Rabu, 22 Maret 2017

Depresi: Siapa yang Mengalaminya?

He who conquers others is strong;
He who conquers himself is mighty
-Lao Tsu-

Saya sudah punya segalanya, anak, pasangan, rumah, uang tapi kenapa hanya karena kehilangan hewan peliharaan saja saya bisa merasakan depresi? Bagaimana mungkin dalam hidup yang begitu sempurna kita masih bisa merasakan depresi? Siapakah yang bisa mengalami depresi? Adakah kerentanan tertentu yang mengakibatkan kita mudah terkena depresi? Adakah diri kita juga mungkin mengalami depresi?

Jumat, 17 Maret 2017

Depresi dan Bunuh Diri

Baru-baru ini beredar video tentang livestreaming detik detik seseorang mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri, dia melakukan itu karena rasa sakit yang ditanggung semenjak kepergian istrinya. Dan baru baru ini pula seorang perawat bertanya kepada saya “Kok bisa ya dok dia bunuh diri? Apa yang ada dalam pikirannya?” Apa itu depresi dan bagaimana dia bisa berujung pada bunuh diri, sedikit akan kita ulas disini. Dan sebelum membaca lebih jauh, hendaknya kita tidak ikut menyebarkan video tersebut karena dapat memicu aksi serupa ditempat lain. Dan jika itu terjadi, artinya kita telah ikut mengambil nyawa seseorang yang tadinya bisa diselamatkan. Artinya dia tidak bunuh diri, tapi dia kita bunuh dengan video yang kita sebarkan.

Minggu, 12 Maret 2017

Depresi: Adakah Kamu Peduli?


Saya akan membuka tulisan ini dengan fakta yang tidak akan kamu sukai, bahkan beberapa tidak kamu setujui, dan itu tidak apa. Kamu setuju atau tidak, kamu paham atau tidak, kebenaran yang terkandung dalam tulisan ini hanya akan dipahami oleh yang mengalaminya, dan kamu setuju atau tidak, kebenaran dalam tulisan ini akan tetap menjadi benar. Menurut WHO ada sekitar 804.000 penduduk dunia yang mengakhiri hidupnya dengan cara bunuh diri ditahun 2012, di Indonesia terjadi sekitar 30.000 bunuh diri (yang dilaporkan). 90% dari orang yang bunuh diri pernah terdiagnosis sebagai depresi, bipolar atau gangguan kejiwaan lainnya, yang kesemuanya bisa diatasi dan ditangani. Namun tidak pernah tertangani dengan baik dan berakhir dengan hilangnya satu nyawa yang berharga. Ahh.. tentunya kamu tidak perduli dengan angka ini bukan? 

Bahkan mungkin akan ada banyak orang yang bertanya-tanya, "kok bisa ya dia bunuh diri? itu tindakan bodoh" Celetuk seseorang yang tidak perduli. Ada lagi juga yang mungkin menghakimi, "Dia depresi sampai bunuh diri karena kurang bersyukur". Ada juga seseorang suami yang menjadi penyebab istrinya depresi, secara paradoks berkata "Istri saya itu memang kurang punya banyak teman, makanya dia depresi". Ada pula orang yang sangat hafal dengan ayat berkata "Tuhan tidak pernah mencobai seseorang melebihi kemampuannya". 

Kesemua kalimat-kalimat penghakiman tadi biasa diucapkan oleh orang yang tidak mengerti dan tidak mau mengerti tentang depresi. Kalimat-kalimat tadi diucapkan untuk menunjukkan kehebatan diri sang pembicara, bukan membantu orang yang depresi. Kalimat-kalimat tadi tidak pernah ditujukan untuk membantu pasien depresi, kalimat tadi adalah kalimat serangan, ancaman, hinaan, kepada seseorang yang sudah terluka dan kita buat semakin terluka. Jika ada seseorang dengan depresi yang bunuh diri, dia tidak hanya meninggal karena bunuh diri. Dia meninggal karena ucapan jahat kita.

Jika kamu perduli, jika kamu benar benar menyayangi seseorang yang sedang terpuruk dan dalam depresi itu, tentu kamu akan ingin mengenali tanda tanda depresi sebelum hal yang buruk terjadi. Jika kamu memang beriman tentunya kamu penuh kasih sayang dan pelukan, dan ingin seseorang dengan depresi ini sembuh, bukannya malah mulut ini dipenuhi keinginan untuk menyerangnya dengan ayat. Namun jika kamu tidak perduli, acuh dan angkuh, merasa diri benar. Hentikan saja membaca artikel ini sekarang, tidak perlu dilanjutkan. Toh kamu akan menganggap dirimu benar kan?

Depresi bukan terjadi karena kurang iman, kurang bersyukur, bodoh, lemah mental. Sekali lagi depresi bukan terjadi karena hal-hal yang kamu percaya itu adalah penyebab depresi, itu hanya asumsimu yang tanpa dasar saja. Ilmu pengetahuan membuktikan depresi terjadi karena adanya gangguan dalam sistem persarafan, yang bisa disebabkan oleh banyak hal, baik masalah keluarga, cinta, karir, didikan saat kecil, kebiasaan dan kemampuan menghadapi stresor, atau mungkin hormon, penyakit medik, gangguan persarafan, tumor, dan sangat banyak hal yang bisa saya tuliskan menjadi satu artikel sendiri. 

