Sabtu, 05 Agustus 2017

Bakar dan Bunuh!!

Masih belum lepas dari ingatan kita tentang seorang teknisi dibunuh dan dibakar karena disangka pencuri oleh warga sekitar. Seakan mudah saja bagi kita untuk menghukum sampai membunuh seseorang yang kita anggap bersalah, yang tampak berbeda. Kita heran bagaimana mungkin seseorang bertindak begitu kejam, padahal tanpa sadar kita semua memelihara perilaku seperti ini.

Sabtu, 10 Juni 2017

Courage

"Pokoknya saya ga mau tau, kalau kamu ke psikiater, kamu saya usir dari rumah! Bikin malu keluarga!", seru seorang dokter terkenal. "Tapi Pa, aku ga kuat lagi. Kita udah ke semua terapis herbal, hipnoterapis, guru agama, tapi aku ngerasa perasaan sedihku ini ga wajar. Aku gak sanggup hidup lagi Pa, aku..."| "CUKUP!", bentak sang Ayah. "Kalau kamu ke psikiater, kamu keluar dari rumah sekarang!". Sang anak dengan putus asa kembali ke kamarnya, terisak disudut ruangan, tidak mampu memahami dirinya sendiri dan tidak ada orang lain yang mau memahaminya.

Selasa, 16 Mei 2017

Pilihlah Untuk Memilih

Dalam dunia yang begitu cepat, begitu banyak tuntutan, begitu banyak tekanan, begitu banyak hal yang menjadikan kita mungkin saja merasa kelelahan.Kelelahan demi kelelahan ini tampak dari kalimat yang sering kita dengar, "hidup itu mengalir saja", atau "go with the flow", atau "kita jalani dulu aja". Ekspresi pasrah dan ketidakberdayaan ini muncul dari kelelahan dan keengganan dalam memilih. Entah pasrah atau hilang arah dalam menjalani hidup.

Kamis, 20 April 2017

10 Hal Yang Sebaiknya Tidak Diucapkan Ke Orang Yang Terpikir Untuk Bunuh Diri

"Saya mau mati saja!!" Pernah mendengarkan kalimat seperti ini dari teman, keluarga atau kenalanmu? Dan bagaimanapun cara kita membujuk, menenangkan, menasihati, memberi pencerahan, semuanya terdengar sebagai omong kosong intelektual saja oleh orang yang kita sayangi. Sementara kita tidak mampu memahami, bagaimana mungkin dia berpikir demikian? Bagaimana bisa dia terpikir untuk bunuh diri?! Sementara itu kita bersiap untuk menolong dengan kalimat yang kita pikir akan membantu, berhati-hatilah dengan kalimat yang akan kita gunakan nanti. Kita bisa saja membuat dia membuka diri dan mengijinkan kita masuk untuk menolongnya, atau sebaliknya dia menutup pintu rapat rapat dan membunuh dirinya sendiri karena kesalahan kita memilih kata.


Sebelum beranjak lebih jauh tentang kalimat atau sikap apa yang tidak boleh diucapkan dan apa yang sebaiknya dilakukan, saya hanya ingin bertanya, adakah kamu benar peduli dan ingin mendengarkan? Ataukah kamu hanya ingin terlihat benar dan hebat? Dan kemudian menyerang orang yang kamu sayangi? Orang yang sedang terluka tadi kamu hujam dengan kalimat, logika, ayat, perilaku yang kelihatannya logis dapat membantu dia keluar dari pikiran bunuh diri. Namun sebenarnya jauh didalam hatimu kamu tau, bahwa kamu sedang menyerangnya dengan kalimat dan perilakumu. Apa yang kamu katakan itu untuk dirimu, supaya kamu terlihat benar, kamu tidak benar benar ingin menolong.

Jika hal itu yang kamu rasakan, saya rasa kamu perlu berhenti untuk berusaha menolong, karena kalimat apapun yang keluar akan menjadi bohong dan terasa seperti omong kosong intelektual. Kamu tidak berniat menolong, kamu hanya ingin terlihat benar dan keren, kamu lah yang perlu ditolong.

