayang yang beda pendapat rasanya saya seperti direndahkan. Seperti saat ayah saya memarahi saya didepan teman teman saya dulu waktu kecil"

Senin, 02 November 2015

Diantara Dua Kutub

"Saya sekarang ga tau untuk apa saya hidup, semua rasanya percuma dok. Saya mau mati saja" keluh seorang pemudi, sebut saja Putri, di ruang praktik. Sudah beberapa minggu dia menjalani hari hari dengan tidak ada semangat, tidak lagi bisa merasa kesenangan, padahal satu bulan yang lalu dia baru terlihat sangat bahagia, supel, ringan tangan dan loyal ke teman temannya. Untuk alasan yang tidak jelas tiba tiba dia merasa sangat terpuruk. Putri memang sudah merasakan ada yang aneh dengan dirinya. Ada hari hari dimana dia merasa sangat senang, namun ada kalanya dia merasa sangat sedih tanpa alasan. Ada apa sebenarnya dengan Putri? Adakah masalah yang tidak diceritakan? Atau adakah hal lain?
"Bipolar", begitu diagnosis dokter ke Putri. Apa itu Bipolar? Bagaimana bisa Putri didiagnosis Bipolar? Apa bipolar bisa sembuh? Apa tanda terkena bipolar? Bagaimana mengatasinya?

Selasa, 20 Oktober 2015

Apakah Saya Psikosomatis?

Alkisah datanglah seorang wanita paruh baya dengan nyeri perut yang sulit hilang saat malam hari. "Dokter perut saya sakit, minta suntik biar cepet sembuh". Ini adalah kunjungannya yang ketiga kali dalam minggu ini ke dokter yang berlainan terus. "saya udah berkeliling dokter ga pernah ada yang sembuh dok". Keluhnya yang seakan mau menyerah berobat. Psikosomatis, itu kata dokter saat ini. Cukup ceritakan masalah ibu, ibadah, dan ibu akan sembuh. Apa benar demikian? Bahkan si ibu tidak tahu apa masalah yang mengganggu dirinya. Lalu keluarlah ibu ini dengan bingung dan merasa tidak berdaya, dan membuat perutnya semakin sakit

Selasa, 18 Agustus 2015

Tentang Skizofrenia

Skizofrenia, mungkin nama ini agak asing di telinga, atau mungkin di mata karna saat ini kamu sedang membaca blog. Namun penyakit satu ini sayangnya sedikit mendapat perhatian dan pertolongan, malah penderitanya dipandang sebelah mata, dianggap bukan manusia, dibiarkan bahkan dipasung, bahkan punya lagu kebangsaan sendiri yang suka dinyanyikan anak anak: "Orang gilaaa, orang gilaa" sambil bertepuk tangan.

Sabtu, 11 Juli 2015

Secondary Gain

Alkisah seorang pasien tua dengan stroke karna sumbatan ringan telah melewati masa kritisnya. Separuh badan sebelah kanannya masih lemah, namun dokter bilang dalam waktu dekat akan membaik seiring dengan dilatih. Namun setelah 5 tahun berlalu, tidak ada perkembangan yang berarti. Pengobatan sudah benar, rehabilitasi juga sudah dilakukan sesuai program, saran dari dokter dan tim medis sudah dilakukan, tapi kenapa tidak juga membaik? Setelah dikaji lebih lanjut, ternyata inilah yang terjadi

Sabtu, 11 April 2015

Surat Jujur Untuk Tuhan

*nama -nama di tulisan ini disamarkan, namun kejadian dibuat sedetil yang penulis bisa menurut kejadian aslinya.

Catatan: tulisan ini memuat kejujuran. Bagi yang ingin sebuah pengharapan rohani yang biasa disampaikan, saya sarankan berhenti membaca sekarang, karena hal itu tidak ada di sini. Saya menawarkan harapan di balik sebuah kejujuran realisme, itu saja. Satu lagi, saya tidak ingin menggugurkan iman satu orangpun, saya hanya menawarkan pandangan jujur terhadap realita.Yang entah dalam cara paradoksikal bagaimana, lebih mengangkat iman saya ketimbang pembohongan publik.

Minggu, 08 Maret 2015

Apakah Uang Bisa Membuatmu Bahagia?

Banyak orang, entah laki laki atau perempuan, bekerja dari pagi sampai malam, terus menerus setiap hari untuk mencari uang. Jauh di dalam angan angan, kita berharap nanti ketika uang kita sudah banyak kita bisa belanja ini itu, pergi kesana kemari, bermain dan bersenang senang dengan uang. Namun apakah pencarian kebahagiaan ini layak diperjuangkan hingga siang malam setiap hari? Apakah kebahagiaan tidak bisa dicapai sekarang? Dengan atau tanpa uang? Mari kita lihat apa kata studi terkait.


1. Belanja Pengalaman Vs Belanja Barang

Amit Kumar dalam jurnal Psychological Science mengatakan bahwa berbelanja pengalaman (jalan jalan, backpacker, hiking, dan sejenisnya) menghasilkan kebahagiaan yang lebih menetap daripada berbelanja barang (smartphone, tablet, baju, lipstick, tas, dsb). Sensasi dari pengalaman menunggu berbelanja pengalaman lebih menghasilkan kesenangan dan kepuasan daripada menunggu barang yang bagus. Sederhana saja, pasti kita lebih happy, tegang, seru menunggu datangnya hari untuk jalan jalan ke Lombok daripada tegang, cemas, khawatir menunggu gadget/baju dikirim dari online shop. Belum lagi ditambah ketika barangnya datang tidak sesuai dengan keinginan kita, bertambah poin minus untuk kesenangan kita. Jadi dalam hal ini, pakailah uang yang lebih membuatmu bahagia, siapkan tiket jalan jalan, makan malam, nonton konser daripada menghabiskan uang belanja barang materi.

