Kamis, 02 Maret 2017

Alur Penegakkan Diagnosis (Bukan Vonis)

Selama ini tentunya banyak masyarakat bingung bagaimana caranya dokter menegakkan diagnosis. Kok cuma nanya ini itu, nempel stetoskop sedikit, sudah tau penyakitnya? Kok kadang ada yang bilang butuh pemeriksaan laboratorium ada yang bilang tidak? Kok ada yang suruh rawat inap ada yang tidak? Bagaimana sebenarnya dokter menegakkan diagnosis?


Penegakkan diagnosis adalah seni yang sulit. Dari kata-katanya "Penegakkan" saja bisa saja ditarik implikasi bahwa awalnya diagnosis dibuat itu tidak tegak, dan dalam perjalanan waktu lah diagnosis bisa menjadi mendekati kebenaran. Penilaian berkala dari gejala dan tanda yang muncul, perjalanan penyakit, serta evaluasi yang banyak tentunya bisa "mengubah" nama diagnosis menjadi lebih mendekati kebenaran.

Lalu darimana diagnosis itu muncul? Awalnya dan yang paling penting adalah Anamnesis atau wawancara. Anamnesis ini memegang peranan sekitar 70% untuk penegakkan diagnosis. Anamnesis disini membutuhkan struktur tertentu, dan merupakan seni tersendiri. Itulah mengapa adalah baik jika keluarga atau pasien sejujur-jujurnya mengatakan apapun yang ditanyakan oleh dokter, karena jika ada kesalahan data dalam anamnesis, artinya porsi 70% dari penegakkan diagnosis menjadi keliru. Dengarkan baik baik apa yang ditanyakan oleh dokter, dan tanyakan kembali jika tidak mengerti, jangan dengan gegabah meng "iya"kan atau men"tidak"kan pertanyaan dokter, karena itu bisa mempengaruhi sekali diagnosis.

Langkah kedua setelah diagnosis adalah pemeriksaan fisik. Langkah ini lah yang dianggap sebagai tempel stetoskop, dokter ketuk ketuk dada, atau memegang bagian tubuh tertentu. Pemeriksaan fisik kadang tidak harus dengan menempel stetoskop, dokter melihatpun sudah merupakan bagian dari pemeriksaan fisik. Kadang ada tanda-tanda dari gangguan tertentu yang nyata sekali hanya dengan melihat, dan selanjutnya baru dokter melakukan pemeriksaan dengan menyentuh atau menggunakan stetoskop. Jadi tidak semua penyakit sebenarnya dokter memerlukan stetoskop.

Yang terakhir adalah pemeriksaan penunjang. Disinilah pemeriksaan yang banyak diminta oleh pasien ketika berkunjung ke dokter. Pemeriksaan laboratorium darah, USG, foto rontgen, CT Scan, dan lain sebagainya. Ada arti kenapa pemeriksaan terakhir ini disebut "penunjang", karena pemeriksaan laboratorium, foto rontgen, dan semacamnya hanya digunakan sebagai "penunjang" saja. Ada kalanya dokter lebih mempercayai hasil anamnesis dari pasien dibandingkan dengan hasil pemeriksaan laboratorium, dan ini sah-sah saja. Oleh karena itu jawaban Anda terhadap wawancara dokter menjadi sangat penting, data itu menjadi jauh lebih penting daripada data laboratorium,

Pemeriksaan penunjang pun tidak perlu dilakukan jika dokter sudah merasa data yang didapatkan dari anamnesis dan pemeriksaan fisik sudah tercukupi, dan pemeriksaan penunjang menjadi tidak diperlukan. Namun ada beberapa pasien yang tetap memaksa untuk terus menerus meminta untuk melakukan pemeriksaan penunjang, yang sekalipun pemeriksaan sebelumnya normal, pasien terus tidak percaya dan berkeliling dokter meminta untuk melakukan pemeriksaan penunjang. Hati-hati, sebenarnya ini tanda dari gangguan jiwa, segeralah konsultasikan diri atau pasien Anda yang memiliki ciri-ciri demikian. Pemeriksaan penunjang hanya dilakukan jika dokter masih membutuhkan penunjang untuk diagnosis, bukan sebagai penegak diagnosis.

Terakhir, diagnosis bukanlah final. Diagnosis adalah sesuatu yang berkembang. Perubahan diagnosis bukan berarti diagnosis sebelumnya keliru, namun perubahan diagnosis adalah sebuah perkembangan perjalanan dari diagnosis yang global menuju diagnosis yang lebih spesifik dan mendekati kebenaran. Dan diagnosis bukanlah vonis, dokter bertugas menemukan penyakit, bukan kesalahan.

Salam sadar

0 komentar:

Posting Komentar