Depresi terjadi karena kerentanan tertentu dalam sistem persarafan seseorang, yang kemudian menjadikan seseorang sedih, tidak berdaya, tidak mampu berpikir dengan sehat, tidak mampu merasakan kesenangan, kehilangan tujuan dan semangat hidup, bahkan terpikir keinginan untuk bunuh diri. Kesemuanya ini terjadi karena gangguan diotaknya, bukan dalam keimanannya. Untuk membuktikan hal tersebut bisa dilihat dari contoh pemindaian otak pada pasien depresi dan normal, disini terlihat sekali bedanya bahwa depresi terjadi memang karena gangguan fungsi otak.


Depresi merupakan problem kesehatan masyarakat yang sangat serius. World Health Organization ( WHO ) menyatakan bahwa depresi berada pada urutan ke-empat penyakit dunia. Sekitar 20 % wanita dan 12 % pria, pada suatu waktu dalam kehidupannya pernah mengalami depresi.

Gejala-gejala depresi dapat dilihat dari perubahan fungsi fisik, psikologis, sosial bahkan fisiologis.Gejala depresi sangat menggangu kehidupan seseorang, apalagi jika gejala tersebut sangat berat dan melibatkan malfungsi pada beberapa aspek kehidupan sehari-hari. Pada dasarnya, semua orang dapat mendeteksi gejala-gejala depresi yang dialaminya, hanya terkadang penilaian terhadap gejala depresi pada diri sendiri terkadang subjektif.

  1. Mood tertekan hampir sepanjang hari, hampir setiap hari, sebagaimana ditunjukkan oleh laporan subjektif atau pengamatan dari orang lain. 
  2. Ditandai dengan berkurangnya minat dan kesenangan dalam semua, atau hampir semua aktivitas hampir sepanjang hari, hampir setiap hari (ditunjukkan oleh pertimbangan subjektif atau pengamatan dari orang lain). 
  3. Berkurangnya berat badan secara signifikan tanpa diet atau bertambahnya berat badan (seperti perubahan lebih dari 5% berat badan dalam sebulan), atau berkurangnya atau bertambahnya nafsu makan hampir setiap hari (pada kanak-kanak, pertimbangkan juga kegagalan untuk mendapatkan tambahan berat badan). 
  4. Insomnia atau hipersomnia hampir setiap hari. 
  5. Agitasi atau retardasi psikomotor hampir setiap hari (dapat diamati oleh orang lain, tidak hanya perasaan subjektif tentang kegelisahan atau rasa terhambat) 
  6. Lelah atau kehilangan tenaga hampir setiap hari 
  7. Perasaan tidak berharga atau rasa bersalah yang berlebihan atau tidak sesuai (yang mencapai taraf delusional) hampir setiap hari (tidak hanya menyalahkan diri sendiri atau rasa bersalah karena sakitnya). 
  8. Menurunnya kemampuan berpikir atau konsentrasi, atau ragu-ragu hampir setiap hari (baik atas pertimbangan subjektif atau pengamatan dari orang lain) 
  9. Pikiran tentang kematian yang berulang (tidak hanya takut akan kematian), atau usaha bunuh diri atau adanya suatu rencana spesifik untuk bunuh diri(American Psychiatric Association, 2000).
Tidak ada yang menginginkan diri terkena depresi, sama seperti tidak ada yang menginginkan diri terkena kanker, lupus, tumor otak, stroke, dan gangguan berat lain. Depresi berbeda dengan kesedihan, depresi jauhhh lebih berat daripada itu. Kesedihan bukan gangguan mental namun depresi adalah gangguan mental yang perlu ditolong dan diobati, bukan dihakimi dan distigmatisasi. Pasien depresi butuh obat-obatan dan psikoterapi. Dan ini dilakukan oleh profesional psikiater dan psikolog klinis. 

Jika kamu atau orang orang terdekatmu menunjukkan tanda tanda ini, merasakan hal hal ini segeralah berkonsultasi, jangan tunda. Konsultasikan ke profesional, atau jika kamu ragu dan ingin bertanya, kamu bisa menghubungi nomor kontak yang tertera di tab contact us di website ini. Jangan ragu atau malu, karena jika terlalu terlambat maka semuanya akan sia sia. Jika kamu menyayangi orang orang terdekatmu, kamu tentu akan melawan stigma dan rasa malu untuk membantunya mendapatkan kembali kehidupannya yang bahagia, dan bukan membiarkan apalagi menyerangnya dengan kesoktahuan kita.

Depresi bisa disembuhkan

Salam sadar

Selasa, 07 Maret 2017

Mengejar Kebahagiaan

Beberapa tahun terakhir ini banyak sekali bermunculan buku – buku pengembangan diri. Ada yang berupa motivasi kerja, enterpreneurship, manajemen stress, dan lain – lain. Saya sebagai salah satu anak nongkrong gramedia (karena gak ada duit buat nongkrong di kafe – kafe kekinian) tentu ikut mengamati fenomena semacam ini. Apalagi buku – buku ini memang mempunyai target pembaca usia produktif seperti saya saat ini. Oleh karena itulah saya jadi berkenalan dengan Anthony robbin, Andrie Wongso, James Gwee,dll. Mereka orang – orang hebat, cobalah membaca salah satu karya mereka.

Kamis, 02 Maret 2017

Alur Penegakkan Diagnosis (Bukan Vonis)

Selama ini tentunya banyak masyarakat bingung bagaimana caranya dokter menegakkan diagnosis. Kok cuma nanya ini itu, nempel stetoskop sedikit, sudah tau penyakitnya? Kok kadang ada yang bilang butuh pemeriksaan laboratorium ada yang bilang tidak? Kok ada yang suruh rawat inap ada yang tidak? Bagaimana sebenarnya dokter menegakkan diagnosis?