Sabtu, 05 Agustus 2017

Bakar dan Bunuh!!

Masih belum lepas dari ingatan kita tentang seorang teknisi dibunuh dan dibakar karena disangka pencuri oleh warga sekitar. Seakan mudah saja bagi kita untuk menghukum sampai membunuh seseorang yang kita anggap bersalah, yang tampak berbeda. Kita heran bagaimana mungkin seseorang bertindak begitu kejam, padahal tanpa sadar kita semua memelihara perilaku seperti ini.


Kita semua bertanggung jawab atas kejadian ini. Kita semua termasuk saya ikut berkontribusi dalam pembunuhan dan main hakim sendiri. Bagaimana mungkin? Saya tidak pernah memukul apalagi membunuh? Saya tidak pernah membakar orang lain? Benarkah demikian?


Sebuah perilaku tidak serta merta muncul. Kita tidak mungkin tiba tiba membunuh. Ada latar belakang, ada kekerasan yang telah disiapkan untuk tercetus dikemudian hari, ada keyakinan keliru bahwa kehidupan seseorang dapat lebih tidak berharga dibanding kehidupan kita, ada , bahwa keadilan sama dengan pembalasan, bahwa kekerasan adalah satu satunya jalan keluar, bahwa kita pasti benar dan orang lain adalah salah. Perilaku kekerasan tidak tiba tiba muncul dan meledak, perilaku selalu dimulai dari pikiran dan dari apa yang kita percaya.


Kekerasan dimulai dari cara pikir, dari kejahatan pikiran.


Ada tetangga yang selama ini kita kenal pendiam, ramah, tidak pernah kita dengar dia marah, namun saat kita berjalan bersama di taman dia bercerita tentang kebenciannya terhadap suatu suku tertentu, kecurigaan akan suatu kelompok lain akan menyakiti golongannya, dan keinginan untuk menjadi penolong bagi kelompoknya bahkan jika perlu sampai mati. Ada pula tetangga lain yang memang terlihat jahat, bicara lantang dan keras, bertato, merokok, namun saat ada keluarga kita yang sakit, dialah orang pertama yang menolong tanpa mau diberikan imbalan.


Kita merasa masyarakat kita baik, ramah, sopan. Sangat baik, ramah dan sopan sampai mengajarkan anak anak berteriak "BUNUH!" kepada orang yang kita pikir berbeda. Sangat baik, ramah dan sopan sampai bahkan sedari dahulu kita bernyanyi "Si kancil anak nakal, suka mencuri ketimun. Ayo lekas DIBURU. JANGAN DIBERI AMPUN". Sangat baik, ramah dan sopan dari luar, namun liar dan buas didalam.


Mengapa kita perlu mengakui bahwa memang kita ini liar dan buas? Mengapa kita perlu menyadari ada rasa ingin membalas, ada seseorang yang sangat jahat didalam diri, ada perasaan saya lebih layak dan benar ketimbang orang lain, ada sosok kejam yang menunggu untuk hidup ketika ada yang mencetuskan. Ada, iya didalam diri kita ada binatang yang buas yang menunggu untuk bangkit.


Lalu apa yang perlu dilakukan ketika sadar kita juga binatang buas? Tak perlulah jumawa membanggakan kebaikan, apalagi mengganggap kelompok/orang lain, sesama hewan buas tak perlu saling menyerang. Sesama hewan perlu saling mencintai, saling mengingatkan. Belajarlah mencintai sesama buas, dan hidup penuh cinta. Belajarlah hidup tanpa dendam didalam hati, nikmati hidup dan cintai sesama. Belajarlah memaafkan, karena hanya dengan cara itu hewan kita bisa beristirahat. Hiduplah penuh cinta dan maaf.

Salam sadar

0 komentar:

Posting Komentar