Minggu, 08 Maret 2015

Apakah Uang Bisa Membuatmu Bahagia?

Banyak orang, entah laki laki atau perempuan, bekerja dari pagi sampai malam, terus menerus setiap hari untuk mencari uang. Jauh di dalam angan angan, kita berharap nanti ketika uang kita sudah banyak kita bisa belanja ini itu, pergi kesana kemari, bermain dan bersenang senang dengan uang. Namun apakah pencarian kebahagiaan ini layak diperjuangkan hingga siang malam setiap hari? Apakah kebahagiaan tidak bisa dicapai sekarang? Dengan atau tanpa uang? Mari kita lihat apa kata studi terkait.


1. Belanja Pengalaman Vs Belanja Barang

Amit Kumar dalam jurnal Psychological Science mengatakan bahwa berbelanja pengalaman (jalan jalan, backpacker, hiking, dan sejenisnya) menghasilkan kebahagiaan yang lebih menetap daripada berbelanja barang (smartphone, tablet, baju, lipstick, tas, dsb). Sensasi dari pengalaman menunggu berbelanja pengalaman lebih menghasilkan kesenangan dan kepuasan daripada menunggu barang yang bagus. Sederhana saja, pasti kita lebih happy, tegang, seru menunggu datangnya hari untuk jalan jalan ke Lombok daripada tegang, cemas, khawatir menunggu gadget/baju dikirim dari online shop. Belum lagi ditambah ketika barangnya datang tidak sesuai dengan keinginan kita, bertambah poin minus untuk kesenangan kita. Jadi dalam hal ini, pakailah uang yang lebih membuatmu bahagia, siapkan tiket jalan jalan, makan malam, nonton konser daripada menghabiskan uang belanja barang materi.

Dorongan untuk ganti gadget, beli sepatu yang ga perlu, yuk dikurangi bersama. Toh sebenarnya kita tahu sama tahu bahwa kita ga butuh, dan kebahagiaan yang dibeli dari cara itu ternyata sangat singkat. Daripada menghabiskan uang dan bahagianya sedikit, lebih baik kita beli kebahagiaan yang berlangsung lebih lama.

2. Kemiskinan dan Kebahagiaan

Bisakah orang miskin bahagia? Apakah kebahagiaan hanya milik orang kaya? Dari reality show di sebuah televisi swasta sebenarnya sudah bisa kita jawab. Di sebuah reality show "Tolong", selalu digambarkan seseorang yang berjalan jalan meminta tolong kepada orang secara random, permintaan tolongnyapun sedikit sulit dan tidak wajar. Ingat kan?

Nah dilihat dari Personality and Social Psychology Bulletin menjelaskan bahwa kemapanan materi dan pengalaman berimbas pada berkurangnya kemampuan seseorang untuk menikmati kebahagiaan kebahagiaan kecil. Kemapanan dan kekayaan dan mengurangi kemampuan seseorang dalam menghargai sesuatu dan mengurangi kemampuan seseorang menjaga emosi yang positif dalam menjalani pengalaman sehari hari.

Berlawanan dengan kemapanan dan kekayaan, memiliki pengalaman berkekurangan di masa lalu atau masa sekarang meningkatkan kemampuan seseorang untuk menikmati momen momen setiap hari. Quoidbach dari Social Psychological and Personality Science mengatakan, "mengingatkan seseorang tentang masa depan yang tidak bisa ditebak, bisa membuat seseorang berhenti dari aktivitasnya dan menikmati harumnya sebuah bunga". Memberi dari apa yang kita miliki bisa menjadi jalan efektif untuk mencapai kebahagiaan. Dan berkubang di kemapanan dan kekayaan jelas bukan jalan produktif jika kita mencari kebahagiaan. Nah sekarang ingat akhir dari acara Tolong, siapa kebanyakan yang memberi pertolongan? Mereka yang berkekurangan atau mereka yang berkelimpahan?

3. Orang Kaya Pasti Bahagia?

Banyak orang percaya bahwa dengan menjadi kaya, maka otomatis kita bahagia. Sekarang lihat sekitarmu, mana orang yang sedang mengejar kekayaan bisa terlihat bahagia? Pergi pagi pulang malam, anaknya diurus oleh babby sitter, makanan diurus oleh pembantu, bahkan sekedar duduk bercengkrama saat makan malam saja merupakan hal yang jarang dilakukan. Berdasarkan studi dari Harvard Business School, the University of Mannheim dan Yale University, orang yang (sudah) kaya berpikir bahwa memiliki uang 3-4 kali lipat dari yang dimiliki sekarang akan memberikan skor 10 dalam kebahagiaan mereka, termasuk para bilioner berpikir demikian.

Dan sangat menarik, orang orang kaya ini berapapun penghasilannya, entah 1juta dolar atau 10 juta dolar, tidak bertambah bahagia ketika kekayaannya bertambah (Norton, 2015). Studi ini mengajarkan sesuatu yang menarik, kebahagiaan ternyata tidak berhubungan dengan kekayaan dan bahkan semakin penghasilan kita bertambah ada kecenderungan kita menjadi kurang bahagia.

Sebagian besar dari kita ketika membaca judul ini pasti sudah bisa menjawab "Ah uang kan memang tidak bisa membuat bahagia". Tapi kita tetap hidup dengan cara sekarang, bekerja dengan ga wajar seperti sekarang, dan lupa caranya hidup bahagia. Lewat tulisan ini mari kita melihat ke dalam bersama sama, apa yang sedang kita kerjakan sekarang? Berhenti sejenak dan lihat ke dalam: Sudahkah saya bahagia? Jika belum, berbahagialah sekarang, jangan tunda. Salam sadar.