Jika kamu sudah pastikan motifmu untuk menolong benar, mari kita lihat 10 kesalahan paling umum dalam mencoba menolong seseorang dengan ide bunuh diri. Karena kalimat kalimat ini mengimplikasikan penghakiman dan ketidakmengertian kita. Namun bergantung dari konteks, motif, cara penyampaian, dan persepsi individual, beberapa orang mungkin berespon positif dengan paling tidak satu kalimat yang secara umum keliru. Mari kita lihat ke 10 hal yang sebaiknya tidak diucapkan kepada orang yang ingin bunuh diri:
  1. "Bagaimana mungkin kamu terpikir untuk bunuh diri? Hidupmu baik baik saja." Mungkin saja kehidupan dalam dunia nyata seseorang yang mengalami depresi terlihat "baik baik saja". Namun rasa sakit itu terjadi dibawah kehidupan yang biasa saja dia jalani. Dengan memahami bahwa hidup yang terlihat "baik baik saja"pun dapat menyimpan rasa sakit, kita membantu seseorang untuk dimengerti dan diterima sepenuhnya. Bukan dengan menghakimi dan mengabaikan.
  2. "Apa yang akan terjadi dengan orang orang yang kamu sayangi jika kamu bunuh diri? Kamu akan menyakiti mereka jika bunuh diri". Seseorang yang sedang ingin bunuh diri sudah dipenuhi perasaan bersalah. Menambahkan perasaan bersalah pada tumpukan perasaan bersalah tidak akan membantu mereka keluar dari depresi. Alih alih kesemuanya tadi akan menjadikan mereka merasa tidak diterima dimengerti. Dan, selamat, dia tidak akan membuka diri lebih jauh.
  3. "Bunuh diri itu egois". Coba rasakan kalimat ini. Jelas ini bukan kalimat untuk mencoba memahami dan mengerti. Kalimat ini adalah kalimat serangan, yang kita tujukan untuk membuat seseorang merasa bersalah. Ada dua hal yang penting disini. Pertama, seseorang yang secara sering ingin bunuh diri sebenarnya sudah berpikir bahwa dalam hidup, mereka telah membebani keluarga mereka. Sehingga dalam kondisi pola pikir yang tidak sehat, seseorang yang ingin bunuh diri berpikir bahwa mereka akan membantu orang yang mereka tinggalkan untuk terbebas dari sebagian beban hidupnya, yaitu hidup sang pengidap depresi ini. Kedua, bukankah sudah menjadi logika sederhana kita semua, bahwa untuk membantu seseorang yang sedang merasakan sakit demikian luar biasa, kita perlu membawanya keluar dari rasa sakit?
  4. "Bunuh diri itu tindakan pengecut" Kalimat ini mencetuskan rasa malu. Ya, sama tidak masuk akalnya memunculkan rasa malu atau rasa bersalah dapat membantu seseorang dengan depresi. Tindakan bunuh diri memang bukan merupakan tindakan pemberani, namun bukan berarti melabel seseorang dengan pengecut membantu dia menjadi pemberani. Harap logika jangan dibolak balik jika kita benar ingin menolong orang.
  5. "Kamu tidak benar benar ingin bunuh diri." Biasanya kalimat ini diucapkan karena kecemasan atau ketakutan dari kita yang diajak bicara, namun kalimat ini jelas tidak valid dan cenderung mengabaikan. Anggaplah seseorang yang kita kenal ini benar benar ingin bunuh diri. Dengan mengucapkan kalimat ini, dan mengabaikan pesan serius tentang kematiannya, hal ini lebih menyakitkan baginya karena terabaikan. Ya, kita sedang menyakiti orang yang sudah sakit begitu berat.
  6. "Kamu masih punya banyak hal untuk disyukuri." Dalam benak kita, dan pada konteks tertentu, kalimat ini bisa saja menggambarkan adanya harapan, rasa syukur. Namun bagi sebagian besar orang depresi, mereka tidak mampu merasakan rasa syukur, tepatnya mereka bahkan tidak bisa merasakan kesenangan. Sehingga kalimat ini tidak lah menggambarkan kondisi pikiran dan perasaan mereka yang sebenarnya,kalimat ini sering sekali dirasakan sebagai omong kosong intelektual. Dan kalimat ini menandakan ketidakmampuan kita untuk memberikan pengertian dan penerimaan.
  7. "Lihat kebawah, masih ada orang yang lebih tidak beruntung dari kamu." Ya benar, banyak orang yang lebih tidak beruntung dan tidak bunuh diri. Saya terpikir untuk membandingkan dua orang yang terkena luka tusuk, satu orang terkena luka tusuk di paha, dan satu lagi terkena luka tusuk di dada. Ya benar, jauh lebih buruk mengalami luka tusuk di dada, namun bukan berarti yang mengalami luka tusuk di paha tidak mengalami rasa sakit. Rasa sakitnya tetap ada disana, meradang dan merusak. Dan luka yang sudah ada ini kamu tambahkan dengan perasaan malu dari kalimat ini. Seseorang yang ingin bunuh diri sudah terbiasa membandingkan dirinya dengan orang lain, dan mereka merasa gagal dan rusak. Dengan kamu menyuruh dia membandingkan diri dengan orang yang lebih tidak beruntung, kamu sedang membuat pikirannya menjadi semakin benar, bahwa dia adalah orang yang gagal dan rusak.
  8. "Tuhan tidak pernah memberi pencobaan lebih dari kekuatan umatnya." Lagi, menggunakan ayat untuk menyerang seseorang yang depresi lebih sering mengakibatkan hasil yang kontraproduktif. Dia menjadi semakin merasa bersalah, semakin merasa gagal, semakin merasa malu, yang keseluruhannya menjadikan rasa sakitnya menjadi semakin hebat. Iya saya setuju Tuhan tidak pernah memberi pencobaan lebih dari kekuatan umatnya, namun bukankah bunuh diri itu terjadi karena dia sudah tidak mampu menanggung beban yang sedang dia tanggung? Ketimbang menghakimi, cobalah mengerti dan rasakan sejenak.
  9. "Kamu akan masuk neraka jika bunuh diri." Anda tidak perlu memberitahu orang yang ingin bunuh diri tentang hal ini, dia sudah sering berpikir tentangnya. Mungkin bagi beberapa orang tidak percaya dengan neraka, mungkin juga mereka berpikir tentang belas kasih Tuhan yang akan mengampuni mereka nanti. Apapun kepercayaan atau ketidakpercayaan mereka, keinginan untuk mati tetap kuat. Mengatakan mereka akan pergi ke neraka, hanya akan mengakibatkan perasaan terkucilkan lebih kuat lagi.
  10. "Lakukan saja kalau kamu berani." Saya tidak perlu menjelaskan bagian ini. Menantang seseorang yang benar benar ingin bunuh diri adalah cara tercepat untuk dia segera melaksanakan aksinya. Mungkin kamu yakin bahwa dia tidak benar benar ingin bunuh diri, namun seberapa yakinnya kamu cenayanganmu tentang dia itu benar? Bagaimana jika kamu keliru? Tidakkah kamu telah mengambil satu nyawa dari muka bumi?
Lalu apa yang sebaiknya kita lakukan? Mengutip dari senior saya dari bidang psikiatri, dr. Gina Anindyajati, ketika ada seseorang yg sampai mengungkapkan apa yg ia pikirkan, maka ia sungguh ingin didengarkan. Kita hanya perlu hadir dan memberi jaminan bahwa kita siap mendengar. Mereka yg datang tak melulu perlu nasihat, bahkan solusi. Kadang mereka hanya perlu tahu bahwa kita ada dan peduli. Memanusiakan manusia sungguh suatu perilaku yang sederhana, kalau kita mau menggunakan nurani


