Minggu, 05 Juni 2016

Kami Juga Manusia

"Rumah bapak dimana? Kok bisa sampai kesini?" tanya saya kepada salah seorang bapak renta dengan disabilitas mental di rumah penampungan. "Rumah saya di Malang dok, saya disini dititipkan keluarga karna saya marah-marah" ucapnya dengan rona sedih yang tak bisa ditutupi lagi. Saya tak punya kata kata yang tepat sebagai solusi untuk bapak ini atau banyak orang dengan kisah serupa. Sebagai seorang dokter, saya cuma membawa diri saya setiap hari ke rumah penampungan, ke bangsal psikiatri, ke tempat orang-orang yang dibuang dan dianggap bukan manusia ini, untuk membawa sedikit harapan, itu saja.

Seringkali seorang dengan disabilitas mental berat dibiarkan telantar dipinggir jalan, makan dari sisa-sisa di tempat sampah, tidur beralaskan aspal dan beratapkan awan. Seorang gelandangan dibiarkan disana sampai ditangkap satpol PP entah karena mengganggu atau dilaporkan warga, kemudian dibawa ke penampungan atau diobati sekenanya saja. Orang-orang ini dibiarkan tidak berkeluarga, tidak bekerja, tidak dimengerti dan tinggal menunggu ajal saja.

Dalam undang-undang kesehatan jiwa dituliskan negara bertanggung jawab melakukan penatalaksanaan bagi orang terlantar, mulai dari pencegahan, pengobatan hingga rehabilitasi. Nyatanya negara sebagai pengayom warganya -termasuk warga dengan disabilitas mental- masih gagal dalam melakukan fungsinya. Yang sering terlihat adalah orang dengan disabilitas mental diantarkan ke rumah sakit oleh dinas sosial untuk berobat disaat yang sudah terlambat, dan ditinggalkan sampai petugas dipanggil ketika orang ini meninggal.

Bicara tentang kehidupan hari ini saja sudah sulit, apalagi bicara tentang masa depan. Bicara tentang kesehatan saja tidak terurus, apalagi bicara pendidikan. Kebanyakan pasien dengan disabilitas mental yang jelas memiliki penurunan fungsi kognitif, tidak mendapatkan pendidikan/pelatihan yang layak untuk menolong mereka menjadi mandiri. Semua diserahkan pada keluarga yang keletihan merawat dan tak punya sumber daya untuk menolong dan melatih disabilitas mental.

Pasien dengan disabilitas mental memiliki nasib yang sama (atau lebih buruk) dari penyandang disabilitas lain. Tanpa dukungan maksimal dari pemerintah, tanpa kebijakan yang mendorong pencegahan dan pengobatan yang layak bagi pasien dengan disabilitas mental, pasung masih dimana mana, stigma yang masih menempel -bahkan dijajaran pengambil kebijakan- sehingga kita tidak terlalu bisa berharap isu kesehatan jiwa bagi orang terlantar ini dapat menjadi prioritas. Dukungan mungkin bisa muncul justru dari akar rumput, dari keluarga mantan penderita disabilitas mental, dari mereka yang perduli, dari rohaniwan yang sadar tentang gangguan jiwa, dari kita masyarakat.

Sebuah ruang yang memberi harapan di Surakarta dan sekitarnya adalah berkat PMI Surakarta yang mandiri dalam keuangan dan mendirikan griya PMI, sebuah tempat yang bisa kita sebut rumah, untuk orang orang terlantar. Disini pasien diberi makanan yang sehat dan tempat tinggal, dirawat, dikunjungi oleh kami dari tim dokter, diawasi oleh tim perawat, diberikan ketrampilan secara bertahap, dan pada akhirnya diharapkan dapat dikembalikan ke masyarakat. Bahkan beberapa orang yang merupakan alumni griya PMI telah bekerja disini sebagai karyawan. 


Disini orang-orang yang tadinya terbiasa menggelandang di jalan dan dianggap sampah masyarakat diberikan tempat yang layak, dimanusiakan dan diperlakukan sebagai manusia. Ada banyak aktivitas terkait yang mencoba mengembalikan fungsi sosial dan peran pasien seperti olahraga mengelilingi area perdesaan, olahraga sepakbola, dan untuk putri ada kegiatan ketrampilan tangan. Pasien dengan disabilitas mental berat membutuhkan pelatihan dan pendampingan tersendiri sebelum bisa mandiri di masyarakat. Dan tim dari griya PMI dan orang orang yang perduli memberikan berbagai program pelatihan yang beragam. Di griya PMI juga bekerjasama dengan bagian Psikiatri UNS/ RSUD Dr. Moewardi/RSJD Surakarta, sehingga setiap seminggu satu kali kami secara rutin melihat, mendampingi, memeriksa dan mengobati pasien pasien yang membutuhkan pengobatan. 


Saya bisa memahami bagaimana beratnya keluarga dalam merawat dan mendampingi pasien dengan gangguan jiwa berat, sehingga beberapa pasien dengan sengaja ditinggalkan di griya PMI agar pasien tidak memberatkan keluarga. Cerita pasien yang dibuang, ditinggalkan, diabaikan keluarga adalah cerita sehari-hari disini. Padahal untuk pasien dengan disabilitas mental, dukungan keluarga merupakan hal yang sangat penting. Saya tidak punya solusi untuk keluarga yang kelelahan merawat pasien, kita perlu menyelesaikan dan menguraikan permasalahan ini satu persatu, mulai dari langkah pencegahan gangguan jiwa, kebijakan yang pro kesehatan jiwa, langkah pengobatan gangguan jiwa dan dukungan bagi keluarga gangguan jiwa, sampai proses rehabilitasi. Sayangnya hal ini semua saat ini masih jauh panggang dari api. Pekerjaan rumah untuk disabilitas mental saat ini masih sungguh sangat banyak.

Satu hal yang bisa kita lakukan saat ini hanyalah mendukung mereka yang dalam keterbatasan, dan memberikan lingkungan yang positif untuk perbaikan kondisi mereka. Sebagai masyarakat kita juga perlu berbenah, memberikan dukungan dan kepercayaan kembali kepada mereka dengan disabilitas mental, bukannya menggosip dan menempelkan stigma. Pasien dengan disabilitas mental juga manusia, perlakukanlah sebagaimana kita memperlakukan manusia.

0 komentar:

Posting Komentar