Selasa, 18 Oktober 2016

Merdeka dari Kemerdekaan

Beberapa bulan lalu kita memekikkan dengan keras, Merdeka! Para veteran perang berjuang berusaha keras mempertaruhkan hidup demi anak-anak muda saat ini mampu dengan lantang meneriakkan, Merdeka! Kita, merasa telah merdeka dan bebas tak terikat. Seorang remaja memekikkan merdeka setelah semalam sebelumnya menghisap ganja... Dia.. Merdeka? Seorang Jenderal memekikkan merdeka setelah tak bisa menahan diri untuk menemui wanita simpanannya... Dia.. Merdeka? Warga yang meneriakkan Merdeka, beberapa bulan setelahnya saling hina karna beda pilihan Pilkada. Merdeka? Apa itu Merdeka?

Merdeka berarti kebebasan, namun apa arti kebebasan itu? Kita bisa bebas dari penjajahan di dunia fisik namun bisakah kita bebas dari mental yang ditinggalkan sebagai bangsa yang terjajah? Kita bebas dalam menuangkan pendapat di media sosial saat ini, tapi apakah kita bebas juga menyakiti teman teman kita di media sosial? Kita bebas dari budak romusha, namun apakah kita juga bebas dari perbudakan oleh bangsa kita sendiri? Kita bebas merdeka, tapi disaat yang sama kecanduan, menderita dan sakit. Merdeka? Benarkah kita benar benar bisa merdeka?

 Beberapa hari saya melihat kita saling serang, saling membela jagoan pilkada, saling menjelek-jelekkan agama, inikah yang kita sebut merdeka?  Merdeka, kebebasan, selalu memiliki dilema eksistensial. Sebagai masyarakat, kebebasan murni tidak akan pernah ada, selalu ada konsekuensi dibelakangnya. Bahkan di negara yang katanya liberal pun ada aturan dalam bermasyarakat, ada aturan dalam bernegara, kemerdekaan selalu memiliki konsekuensi.

Konflik dalam kemerdekaan kita adalah hal yang harusnya memang terjadi, namun menjadikan konflik ini destruktif atau konstruktif adalah pilihan kita. Menjadi destruktif bila kita memilih untuk memiliki perasaan berhak untuk menghukum, atau mungkin lebih buruk, menghilangkan nyawa orang/suku/kaum/ras lain. Menjadi destruktif bila kita merasa diri ini lebih superior daripada suku lain. Pola pikir dikotomi pribumi vs non pribumi, jawa vs non jawa, agama x vs non agama x, baik vs jahat, hitam vs putih, atau mungkin Jokowi Vs Prabowo. Dikotomi ini selalu melahirkan konflik berkepanjangan tak berkesudahan, karna kita akan melihat konflik hanya dari dua sisi, tak ada sisi lain. Padahal warna itu tidak hanya hitam dan putih, ada kuning, biru, merah, yang bahkan warna utama tadi bisa disebutkan menjadi banyak nama lain oleh wanita ditempat penjualan kosmetik.

Konflik menjadi konstruktif bila kedua (atau mungkin pihak netral ketiga) berniat untuk secara bersama-sama menyadari perbedaan dan mencari penyelesaian. Penyelesaian jarang berada di salah satu polar pendapat, seringkali justru berada di sisi lain yang sulit terlihat oleh pihak yang berkonflik. Penyelesaian konflik konstuktif mensyaratkan kita untuk tinggal tenang, dan tidak diburu emosi. Penyelesaian konflik konstruktif memerlukan kelapangan hati untuk melihat sisi lain dari pendapat yang dibawa, dan mencari jalan kedalam, bukan sekedar jalan keluar. Konflik yang konstruktif pada ujungnya menghasilkan pertumbuhan, sebagai individu maupun masyarakat.

Kemerdekaan yang mendalam adalah kebebasan kita dan juga kebebasan orang lain, kebahagiaan kita dan juga kebahagiaan orang lain, perkembangan pribadi kita dan juga perkembangan pribadi orang lain.  Kita perlu merdeka dari kemerdekaan saat ini.

MERDEKA

0 komentar:

Posting Komentar