Kita terlalu sibuk memikirkan apa yang perlu kita ucapkan, kita katakan, sampai lupa berada bersama sang empunya perasaan disini, kini, hadir sepenuhnya untuk mendengarkan, hanya mendengarkan. Kita terlalu banyak melihat acara motivasi, public speaking, bahkan mungkin terlalu banyak mengikuti pelatihan yang isinya tentang apa yang harus kita katakan dan lakukan. Kita lupa sebuah kemampuan manusia yang sangat sulit walau terkesan mudah, yang belum pernah ada pelatihannya sampai sekarang, yaitu mendengarkan dengan sadar, hanya mendengarkan.

Salam sadar.

Read more at:
“How could you think of suicide? Your life’s not that bad.” Perhaps on the outside the suicidal person’s life does not seem “that bad.” The pain lies underneath. It can greatly help a suicidal person to feel understood. This sort of statement conveys disbelief and judgment, not understanding. “Don’t you know I would be devastated if you killed yourself? How could you think of hurting me like that?” Your loved one already feels awful. Heaping guilt on top of that is not going to help them feel soothed, understood, or welcome to tell you more. “Suicide is selfish.” This inspires more guilt. Two points are important here. One, many people who seriously consider suicide actually think they are burdening their family by staying alive. So, in their distressed, perhaps even mentally ill state of mind, they would be helping their loved ones by freeing them of this burden. Two, isn’t it a natural response to excruciating pain to think first of helping oneself escape the torment? “Suicide is cowardly.” This inspires shame. It also does not really make sense. Most people fear death. While I hesitate to call suicide brave or courageous, overcoming the fear of death does not strike me as cowardly, either. “You don’t mean that. You don’t really want to die.” Often said out of anxiety or fear, this message is invalidating and dismissive. Presume that the person really does mean that they want to die. It does more harm to dismiss someone who is truly suicidal than it does to take someone seriously who is not suicidal, so why not just take everyone seriously? “You have so much to live for.” In some contexts, this kind of statement might be a soothing reminder of abundance and hope. But for many people who think of suicide and do not at all feel they have much to live for, this remark can convey a profound lack of understanding. “Things could be worse.” Yes, things could be worse, but that knowledge does not inspire joy or hope. I compare it to two people who are stabbed, one in the chest, one in the leg. It is far worse to be stabbed in the chest, but that does not make the pain go away for the person stabbed in the leg. It still hurts. A lot. So even if people who think of suicide have many good things going for them, even if their lives could be far worse, they still experience a seemingly intolerable situation that makes them want to die. “Other people have problems worse than you and they don’t want to die.” True, and your loved one may well have already considered this with shame. People who want to die often compare themselves to others and come up wanting. They may even feel defective or broken. Comparing them to others who cope better may only worsen their self-condemnation. “Suicide is a permanent solution to a temporary problem.” I do know people, especially teens, for whom this statement was tremendously helpful. It spoke to them. But it also communicates that the person’s problems are temporary, when they might be anything but. In such a situation, a realistic goal for the person might be to learn to cope with problems and to live a meaningful life in spite of them. The other problem with this statement is it conveys that suicide is a solution – permanent, yes, and a solution. At a minimum, I recommend changing the word “solution” to “act” or “action,” simply to avoid reinforcing that suicide does indeed solve problems. “You will go to hell if you die by suicide.” Your loved one has likely already thought of this possibility. Maybe they do not believe in hell. Maybe they believe the god they believe in will forgive their suicide. Regardless, their wish to die remains. Telling them they will go to hell can exacerbate feelings of alienation

