Rabu, 22 Maret 2017

Depresi: Siapa yang Mengalaminya?

He who conquers others is strong;
He who conquers himself is mighty
-Lao Tsu-

Saya sudah punya segalanya, anak, pasangan, rumah, uang tapi kenapa hanya karena kehilangan hewan peliharaan saja saya bisa merasakan depresi? Bagaimana mungkin dalam hidup yang begitu sempurna kita masih bisa merasakan depresi? Siapakah yang bisa mengalami depresi? Adakah kerentanan tertentu yang mengakibatkan kita mudah terkena depresi? Adakah diri kita juga mungkin mengalami depresi?

Bayangkan ada dua orang yang baru saja didiagnosis dengan diabetes. Orang pertama mengalami depresi dan menjadi sangat sedih. Dia menyalahkan dirinya sendiri atas pola hidupnya dimasa lalu. Dia menjauhi seluruh orang yang dia kenal, menyendiri dan tidak mau mendengarkan pesan atau saran apapun. Dia merasa kehidupannya berakhir, tidak ada harapan lagi, dia tidak lagi akan mampu bahagia. Sedangkan orang kedua juga merasakan sedih, namun tidak lama dia menghubungi keluarganya untuk mencari dukungan tentang hal apa yang masih mungkin dia lakukan. Dia mendengarkan saran dokter dan mencari opsi-opsi yang masih mungkin dikerjakan dalam menikmati apa yang masih bisa dinikmati dalam rasa sakitnya. Dia bersama dengan orang orang yang dikasihinya menikmati rasa sakitnya.

Inilah yang kita sebut sebagai defense mechanism, atau cara mekanisme pertahanan diri. Setiap orang memiliki gaya dalam mekanisme pertahanan diri masing masing, ada yang matur dan ada yang tidak. Yang menarik dari mekanisme pertahanan diri ini, kita tidak menyadari kita sedang menggunakan mekanisme pertahanan diri, dan kita tidak sadar mekanisme pertahanan diri apa yang sedang kita gunakan. Beberapa mekanisme pertahanan diri yang ada misalnya: 
  • Proyeksi : menyalahkan orang lain atas sebuah kejadian
  • Represi: menekan emosi kebawah sadar hingga tidak disadari
  • Reaksi formasi : bereaksi tepat kebalikan dari apa yang dirasakan
  • Introyeksi : menyalahkan diri sendiri atas sebuah kejadian
  • Somatisasi : mengubah sebuah perasaan menjadi keluhan fisik
  • Sublimasi : mengubah sebuah kejadian buruk menjadi motivasi perilaku yang baik
  • Altrusime : mencapai kebermaknaan hingga mampu memberikan diri untuk berkorban
  • Humor : mendapatkan sisi tawa dari sebuah kejadian buruk
Dan dari sedikit mekanisme pertahanan diri ini, tentu bisa dipahami mana mekanisme pertahanan diri yang matur dan dapat digunakan secara sehat. Sublimasi, altrusime, humor merupakan mekanisme pertahanan diri yang relatif dapat digunakan secara luwes. Mekanisme pertahanan diri ini biasanya dicetuskan oleh stresor yang dialami, dan menjadi semakin terlihat jelas ketika pola pola pertahanan yang sama kita gunakan sekalipun hal tersebut sudah tidak lagi membantu bahkan cenderung merusak. Maka itulah pola yang paling sering kita gunakan. Apakah itu pola yang matur atau imatur?

Selain mekanisme pembelaan diri, cara kita berpikir juga dapat memperburuk depresi. Banyak orang dengan depresi terjebak dalam pikiran-pikiran negatifnya hingga sangat terlarut didalamnya. Orang-orang ini sangat menghayati pikirannya, merasakan pikirannya, seakan apa yang dipikirkan dan dirasakan adalah kebenaran, padahal seringkali sebaliknya. Kita tidak sadar bahwa pikiran dan perasaan hanyalah aktivitas mental saja, pikiran dan perasaan kita tidak mewakili siapa kita. Kita sibuk dalam pikiran kita sendiri yang seringkali keliru, dan semakin dipikirkan hal ini semakin memperburuk perasaan.


Pikiran-pikiran otomatis seperti "saya tidak berharga", atau "hidup ini tidak ada artinya lagi", "saya tidak dapat hidup tanpanya", dan jutaan penliaian diri otomatis ini menghujam otak dan perasaan kita hingga kita tidak mampu lagi bernafas lega. Seakan semua ini benar, dan kita menghayati seakan semua ini benar, dan kita berperilaku layaknya pikiran ini. Salah satu cara untuk keluar dari perasaan depresi adalah keluar dari pola pikir depresi. Menyadari mekanisme pertahanan diri yang kita gunakan, menyadari pola pikiran otomatis yang terjadi dan kemudian memilih pola yang lebih sehat. Memilih untuk bahagia, memilih untuk bebas dari jebakan pikiran dan perasaan sendiri. Coba dengan perlahan menyadari pola pola yang terjadi, dan secara sadar memilih untuk bebas dan bahagia. Memilih untuk merdeka. Namun jika Anda merasakan kesulitan dalam memilih bebas dari jebakan pikiran dan perasaan sendiri, Anda bisa segera berkonsultasi ke psikiater atau psikolog klinis terdekat, atau hubungi nomor kontak disini


Salam sadar


Life is sum of all you choices
-Albert Camus-

0 komentar:

Posting Komentar