Dorongan untuk ganti gadget, beli sepatu yang ga perlu, yuk dikurangi bersama. Toh sebenarnya kita tahu sama tahu bahwa kita ga butuh, dan kebahagiaan yang dibeli dari cara itu ternyata sangat singkat. Daripada menghabiskan uang dan bahagianya sedikit, lebih baik kita beli kebahagiaan yang berlangsung lebih lama.

2. Kemiskinan dan Kebahagiaan

Bisakah orang miskin bahagia? Apakah kebahagiaan hanya milik orang kaya? Dari reality show di sebuah televisi swasta sebenarnya sudah bisa kita jawab. Di sebuah reality show "Tolong", selalu digambarkan seseorang yang berjalan jalan meminta tolong kepada orang secara random, permintaan tolongnyapun sedikit sulit dan tidak wajar. Ingat kan?

Nah dilihat dari Personality and Social Psychology Bulletin menjelaskan bahwa kemapanan materi dan pengalaman berimbas pada berkurangnya kemampuan seseorang untuk menikmati kebahagiaan kebahagiaan kecil. Kemapanan dan kekayaan dan mengurangi kemampuan seseorang dalam menghargai sesuatu dan mengurangi kemampuan seseorang menjaga emosi yang positif dalam menjalani pengalaman sehari hari.

Berlawanan dengan kemapanan dan kekayaan, memiliki pengalaman berkekurangan di masa lalu atau masa sekarang meningkatkan kemampuan seseorang untuk menikmati momen momen setiap hari. Quoidbach dari Social Psychological and Personality Science mengatakan, "mengingatkan seseorang tentang masa depan yang tidak bisa ditebak, bisa membuat seseorang berhenti dari aktivitasnya dan menikmati harumnya sebuah bunga". Memberi dari apa yang kita miliki bisa menjadi jalan efektif untuk mencapai kebahagiaan. Dan berkubang di kemapanan dan kekayaan jelas bukan jalan produktif jika kita mencari kebahagiaan. Nah sekarang ingat akhir dari acara Tolong, siapa kebanyakan yang memberi pertolongan? Mereka yang berkekurangan atau mereka yang berkelimpahan?

3. Orang Kaya Pasti Bahagia?

Banyak orang percaya bahwa dengan menjadi kaya, maka otomatis kita bahagia. Sekarang lihat sekitarmu, mana orang yang sedang mengejar kekayaan bisa terlihat bahagia? Pergi pagi pulang malam, anaknya diurus oleh babby sitter, makanan diurus oleh pembantu, bahkan sekedar duduk bercengkrama saat makan malam saja merupakan hal yang jarang dilakukan. Berdasarkan studi dari Harvard Business School, the University of Mannheim dan Yale University, orang yang (sudah) kaya berpikir bahwa memiliki uang 3-4 kali lipat dari yang dimiliki sekarang akan memberikan skor 10 dalam kebahagiaan mereka, termasuk para bilioner berpikir demikian.

Dan sangat menarik, orang orang kaya ini berapapun penghasilannya, entah 1juta dolar atau 10 juta dolar, tidak bertambah bahagia ketika kekayaannya bertambah (Norton, 2015). Studi ini mengajarkan sesuatu yang menarik, kebahagiaan ternyata tidak berhubungan dengan kekayaan dan bahkan semakin penghasilan kita bertambah ada kecenderungan kita menjadi kurang bahagia.

Sebagian besar dari kita ketika membaca judul ini pasti sudah bisa menjawab "Ah uang kan memang tidak bisa membuat bahagia". Tapi kita tetap hidup dengan cara sekarang, bekerja dengan ga wajar seperti sekarang, dan lupa caranya hidup bahagia. Lewat tulisan ini mari kita melihat ke dalam bersama sama, apa yang sedang kita kerjakan sekarang? Berhenti sejenak dan lihat ke dalam: Sudahkah saya bahagia? Jika belum, berbahagialah sekarang, jangan tunda. Salam sadar.

Jumat, 13 Februari 2015

Jangan Sebut Aku Gila

Di tengah hujan deras, berjalan seorang bapak kumuh berpakaian lusuh, membawa sekarung barang tidak berguna yang dibawa kemana mana. Di tengah dingin dan lapar, berteriak anak anak kecil nakal sambil melempar lempar batu “Orang gila, orang gila” sambil setengah bernyanyi. Bapak kumuh tadi seakan berjalan tak peduli, menyembunyikan rasa takut, sedih bercampur kecewa yang sulit tidak terlihat di wajah lelahnya.

Jumat, 30 Januari 2015

Demam Berdarah Dengue

Agak melenceng dari topik kesehatan jiwa dulu ya, karna sekarang musim hujan telah datang, genangan air dimana mana dan datanglah musim yang tidak bisa dihindari dan sangat tidak diharapkan, musim demam berdarah. Rumah sakit dan puskesmas beberapa minggu terakhir ini penuh dengan pasien demam berdarah, mulai dari bayi hingga orang tua semua bisa kena demam berdarah. Apa si demam berdarah itu? Mari kita lihat lebih jauh