Read more at:
“How could you think of suicide? Your life’s not that bad.” Perhaps on the outside the suicidal person’s life does not seem “that bad.” The pain lies underneath. It can greatly help a suicidal person to feel understood. This sort of statement conveys disbelief and judgment, not understanding. “Don’t you know I would be devastated if you killed yourself? How could you think of hurting me like that?” Your loved one already feels awful. Heaping guilt on top of that is not going to help them feel soothed, understood, or welcome to tell you more. “Suicide is selfish.” This inspires more guilt. Two points are important here. One, many people who seriously consider suicide actually think they are burdening their family by staying alive. So, in their distressed, perhaps even mentally ill state of mind, they would be helping their loved ones by freeing them of this burden. Two, isn’t it a natural response to excruciating pain to think first of helping oneself escape the torment? “Suicide is cowardly.” This inspires shame. It also does not really make sense. Most people fear death. While I hesitate to call suicide brave or courageous, overcoming the fear of death does not strike me as cowardly, either. “You don’t mean that. You don’t really want to die.” Often said out of anxiety or fear, this message is invalidating and dismissive. Presume that the person really does mean that they want to die. It does more harm to dismiss someone who is truly suicidal than it does to take someone seriously who is not suicidal, so why not just take everyone seriously? “You have so much to live for.” In some contexts, this kind of statement might be a soothing reminder of abundance and hope. But for many people who think of suicide and do not at all feel they have much to live for, this remark can convey a profound lack of understanding. “Things could be worse.” Yes, things could be worse, but that knowledge does not inspire joy or hope. I compare it to two people who are stabbed, one in the chest, one in the leg. It is far worse to be stabbed in the chest, but that does not make the pain go away for the person stabbed in the leg. It still hurts. A lot. So even if people who think of suicide have many good things going for them, even if their lives could be far worse, they still experience a seemingly intolerable situation that makes them want to die. “Other people have problems worse than you and they don’t want to die.” True, and your loved one may well have already considered this with shame. People who want to die often compare themselves to others and come up wanting. They may even feel defective or broken. Comparing them to others who cope better may only worsen their self-condemnation. “Suicide is a permanent solution to a temporary problem.” I do know people, especially teens, for whom this statement was tremendously helpful. It spoke to them. But it also communicates that the person’s problems are temporary, when they might be anything but. In such a situation, a realistic goal for the person might be to learn to cope with problems and to live a meaningful life in spite of them. The other problem with this statement is it conveys that suicide is a solution – permanent, yes, and a solution. At a minimum, I recommend changing the word “solution” to “act” or “action,” simply to avoid reinforcing that suicide does indeed solve problems. “You will go to hell if you die by suicide.” Your loved one has likely already thought of this possibility. Maybe they do not believe in hell. Maybe they believe the god they believe in will forgive their suicide. Regardless, their wish to die remains. Telling them they will go to hell can exacerbate feelings of alienation

Read more at:

Rabu, 22 Maret 2017

Depresi: Siapa yang Mengalaminya?

He who conquers others is strong;
He who conquers himself is mighty
-Lao Tsu-

Saya sudah punya segalanya, anak, pasangan, rumah, uang tapi kenapa hanya karena kehilangan hewan peliharaan saja saya bisa merasakan depresi? Bagaimana mungkin dalam hidup yang begitu sempurna kita masih bisa merasakan depresi? Siapakah yang bisa mengalami depresi? Adakah kerentanan tertentu yang mengakibatkan kita mudah terkena depresi? Adakah diri kita juga mungkin mengalami depresi?

Jumat, 17 Maret 2017

Depresi dan Bunuh Diri

Baru-baru ini beredar video tentang livestreaming detik detik seseorang mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri, dia melakukan itu karena rasa sakit yang ditanggung semenjak kepergian istrinya. Dan baru baru ini pula seorang perawat bertanya kepada saya “Kok bisa ya dok dia bunuh diri? Apa yang ada dalam pikirannya?” Apa itu depresi dan bagaimana dia bisa berujung pada bunuh diri, sedikit akan kita ulas disini. Dan sebelum membaca lebih jauh, hendaknya kita tidak ikut menyebarkan video tersebut karena dapat memicu aksi serupa ditempat lain. Dan jika itu terjadi, artinya kita telah ikut mengambil nyawa seseorang yang tadinya bisa diselamatkan. Artinya dia tidak bunuh diri, tapi dia kita bunuh dengan video yang kita sebarkan.

Minggu, 12 Maret 2017

Depresi: Adakah Kamu Peduli?


Saya akan membuka tulisan ini dengan fakta yang tidak akan kamu sukai, bahkan beberapa tidak kamu setujui, dan itu tidak apa. Kamu setuju atau tidak, kamu paham atau tidak, kebenaran yang terkandung dalam tulisan ini hanya akan dipahami oleh yang mengalaminya, dan kamu setuju atau tidak, kebenaran dalam tulisan ini akan tetap menjadi benar. Menurut WHO ada sekitar 804.000 penduduk dunia yang mengakhiri hidupnya dengan cara bunuh diri ditahun 2012, di Indonesia terjadi sekitar 30.000 bunuh diri (yang dilaporkan). 90% dari orang yang bunuh diri pernah terdiagnosis sebagai depresi, bipolar atau gangguan kejiwaan lainnya, yang kesemuanya bisa diatasi dan ditangani. Namun tidak pernah tertangani dengan baik dan berakhir dengan hilangnya satu nyawa yang berharga. Ahh.. tentunya kamu tidak perduli dengan angka ini bukan? 

