Senin, 28 November 2016

Ahok dan Presuposisi NLP

Apa hubungannya Ahok dan presuposisi NLP? Apalagi itu makanan NLP? NLP atau Neuro-Linguistic-Programming sejatinya adalah sebuah kompleksitas hubungan antara bahasa (linguistik), cara berpikir dalam hal ini otak (neuro) dan program yang berjalan ditengahnya. Tidak perlu membahas NLP panjang lebar, namun dari kasus yang heboh ramai dimedia sosial akhir-akhir ini,
mari kita belajar melihat kasus ini dari tiga presuposisi/hukum NLP. Oke kita akan bahas satu persatu

1. The Map is not the territory

Presuposisi pertama NLP ini mencoba menggambarkan peta sebagai pemandu dan teritorial atau lokasi sebenarnya adalah realita. Coba mari kita lihat kota kita masing masing di google maps, apple map, waze, dan atlas dunia yang kita beli saat SD dan bandingkan satu sama lain. Semuanya mencoba menggambarkan lokasi yang sama, namun tidak semuanya berbentuk sama bukan. Dan yang terpenting, sebaik apapun peta yang kita pegang, peta tersebut hanya gambaran dan bukanlah lokasi sebenarnya. Peta yang kita pegang adalah pemandu, pembantu, penolong ketika kita akan menuju sebuah lokasi, dan bukanlah lokasi itu sendiri. Dari sebuah lokasi, kita masing-masing bisa membuat peta/persepsi terhadap lokasi itu. Dari sebuah kejadian, kita semua memiliki peta yang masing-masing bisa saja berbeda menggambarkan kejadian tersebut.

Lalu apa hubungannya dengan kasus Ahok? Nanti dulu pelan pelan. Dari presuposisi ini kita dapat belajar bahwa sebuah kejadian sebenarnya tidaklah memiliki makna tertentu. Kita yang memberikan warna, makna dan persepsi terhadapnya. Dan persepsi itulah yang nantinya membentuk tindakan kita. Namun pertanyaannya, apakah tindakan kita itu dibangun atas sesuatu yang berdasarkan dengan realita teritori, atau hanya berdasarkan peta yang kita inginkan saja?

2. People respond according to their internal maps

Presuposisi kedua masih ada hubungannya dengan yang pertama. Presuposisi kedua ini mencoba menggambarkan, bahwa seseorang bertindak berdasarkan peta internal masing-masing. Karena sebuah kejadian tidaklah bermakna, berwarna dan tanpa persepsi maka kita perlu menambahkan bumbu agar bisa kita nilai, resapi, hayati, maknai dan kita menilainya berdasarkan peta internal kita masing-masing. Jadi bisa dibayangkan dong betawa berwarna, panjang, lebar, dalam, luasnya kemungkinan yang bisa muncul dari satu peristiwa? Dan oleh karena itu bisa dibayangkan juga dong respon yang sangat beragam dari satu kejadian?

Namun setiap pilihan tindakan kita adalah berdasarkan peta internal kita, apa yang kita anggap benar. Belum tentu orang lain anggap benar. Dan dalam presuposisi NLP, kita menghargai apa yang orang lain anggap benar, karena kebenaran orang lain pun setara dengan kebenaran kita. Sama sama hanyalah kebenaran peta saja, buka teritorial itu sendiri.

Pertanyaan untuk dinilai kali ini: Bagaimanakah peta internal orang lain? Apa yang perlu saya resapi, hayati, renungkan dan rasakan dalam peta orang lain tersebut?

3. Meaning operates context-dependently

Presuposisi yang ketiga berkata, makna bergantung dengan konteks. Maksudnya apa si? Maksudnya adalah makna atau arti sebuah kejadian hanya ada jika kita memberikan konteks pada kejadian tersebut. Konteks ini yang diributkan oleh media sosial, menggunakan kata “pakai”, ada juga yang ribut kata “pakai” itu sama artinya dengan tidak kata “pakai”. Bukan kata “pakai” yang sedang kita ributkan, namun konteks yang berbedalah yang membuat perdebatan kata “pakai” tidak akan menemui titik temu. Kenapa? Karena keduanya beroperasi pada dua konteks yang berbeda. Sehingga penilaian keduanya hanya akan memperuncing masalah, merasa pihak lawan kurang pinter, pihak lawan tidak mengerti bahasa, pihak lawan tidak mengerti agama dan lain sebagainya. Hal ini terjadi karena dua konteks yang berbeda disandingkan dalam satu percakapan yang setala, akhirnya? Ya ribut saja. Jadi jika kita mau mencoba mengerti lawan bicara, cobalah mengerti makna dimana dia sedang mengambil tindakan. Kok daritadi mencoba mengerti orang lain terus? Kapan kita dimengertinya? Ya sebagai orang dewasa memang waktunya mencoba mengerti orang lain bukan? 

Dan setelah itu setiap tindakan yang kita  ambil memang berdasarkan rasio logika pertimbangan yang sehat dengan pemahaman yang lebih utuh dari pihak lawan bicara. Bukankah ini lebih manis?


Jadi apa hubungannya Ahok dan Presuposisi NLP? 

0 komentar:

Posting Komentar