Sabtu, 10 Juni 2017

Courage

"Pokoknya saya ga mau tau, kalau kamu ke psikiater, kamu saya usir dari rumah! Bikin malu keluarga!", seru seorang dokter terkenal. "Tapi Pa, aku ga kuat lagi. Kita udah ke semua terapis herbal, hipnoterapis, guru agama, tapi aku ngerasa perasaan sedihku ini ga wajar. Aku gak sanggup hidup lagi Pa, aku..."| "CUKUP!", bentak sang Ayah. "Kalau kamu ke psikiater, kamu keluar dari rumah sekarang!". Sang anak dengan putus asa kembali ke kamarnya, terisak disudut ruangan, tidak mampu memahami dirinya sendiri dan tidak ada orang lain yang mau memahaminya.


Sering sekali saya menemui seseorang, baik pasien maupun keluarga, orang orang yang malu datang ke psikiater. Sudah jelas sebenarnya, kesedihan, kecemasan, keluhan fisik, nyeri, pingsan, 'hilang ingatan', disebabkan oleh masalah tertentu. Namun orang-orang banyak yang menyangkal, dan lebih suka diberi label 'sakit jantung' daripada 'gangguan cemas'.

Atau ada pula keluarga yang sebegitu menghargai kehormatan melebihi kedamaian. Sebenarnya mereka sadar orang yang mereka kasihi butuh pertolongan, bahkan beberapa diantaranya sudah menyebutkan ingin pergi ke psikiater namun atas nama kehormatan keluarga, mereka tidak mau menolong orang yang kabarnya mereka sayangi tersebut. Malu katanya, jika diketahui orang lain bahwa orang yang kita sayangi pergi ke psikiater. Seakan pergi ke psikiater adalah bentuk kelemahan, kegagalan, jiwa yang rapuh.

Lingkungan sosial juga sama saja. Ketika berhadapan dengan pasien depresi mereka berkata jangan sedih, ada seseorang dengan gangguan cemas mereka berkata jangan dipikir. Ada juga orang yang tidak mengerti namun berani berkomentar "Bagaimana mungkin kamu merasa sebegitu buruk, hidupmu baik baik saja, belajar bersyukur". Ketahuilah, jika kalimat kalimat tadi membantu, maka gangguan jiwa tidak pernah akan ada dimuka bumi. Kalimat motivasi tadi itu palsu, tidak pernah bisa membantu. Kita hanya pikir kita membantu, padahal tidak.

Namun ada hal hal menarik yang saya lihat dan temukan dari pasien yang datang ke poli psikiatri. Saya melihat ada kekuatan yang sangat besar dari para pasien ini. Bagaimana tidak, bayangkan ketika keluargamu sendiri mencap kamu gila atau lemah atau rapuh atau sakit, namun kamu tetap memilih untuk mencari pertolongan dengan benar dan memilih hidup damai.

Kamu menyadari perasaan dan pikiranmu begitu mengganggu, bahkan sering sekali fisikmu ikut menjadi sakit, dan kamu mengakui, menerima, dan mencari pertolongan ke psikiater. Butuh kekuatan besar untuk mengakui kelemahan sendiri dan memutuskan mencari pertolongan. Kebanyakan orang hanya berusaha menyembunyikan rasa sakitnya sendiri. Mereka memilih hidup dalam rasa sakit dan bukan kedamaian.

Tidak ada orang yang mendukung, orang yang kamu kenal bahkan menganggap kamu rendah karena ke psikiater. Tapi mereka bahkan tidak bisa menolong, hanya bisa komentar dan sok tau akan kondisi dirimu. Dan kamu dalam perasaan terganggu ditambah nyinyiran orang sekitar, kamu tetap berusaha keras untuk mencari pertolongan ke psikiater. Bukankah butuh kekuatan besar untuk ini?

Saya kagum dengan pasien yang rutin berobat ke psikiater ketika diketahui dirinya mengalami gangguan jiwa. Saya kagum dengan kekuatan, daya tahan, semangat juang mereka yang berusaha untuk hidup tenang ditengah konspirasi kimiawi otak mereka yang mensabotase kebahagiaan mereka sendiri. Saya kagum dengan orang orang yang menahan cibiran dari keluarga dekat dan orang sekitar untuk pergi mencari pertolongan.

Orang orang ini bukan pengecut, mereka adalah orang yang berani. Berani melawan rasa malu mereka dan memilih hidup bahagia. Orang orang ini bukan pengecut, mereka menghadapi keluarga dan orang terdekat mereka dan memilih hidup bahagia. Orang orang ini bukan lemah jiwanya, karna mereka memilih untuk menyadari diri dan mencari pertolongan. Orang orang ini bukan lemah imannya, mereka percaya Tuhan yang mencintai mereka akan menolong lewat tangan tangan yang benar benar bisa membantu.

Buat saya, orang yang pergi ke psikiater ini punya kekuatan yang tidak dimiliki manusia lain. Kekuatan untuk mengakui kelemahan diri dan kekuatan untuk mau mencari pertolongan.

Jadi, mana yang akan kamu pilih? Membiarkan diri hidup dalam rasa sakit, atau mencari pertolongan?

Salam sadar

*Notes: cerita dokter diatas hanya ilustrasi belaka, dokter bisa diganti dengan kata ganti profesi lain: motivator, insinyur, anggota dewan, hakim, pengacara, jaksa, hipnoterapis dan apa saja

0 komentar:

Posting Komentar