Bahkan mungkin akan ada banyak orang yang bertanya-tanya, "kok bisa ya dia bunuh diri? itu tindakan bodoh" Celetuk seseorang yang tidak perduli. Ada lagi juga yang mungkin menghakimi, "Dia depresi sampai bunuh diri karena kurang bersyukur". Ada juga seseorang suami yang menjadi penyebab istrinya depresi, secara paradoks berkata "Istri saya itu memang kurang punya banyak teman, makanya dia depresi". Ada pula orang yang sangat hafal dengan ayat berkata "Tuhan tidak pernah mencobai seseorang melebihi kemampuannya". 

Kesemua kalimat-kalimat penghakiman tadi biasa diucapkan oleh orang yang tidak mengerti dan tidak mau mengerti tentang depresi. Kalimat-kalimat tadi diucapkan untuk menunjukkan kehebatan diri sang pembicara, bukan membantu orang yang depresi. Kalimat-kalimat tadi tidak pernah ditujukan untuk membantu pasien depresi, kalimat tadi adalah kalimat serangan, ancaman, hinaan, kepada seseorang yang sudah terluka dan kita buat semakin terluka. Jika ada seseorang dengan depresi yang bunuh diri, dia tidak hanya meninggal karena bunuh diri. Dia meninggal karena ucapan jahat kita.

Jika kamu perduli, jika kamu benar benar menyayangi seseorang yang sedang terpuruk dan dalam depresi itu, tentu kamu akan ingin mengenali tanda tanda depresi sebelum hal yang buruk terjadi. Jika kamu memang beriman tentunya kamu penuh kasih sayang dan pelukan, dan ingin seseorang dengan depresi ini sembuh, bukannya malah mulut ini dipenuhi keinginan untuk menyerangnya dengan ayat. Namun jika kamu tidak perduli, acuh dan angkuh, merasa diri benar. Hentikan saja membaca artikel ini sekarang, tidak perlu dilanjutkan. Toh kamu akan menganggap dirimu benar kan?

Depresi bukan terjadi karena kurang iman, kurang bersyukur, bodoh, lemah mental. Sekali lagi depresi bukan terjadi karena hal-hal yang kamu percaya itu adalah penyebab depresi, itu hanya asumsimu yang tanpa dasar saja. Ilmu pengetahuan membuktikan depresi terjadi karena adanya gangguan dalam sistem persarafan, yang bisa disebabkan oleh banyak hal, baik masalah keluarga, cinta, karir, didikan saat kecil, kebiasaan dan kemampuan menghadapi stresor, atau mungkin hormon, penyakit medik, gangguan persarafan, tumor, dan sangat banyak hal yang bisa saya tuliskan menjadi satu artikel sendiri. 

Depresi terjadi karena kerentanan tertentu dalam sistem persarafan seseorang, yang kemudian menjadikan seseorang sedih, tidak berdaya, tidak mampu berpikir dengan sehat, tidak mampu merasakan kesenangan, kehilangan tujuan dan semangat hidup, bahkan terpikir keinginan untuk bunuh diri. Kesemuanya ini terjadi karena gangguan diotaknya, bukan dalam keimanannya. Untuk membuktikan hal tersebut bisa dilihat dari contoh pemindaian otak pada pasien depresi dan normal, disini terlihat sekali bedanya bahwa depresi terjadi memang karena gangguan fungsi otak.


Depresi merupakan problem kesehatan masyarakat yang sangat serius. World Health Organization ( WHO ) menyatakan bahwa depresi berada pada urutan ke-empat penyakit dunia. Sekitar 20 % wanita dan 12 % pria, pada suatu waktu dalam kehidupannya pernah mengalami depresi.

Gejala-gejala depresi dapat dilihat dari perubahan fungsi fisik, psikologis, sosial bahkan fisiologis.Gejala depresi sangat menggangu kehidupan seseorang, apalagi jika gejala tersebut sangat berat dan melibatkan malfungsi pada beberapa aspek kehidupan sehari-hari. Pada dasarnya, semua orang dapat mendeteksi gejala-gejala depresi yang dialaminya, hanya terkadang penilaian terhadap gejala depresi pada diri sendiri terkadang subjektif.

