Sabtu, 11 Juli 2015

Secondary Gain

Alkisah seorang pasien tua dengan stroke karna sumbatan ringan telah melewati masa kritisnya. Separuh badan sebelah kanannya masih lemah, namun dokter bilang dalam waktu dekat akan membaik seiring dengan dilatih. Namun setelah 5 tahun berlalu, tidak ada perkembangan yang berarti. Pengobatan sudah benar, rehabilitasi juga sudah dilakukan sesuai program, saran dari dokter dan tim medis sudah dilakukan, tapi kenapa tidak juga membaik? Setelah dikaji lebih lanjut, ternyata inilah yang terjadi




Sesudah dokter bersedia meluangkan waktu lebih banyak, ternyata pasien ini adalah mbah mbah yang sudah lama tinggal sendiri di rumahnya, dia merasa kesepian. Semenjak terkena stroke, keluarganya, anaknya, cucunya, banyak yang menjenguk dan memberi dukugan. Hal ini membuat dia sangat senang dan ceria kembali. Dan keramaian ini adalah sesuatu yag sangat dia impi impikan di masa tuanya. Namun ternyata hal ini tidak berlangsung lama, karna dalam seminggu penyakitnya sudah sembuh, dan hanya meninggalkan gejala sisa. Apakah setelah ini mbah ini akan kembali dalam kesepiannya?

Penyakit stroke, disamping memberikan penderitaan dan gangguan, juga memberikan apa yang dia inginkan selama ini yang tidak pernah didapatkannya dalam keadaan sehat. Kalau stroke ini sembuh, maka dia akan kembali kesepian, kalau dia tetap sakit maka dia akan tetap bersama keluarganya. Kira kira mana yang akan kamu pilih? Secara sadar mungkin kamu bilang, aku mau sembuh. Tapi bawah sadar memilih yang lain, dia memilih bersama keluarga sehingga menjadikan kesakitan ini "tidak membaik".

Secondary gain, atau keuntungan sekunder adalah keadaan dimana pasien mendapatkan keuntungan sekunder dari kondisi sakitnya. Yang mana membuat pasien secara bawah sadar lebih nyaman bila dibandingkan keadaan sehat. Secondary gain banyak didapatkan dalam kasus kasus di poliklinik maupun puskesmas, hanya dokter sering tidak menyadari hal ini. Biasanya datang dengan gejala somatik, atau keluhan yang berulang dan tidak membaik juga.

Pasien mungkin secara sadar tidak mengetahui alasan kenapa dia memilih tetap sakit. Namun ini adalah pilihan bawah sadar, bukan pilihan logis pasien sendiri. Bawah sadar memiliki cara bekerja dan cara berpikir yang berbeda dengan kesadaran. Oleh karenanya, pilihan yang diambil bawah sadar bisa saja berbeda dengan pilihan sadar. Secara sadar bisa saja mbah stroke tadi memilih sembuh, mengerjakan program rehabilitasi, tapi jika bawah sadar sudah menangkap secondary gain, semua usaha untuk kesembuhan akan disabotase dan digagalkan oleh bawah sadar sendiri. Dan tadaaaaa, tiba tiba jadilah pasien tidak sembuh sembuh.

Secondary gain tidak bisa diobati dengan obat obatan saja, atau program rehabilitasi saja. Perlu pendekatan psikiatrik menyeluruh untuk mengatasi secondary gain. Konsultasi dengan ahli psikiatri diperlukan jika ada kondisi seperti ini. Beberapa psikoterapi dapat digunakan untuk mengatasi secondary gain, psikoanalisis, cbt, hipnosis dan beberapa teknik lain juga bisa dimanfaatkan untuk menyelesaikan secondary gain dengan mengutamakan kebaikan pasien dan tetap dicapai dengan ekologis. Penyelesaian separuh separuh tanpa kolaborasi yang baik antar pihak hanya akan memperpanjang waktu pengobatan tanpa hasil yang memuaskan.

Jadi jika bertemu pasien yang kok sulit sembuh, dan sudah beputar putar dokter kok tidak ada perubahan signifikan. Perlu dipikirkan adanya secondary gain dari kondisi penyakit yang diderita. Dan jika sudah demikian, konsultasikan ke ahlinya. Salam sadar

1 komentar: