Selasa, 20 Oktober 2015

Apakah Saya Psikosomatis?

Alkisah datanglah seorang wanita paruh baya dengan nyeri perut yang sulit hilang saat malam hari. "Dokter perut saya sakit, minta suntik biar cepet sembuh". Ini adalah kunjungannya yang ketiga kali dalam minggu ini ke dokter yang berlainan terus. "saya udah berkeliling dokter ga pernah ada yang sembuh dok". Keluhnya yang seakan mau menyerah berobat. Psikosomatis, itu kata dokter saat ini. Cukup ceritakan masalah ibu, ibadah, dan ibu akan sembuh. Apa benar demikian? Bahkan si ibu tidak tahu apa masalah yang mengganggu dirinya. Lalu keluarlah ibu ini dengan bingung dan merasa tidak berdaya, dan membuat perutnya semakin sakit


Psikosomatis katanya, apa itu psikosomatis? Psikosomatis sebenarnya terminologi lama, dan sudah tidak digunakan sebagai diagnosis. Psikosomatis dimaksudkan secara awam sebagai gangguan fisik yang disebabkan oleh gangguan perasaan atau kondisi jiwa. Walau sebenarnya psikosomatis adalah sebuah sistem pendekatan pasien yang holistik, di Amerika disebut sebagai psikosomatis sedang di Eropa disebut Consultation Liaison Psychiatry. Psikosomatis yang dimaksud oleh masyarakat awam mungkin bisa diterjemahkan sebagai gangguan konversi, somatisasi, hipokondriasis, somatoform dan sejenisnya. Namun untuk mempermudah, ya kita sebut saja sebagai psikosomatis walaupun tidak tepat penggunaan istilah ini.

Pada kondisi kejiwaan dan pada tipe kepribadian tertentu, memang keluhan penyakit fisik yang muncul akibat penyebab kejiwaan bisa saja terjadi.  Contoh, pada seseorang yang tidak bisa bercerita dan cenderung menyimpan masalah sendiri, ada saat dimana dia tidak lagi mampu menyimpan sebuah masalah yang kemudian dimunculkan sebagai keluhan fisik, supaya orang ini tidak lagi sakit hati menyimpan masalah. Jadi nyeri ini adalah pengganti nyeri yang sebenarnya, nyeri perasaan. Atau pada orang dengan tipe kepribadian yang suka mencari perhatian, bisa saja muncul keluhan fisik yang sangat banyak, sebagai bentuk pencarian perhatiannya. Ada juga yang karena menghadapi stres tertentu, dia tidak tahan menahan secara sadar, kemudian menekan stres ini secara sadar. Namun karna bawah sadar tau ini keliru, dimunculkan kembali stres ini dalam bentuk keluhan fisik sebagai simbol. Yang biasanya simbol simbol ini tidak disadari, tidak dimengerti dan tidak bisa diatasi oleh penderitanya

Beberapa tenaga medis menganggap sepele gangguan ini, dengan curhat, ibadah, kemudian gangguan ini bisa membaik dengan sendirinya. Pada sebagian kecil kasus, bisa, namun tidak untuk sebagian besar lainnya. Padahal kesakitan, penderitaan yang dirasakan ini bukan dibuat buat dan sama nyatanya dengan sakit yang diakibatkan gangguan organik. Pasien diminta curhat padahal stressornya sendiri tidak diketahui, lalu bagaimana caranya dia curhat? Ya ga bisa. Tentunya perlu bijak menangani kasus kasus seperti ini.  Karena pasien datang memang meminta bantuan yang nyata. Jika seandainya dokter atau tenaga kesehatan lain tidak memiliki kemampuan untuk menangani psikosomatis ini, bisa lakukan rujukan ke dokter lain yang lebih kompeten.

Lalu apa yang perlu dilakukan? Untuk dokter tentunya perlu melakukan pendekatan komprehensif dalam menangani kasus seperti ini. Terapi psikoterapi perlu dilakukan, jika tidak mampu melakukan psikoterapi bisa rujuk ke ahli. Kadang diperlukan obat obatan psikofarmaka untuk tambahan pasien psikosomatis. Untuk pasien sendiri, perlu disadari bahwa kadang penyakit fisik muncul karena kondisi kejiwaan, dan ini perlu disadari dan diterima. Seringkali banyak dari kita menyangkal gangguan semacam ini,  mempertahankan ego sedemikian sehingga ga mau mengakui kalau kita manusia lemah, dengan jiwa yang rapuh, yang bisa saja terluka dan merasakan sakit. Untuk sembuh, pertama kita harus menyadari dan mengakui keberadaan kita yang lemah. Lalu selanjutnya bagaimana?
Seringkali pasien ga sadar stressornya atau penyebab apa yang membuat dia psikosomatis. Disini tugas dokter dan psikiater menolong pasien mengungkap apa yang sebenarnya terjadi dan membantu pasien mengatasi sendiri permasalahannya. Psikoterapi yang bisa jadi pilihan misalnya hipnoterapi, psikodinamik, psikoanalisis, dan pendekatan lain selain obat obatan. Disini pasien bisa bebas bereksplorasi, menjelajah pikiran dan perasaannya tanpa perlu merasa takut atau khawatir akan diberi label tertentu. Lewat psikoterapi pasien akan mampu menemukan hal hal apa yang mendasari gangguannya, dan kemudian diajak untuk menyelesaikannya secara dewasa dan bertanggung jawab. Sehingga di kemudian hari jika terjadi stresor atau kondisi serupa, pasien sudah bisa menanggulanginya dengan respon yang berbeda .

Gangguan ini merupakan penyakit, bukan kutukan, kurang iman, kurang ibadah, kurang beragama dan pendapat tak berdasar lainnya. Berhenti memberikan stigma, dan mari mencari solusi. Mari kita bersama berusaha untuk sembuh. Salam sadar.


6 komentar:

  1. Great, dr. Jiemi.. salam sadar..
    Semoga tenaga medis dan tenaga paramedis semakin melek dengan kasus seperti itu.. sehingga bisa melakukan skrining dan rujukan ke ahlinya..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hebat dan menghebat juga Bu Bidan Salma. Semoga kita bisa bersama sama melakukan kebaikan buat pasien dan mengusahakan yang baik juga untuk semuanya

      Hapus
  2. Uaaakih bgt pasien ky gini...mungkin trmasuk diri sendiri

    BalasHapus
    Balasan
    1. Uwaaakiiihhh banget. Dan pasti tanpa sadar kita juga kadang seperti ini. Mungkin belum gangguan, mungkin sudah. Hehehehe

      Hapus
  3. Yth. dr.jiemi
    sy pny mertua yg sering mengeluhkan sakit dibbrp bag. tubuhny. Setelah sy ajak berobat ke bbrp dr. spesialis trnyata hasilnya tdk ditemukan penyakit apapun, begitupun dg hasil cek lab. nya. Yang ingin sy tanyakan apakah mertua sy mengalami psikosomatis? Kemana seharusnya kami berobat? Makasih sebelumnya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. bisa jadi mertua bapak/ibu mengalami gangguan psikosomatis.Jika benar demikian dan tidak ada gangguan medik apapun yang mendasari, ada baiknya berobat ke psikiater terdekat.

      Hapus