  1. Mood tertekan hampir sepanjang hari, hampir setiap hari, sebagaimana ditunjukkan oleh laporan subjektif atau pengamatan dari orang lain. 
  2. Ditandai dengan berkurangnya minat dan kesenangan dalam semua, atau hampir semua aktivitas hampir sepanjang hari, hampir setiap hari (ditunjukkan oleh pertimbangan subjektif atau pengamatan dari orang lain). 
  3. Berkurangnya berat badan secara signifikan tanpa diet atau bertambahnya berat badan (seperti perubahan lebih dari 5% berat badan dalam sebulan), atau berkurangnya atau bertambahnya nafsu makan hampir setiap hari (pada kanak-kanak, pertimbangkan juga kegagalan untuk mendapatkan tambahan berat badan). 
  4. Insomnia atau hipersomnia hampir setiap hari. 
  5. Agitasi atau retardasi psikomotor hampir setiap hari (dapat diamati oleh orang lain, tidak hanya perasaan subjektif tentang kegelisahan atau rasa terhambat) 
  6. Lelah atau kehilangan tenaga hampir setiap hari 
  7. Perasaan tidak berharga atau rasa bersalah yang berlebihan atau tidak sesuai (yang mencapai taraf delusional) hampir setiap hari (tidak hanya menyalahkan diri sendiri atau rasa bersalah karena sakitnya). 
  8. Menurunnya kemampuan berpikir atau konsentrasi, atau ragu-ragu hampir setiap hari (baik atas pertimbangan subjektif atau pengamatan dari orang lain) 
  9. Pikiran tentang kematian yang berulang (tidak hanya takut akan kematian), atau usaha bunuh diri atau adanya suatu rencana spesifik untuk bunuh diri(American Psychiatric Association, 2000).
Tidak ada yang menginginkan diri terkena depresi, sama seperti tidak ada yang menginginkan diri terkena kanker, lupus, tumor otak, stroke, dan gangguan berat lain. Depresi berbeda dengan kesedihan, depresi jauhhh lebih berat daripada itu. Kesedihan bukan gangguan mental namun depresi adalah gangguan mental yang perlu ditolong dan diobati, bukan dihakimi dan distigmatisasi. Pasien depresi butuh obat-obatan dan psikoterapi. Dan ini dilakukan oleh profesional psikiater dan psikolog klinis. 

Jika kamu atau orang orang terdekatmu menunjukkan tanda tanda ini, merasakan hal hal ini segeralah berkonsultasi, jangan tunda. Konsultasikan ke profesional, atau jika kamu ragu dan ingin bertanya, kamu bisa menghubungi nomor kontak yang tertera di tab contact us di website ini. Jangan ragu atau malu, karena jika terlalu terlambat maka semuanya akan sia sia. Jika kamu menyayangi orang orang terdekatmu, kamu tentu akan melawan stigma dan rasa malu untuk membantunya mendapatkan kembali kehidupannya yang bahagia, dan bukan membiarkan apalagi menyerangnya dengan kesoktahuan kita.

Depresi bisa disembuhkan

Salam sadar

Selasa, 07 Maret 2017

Mengejar Kebahagiaan

Beberapa tahun terakhir ini banyak sekali bermunculan buku – buku pengembangan diri. Ada yang berupa motivasi kerja, enterpreneurship, manajemen stress, dan lain – lain. Saya sebagai salah satu anak nongkrong gramedia (karena gak ada duit buat nongkrong di kafe – kafe kekinian) tentu ikut mengamati fenomena semacam ini. Apalagi buku – buku ini memang mempunyai target pembaca usia produktif seperti saya saat ini. Oleh karena itulah saya jadi berkenalan dengan Anthony robbin, Andrie Wongso, James Gwee,dll. Mereka orang – orang hebat, cobalah membaca salah satu karya mereka.

Kamis, 02 Maret 2017

Alur Penegakkan Diagnosis (Bukan Vonis)

Selama ini tentunya banyak masyarakat bingung bagaimana caranya dokter menegakkan diagnosis. Kok cuma nanya ini itu, nempel stetoskop sedikit, sudah tau penyakitnya? Kok kadang ada yang bilang butuh pemeriksaan laboratorium ada yang bilang tidak? Kok ada yang suruh rawat inap ada yang tidak? Bagaimana sebenarnya dokter menegakkan diagnosis?

Rabu, 22 Februari 2017

Belajar Melepas Bahagia

Semua orang ingin bahagia, kita semua ingin mendapat kebahagiaan. Pengejaran akan uang, karir, kekayaan, cinta, semua merupakan pengejaran kebahagiaan. Dan coba lihatlah sendiri, kemana perjalanan ini kamu bawa? Apakah kamu menunggu sudah mendapatkan semua itu baru kemudian kamu bahagia? Apakah kamu sungguh memiliki waktu selama itu untuk menunggu bahagia? Dan seandainyapun kamu memiliki waktu selama itu untuk bahagia, apakah dengan mendapat semua kamu akan bahagia?

Kamis, 26 Januari 2017

Terjebak FriendZone (1)

