Jumat, 13 Februari 2015

Jangan Sebut Aku Gila

Di tengah hujan deras, berjalan seorang bapak kumuh berpakaian lusuh, membawa sekarung barang tidak berguna yang dibawa kemana mana. Di tengah dingin dan lapar, berteriak anak anak kecil nakal sambil melempar lempar batu “Orang gila, orang gila” sambil setengah bernyanyi. Bapak kumuh tadi seakan berjalan tak peduli, menyembunyikan rasa takut, sedih bercampur kecewa yang sulit tidak terlihat di wajah lelahnya.

Pemandangan seperti ini seperti wajar terjadi di sekitar kita. Mereka dengan gangguan jiwa berat berjalan tidak menentu tujuan dan diganggu oleh orang orang yang katanya waras. Anak kecil sampai orang dewasa memandang sebelah mata pasien gangguan jiwa berat atau yang lebih tepat disebut skizofrenia, sebuah penyakit yang menyerang sistem saraf di otak dan mengakibatkan perubahan perilaku pada penderitanya. Iya, kamu tidak salah baca, gangguan jiwa berat yang kamu labeli gila ini adalah sebuah penyakit di sistem saraf, dan gangguan inilah yang menyebabkan perubahan perilaku. Status skizofrenia itu sama seperti batuk pilek, darah tinggi, kencing manis, semua sama sama penyakit.

Skizofrenia berarti jiwa yang terpecah, istilah ini terpengaruh dari teori psikoanalitis Freud berdasarkan hipotesis Kraeplin yang akhirnya diterima setelah beberapa dekade. Terdapat tiga sindrom utama dalam skizofrenia:

(1) Psychomotor poverty syndrome: kemiskinan bicara, afek tumpul, penurunan gerakan spontan tubuh; penurunan kemampuan untuk bertindak

(2) Disorganization syndrome: gangguan dari bentuk pikir dan afek yang tidak serasi. Penurunan kemampuan untuk menghambat aktivitas mental yang tidak pantas

(3) Reality distortion syndrome: halusinasi dan delusi/waham; gangguan monitoring internal

Skizofrenia kadang memiliki fase “sembuh” yang membuat pasien bisa beraktivitas secara normal, namun tanpa pengobatan yang tepat “sembuh” ini tidak akan bertahan lama, pasien akan kembali sakit dan terganggu aktivitasnya. Pengobatan untuk skizofrenia bertujuan untuk mengontrol gejala, memperpanjang fase “sembuh” dan mencegah relapsnya gejala. Jadi pengobatan untuk skizofrenia memang memakan waktu yang sangat lama dan perkembangannya memang terlihat lambat.

Pasien dengan skizofrenia merespon dunia sekitarnya dengan cara yang berbeda, menurut realita internal mereka. Mereka punya sistem penilaian tersendiri dalam melakukan sesuatu. Namun ini bukan berarti pasien skizofrenia tidak memiliki perasaan dan bisa seenaknya dihina, dibully, diteriaki gila. Pasien skizofrenia juga punya perasaan dan mereka juga bisa merasa tersakiti. Menghina dan membully pasien skizofrenia hanya akan memperburuk keadaan, tidak membantu. Kira kira tindakan mana yang waras, menghina pasien skizofrenia yang sebenarnya mengalami gangguan otak dan membuatnya semakin sakit, atau mendukung keluarga, memotivasi, mengajak berobat, menghubungi dinas sosial, atau paling sederhana memberi makan; mana tindakan yang termasuk waras?

Jumlah psikiater indonesia belum mencukupi untuk melayani seluruh negri ini. Kesehatan jiwa menjadi hal yang mewah buat daerah daerah yang belum tersentuh pelayanan psikiater. Pasien skizofrenia masih mendapatkan pelayanan tradisional di dukun, pondok, dengan cara cara yang kurang manusiawi. Alangkah baiknya kita sebagai masyarakat modern tidak memperburuk keadaan pasien dengan menyebutnya gila, ini menyakitkan.

Jika seandainya daerahmu memiliki akses ke psikiater, anjurkanlah tetangga atau pasien untuk berobat, dorong keluarga untuk berobat dan tidak perlu malu. Stigma soal gila ini memang mengganggu, merusak dan memperburuk penyembuhan pasien skizofrenia. Karna itu kita perlu lawan stigma ini dan obati skizofrenia sebagaimana mestinya. Skizofrenia itu penyakit, bukan gila.

Jadi apa yang hal terkecil yang bisa kita dilakukan untuk pasien skizofrenia? Jangan sebut pasien skizofrenia gila.

*Glossarium*

Afek: emosi yang terlihat dari wajah, bisa terlihat senang, sedih, atau datar.

0 komentar:

Posting Komentar