Pernahkah kamu berusaha mendekati seseorang, kamu pingiiiinnn banget jadi pacarnya, tapi untuk mendekatinya kamu bergerak lebih dahulu menjadi sahabatnya. Atau mungkin memang kamu sudah bersahabat dulu dengan dia, dan dalam perjalanan ada rasa-rasa yang muncul begitu saja dalam dirimu. Kamu pikir karena kamu dan dia sudah begitu dekat, kamu sudah mengenal dia luar dan dalam, kamu tau kesukaannya, hal hal yang dia benci, hobi dan makanan favoritnya, maka dia pasti akan memilih kamu sebagai pacarnya. Dan tiba hari dimana kamu menyatakan perasaan ke dia "Aku mau kamu jadi pacar aku".... Wajahnya yang manis tiba tiba berubah menjadi kosong, dia membutuhkan waktu untuk mencerna kalimat mu yang tidak diduga.. Kamu menunggu dengan penuh harap dan kamu pikir kamu dan dia setelah ini akan menjadi sepasang kekasih... Sayang seribu sayang, kalimat selanjutnya yang muncul dari mulutnya justru "Aku ga bisa, kamu terlalu baik buat aku. Kita tetep jadi sahabat kan". Senyum pahit pun terpaksa kamu pasang di wajah bodohmu itu. Seakan tertimpa palu godam besar tepat di dada, sesak, pedih namun harus mencoba tersenyum... Pernahkah kamu mengalami hal ini? Terjebak dalam pertemanan tanpa bisa kemana mana? Apa yang bisa dilakukan untuk keluar darisana? Bagaimana hipnosis dapat membantu keluar dari jebakan FriendZone? Jangan penasaran dulu ya

Salah satu kesalahan umum dalam memulai hubungan adalah, dengan memulainya sebagai sahabat. Kita pikir karna dia sudah menjadi sahabat kita, nyaman bercerita, kita memahami dia luar dan dalam maka dia akan dengan mudahnya mau menjadi pacar kita. Cerita demikian hanyalah minoritas dikehidupan nyata, walaupun banyak muncul dalam cerita FTV.  Untuk menjadi pacar seseorang butuh ketertarikan dan bukan hanya kenyamanan. 
Kalau dia tidak tertarik dengan kamu, sia sia lah kenyamanan yang kamu kasi. Kenyamanannya hanya akan berhenti sampai disana saja. Tidak akan ada keinginan untuk menjadikannya lebih jauh. Simple saja, karna dia ga tertarik  sama kamu.
Seseorang nyaman denganmu sebagai sahabat. Dilain sisi kamu juga menyediakan semua kebutuhan psikologisnya yang akan dia dapatkan dalam fase pacaran. Kamu memberikan dia perhatian, kasih sayang, salam sapa setiap hari, hadiah, waktu, tanpa dia perlu berusaha. Lalu jika seseorang sudah mendapatkan semuanya tanpa memberikan usaha dan tanpa status, ya wajar saja dia tidak mau menjadi pacarmu, karena jadi pacar atau tidak, dia sudah dapat fasilitas darimu.
Seseorang menganggap kamu sahabat atau teman artinya dia nyaman untuk berteman sama kamu, tidak sama dengan dia nyaman untuk bersama kamu dalam jenjang pacaran, itu dua hal yang sangat berbeda. Jika kamu memang punya tujuan untuk pingin dia jadi pacarmu, ya dari awal set tujuan itu, jangan ngeles mau jadi sahabat dulu lah, aku cuma mau temenan lah. Karna kamu bohong sama dirimu sendiri ya wajar kamu dibohongin sama harapanmu. Buat dia tertarik, bukan dengan sogokan sahabat tapi dengan dirimu yang menarik.
Lalu bagaimana caranya menggunakan hipnosis dalam memperbaiki jebakan FriendZone? Dalam prinsip hipnosis seseorang disebut trans jika dia terasosiasi dengan sesuatu. Dalam jebakan FriendZone kamu sudah terasosiasi dengan sahabatmu dengan label sahabat. Dengan label itu, sulit sekali untuk keluar dari posisi pensupply kenyamanan dan berubah menjadi sosok yang menarik. Oleh karena itu yang pertama harus dilakukan, kamu perlu menghentikan asosiasi dirimu sebagai sahabat dalam pikirannya. Kita perlu trance out dari posisi sahabat dan menjadikannya trance in dengan sosok kita yang menarik. Itu hal pertama yang perlu kamu lakukan. Jika hal ini kamu ga berani lakukan, ya selamat berada dalam jebakan friendzone sampai dia menikah dengan pacarnya yang sekarang.
Masa cuma satu tips saja? Sebenarnya banyak. Tapi kalau ditulis di artikel bisa jadi sangat panjang. Ditunggu saja kelahiran artikel lanjutan atau mungkin berupa seminar atau e-book? Tidak ada yang tahu.

Salam Sadar

Kamis, 05 Januari 2017

Hipnoterapi? Bisakah Menyembuhkan Semua Gangguan Kejiwaan?

Kita tentu sudah familiar dengan hipnosis dan hipnoterapi. Berbagai macam acara televisi sudah sering menayangkan kehebohan dan keajaiban teknik hipnosis. Ada yang digunakan untuk menghilangkan phobia, mengubah perasaan, mengubah makna terhadap suatu kejadian, mengingat sesuatu yang terlupakan, bahkan untuk sesuatu yang berkaitan dengan tubuh, melambatkan denyut jantung, mengurangi nyeri dan lain sebagainya. Namun diluar terkenalnya hipnosis dan fenomenalnya teknik ini, tentu jadi pertanyaan sebenarnya sampai sejauh mana si hipnosis dan hipnoterapi ini dapat digunakan sebagai bentuk terapi yang baik? Adakah hal-hal yang sebaiknya tidak menggunakan teknik ini sebagai terapi? Mungkinkah hipnoterapi menghasilkan efek samping? Akan kita ulas sedikit dalam tulisan ini




Mungkin bagi yang masih awam dengan kedua istilah ini, perlu dibedakan antara hipnosis dan hipnoterapi. Hipnosis sendiri merupakan keadaan/ kondisi dimana seseorang lebih mudah tersugesti melalui penembusan faktor kritis bawah sadar, sedangkan hipnoterapi adalah pemanfaatan kondisi hipnosis ini sebagai bentuk terapi psikologis. Hipnoterapi sendiri banyak dilakukan oleh para praktisi hipnoterapi, yang disini dari beragam latar belakang, ada yang berlatar belakang tanpa pendidikan formal sama sekali dalam psikologi dan psikiatri, namun yang baik juga banyak yang memiliki latar belakang yang sesuai dengan praktik hipnoterapi yang dijalani.

Hipnoterapi sendiri merupakan teknik yang powerfull dalam mengatasi beragam gangguan kejiwaan ringan hingga sedang. Pada gangguan jiwa berat hipnosis hanya bersifat sebagai adjuvan atau tambahan, bahkan ada beberapa gangguan yang tidak cocok dan berbahaya jika kita memaksakan menggunakan hipnosis sebagai bentuk terapi.

Lalu apa batasan mana yang bisa menggunakan hipnosis mana yang sebaiknya jangan menggunakan hipnosis? Sebenarnya cukup sulit membedakan keduanya karena batasan antara keduanya cukup sulit dikenali oleh awam, bahkan yang telah menjalani pelatihan sekalipun. Perlu pengalaman klinis dan pendidikan yang cukup lama bagi seorang psikolog dan psikiater memilih untuk menggunakan hipnosis dalam proses terapi. Namun secara sederhana saya akan coba paparkan disini.

Beberapa gangguan jiwa berat membuat seseorang kesulitan dalam menghadapi realita. Munculnya halusinasi pada skizofrenia, epilepsi, bipolar sering sangat sulit dibedakan oleh orang awam yang bisa saja menganggap hal tersebut adalah imajinasi, atau sekedar bayangan, atau mungkin dianggap sebagai pengalaman spiritual. Atau pada kondisi depresi berat dimana perubahan mood sangat menghanyutkan proses pikir pasien, hipnoterapi tidak baik dilakukan dalam kondisi ini.

Hal ini sangat berbahaya sekali karena kegagalan dalam melihat realita, munculnya halusinasi dan ketidaktahuan hipnoterapis bahwa hal ini merupakan indikator gangguan jiwa berat, akan membuat seorang pasien dirugikan jika tetap memaksakan menggunakan hipnoterapi. Hipnoterapi pada gangguan jiwa berat rentan sekali mengakibatkan relaps/kekambuhan, perburukan gejala psikotik (halusnasi, waham dsb), gelisah, bahkan perubahan internal yang tidak bisa diduga. Hal ini mungkin sekali terjadi karena pasien dengan gangguan jiwa berat tidak memproses informasi dengan cara yang sama seperti orang biasa.

Dan hal ini mengakibatkan sugesti sebaik apapun yang disusun dapat dimaknai secara berbeda dan berefek yang tidak baik. Oleh karena itu pada pasien dengan gangguan jiwa berat dengan halusinasi dan waham, hipnosis formal bukanlah merupakan pilihan yang bijak

Beberapa keluarga pasien juga sering menghubungi kami untuk mengatasi berbagai gangguan medik. Entah didapatkan informasi dari reklame pinggir jalan atau brosur di pasar mana, keluarga pasien ini mendapat informasi bahwa hipnoterapi dapat menyembuhkan stroke, diabetes, epilepsi, kanker bahkan anak berkebutuhan khusus.

Jelas ini adalah hal yang keliru, hipnosis secara definisi bekerja dengan menembus faktor kritis kesadaran dan memanfaatkan potensi bawah sadar dalam menyelesaikan persoalan seseorang. Dan hal ini tidak berlaku bagi gangguan medik yang memiliki dasar kelainan organ yang mendasari. Hipnosis bisa digunakan untuk mengurangi nyeri pada pasien kanker namun tidak dapat digunakan untuk menyembuhkan kanker. Hipnosis mungkin (lihat kata mungkin) dapat digunakan untuk membantu pasien post stroke mengatasi hambatan psikologis dalam mendapatkan fungsi motoriknya kembali, namun tidak dapat mengembalikan fungsi motoriknya. Hipnosis bukanlah obat segala bisa untuk menyembuhkan seseorang. Jika demikian tentu tidak ada lagi yang sakit, tinggal gunakan hipnosis untuk semua orang. Namun tidak demikian yang terjadi bukan?

Untuk menentukan apakah gangguan psikologis yang menyertai penyakit medik bisa diterapi menggunakan hipnosis atau tidak, dan apakah hipnosis membawa manfaat pada pasien tersebut atau tidak, adalah ranah psikiater untuk menentukan. Praktisi yang didapatkan dari pelatihan saja tidak akan mampu memilah mana pasien dengan gangguan medik yang bisa dihipnosis dan mana yang tidak. Bijaklah dalam memilih hipnosis untuk membantu pasien/diri kita/

Salam sadar