Selasa, 12 Juni 2018

Bunuh Diri : Mitos dan Fakta (Bagian 1)

Seseorang yang bunuh diri mungkin tidak meminta pertolongan, namun bukan berarti mereka tidak menginginkan pertolongan. Seseorang yang ingin bunuh diri bukannya ingin mengakhiri hidup, mereka hanya ingin mengakhiri rasa sakit mereka. Usaha pencegahan bunuh diri dimulai dengan mengenali tanda bahaya dan menangani tanda ini dengan serius. Jika kamu berpikir ada teman, kolega, keluarga, yang mungkin ingin bunuh diri, mungkin kamu akan takut untuk membicarakan topik bunuh diri ini kepada mereka. Namun sebenarnya membicarakan hal ini secara terbuka dengan cara yang benar tentang hal keinginan bunuh diri dan perasaan mereka dapat menyelamatkan nyawa mereka.

Senin, 11 Juni 2018

Belajar Mengendalikan Marah

Beberapa orang sedemikian marahnya sampai sulit mengendalikan diri. Beberapa memaki, beberapa memakai kata kata kotor, beberapa bahkan menyakiti orang yang disayangi. Agak ironi sebenarnya, kita menyakiti orang yang kita sayangi untuk sesuatu yg sifatnya sementara (marah)

Marah sendiri bukan masalah. Apa yang kita lakukan atau ucapkan saat marah-lah yang bisa menjadi masalah. Belajar untuk merespon dengan tepat saat marah merupakan salah satu ketrampilan penting dalam menjadi relasi dengan homo sapiens lain

Bagaimana mengendalikan amarah?
Pada hakikatnya marah itu perasaan. Dan perasaan itu tidak ada yang bertahan selamanya, dia akan berkurang bersama dengan jarak dan waktu. Lawan kita yang sesungguhnya adalah jarak dan waktu, bukan perasaan itu sendiri

Apa yang perlu dilakukan saat marah?
Ambil jarak, dan ambil waktu. Bernafaslah perlahan untuk mengambil jarak lebih jauh. Jarak ini bukan bicara tentang fisik aja ya, tapi juga pikiran. Percuma kalau mengambil jarak fisik tapi pikiran masih mengulangi kejadian yang menyakitkan
Karena marah itu perasaan, ingat baik baik dia akan berkurang dengan sendirinya

Kamu memang merasa marah, tapi ingat itu hanya perasaan, bukan realita. "Kamu marah dan menganggap pasanganmu selalu salah", Ingat baik baik ini hanya perasaanmu dan bukan realita yang sebenarnya

Saya punya spell pribadi pada saat saya begitu dikuasai perasaan (termasuk marah)
"Perasaan saya hanyalah perasaan. Pikiran saya hanyalah pikiran. Perasaan dan pikiran saya bukanlah realita"
Saya membaca dan menghayati kalimat ini sampai perasaan saya mereda.

Kadang marah itu diperberat oleh kalimat kalimat menghakimi, "dia seharusnya begini", "pasangan saya gak pernah begitu kepada saya", "orang itu selalu bersikap seperti itu". Orang orang lawas di psikologi menyebutnya Tyranny of the should.

Ingat baik baik juga. Tidak ada itu "seharusnya", "selalu", "tidak pernah". Tidak ada seharusnya, siapa yang mengharuskan? Kamu kan? Tidak ada itu selalu, masa iya selalu? Tidak ada juga itu tidak pernah, benarkah sama sekali tidak pernah?

Jika pikiran kita sudah diperbaiki dan perasaan sedikit lebih tenang, langkah selanjutnya adalah kita orientasikan kembali pikiran kita kepada solusi, bukan kepada masalah. Pikirkan baik baik tentang "bagaimana menyelesaikan masalah", bukan "apa dan kenapa"

Ada seorang dosen marah kepada mahasiswa nya yang terlambat satu jam
Dosen berorientasi masalah: "kenapa kamu terlambat?"
Dosen berorientasi solusi:
"bagaimana caranya supaya kamu besok bisa tepat waktu?"

Pertanyaan mengapa hanya akan menghasilkan excuse, bukan solusi. Jika sudah bertemu opsi opsi solusi, maka kamu sudah siap kembali menghadapi masalahmu. Hadapi dengan tenang dan logis.

Kuasai perasaan, jangan mau dikuasai perasaan. Kamu adalah tuan atas perasaanmu, bukan sebaliknya
Salam sadar

Jumat, 08 Juni 2018

Kesuksesan dan Bunuh Diri

Seorang rekan bertanya, "Jim kenapa orang terkenal yang kelihatan sukses itu bisa bunuh diri?". Jawaban atas hal ini tentu tidak pernah sesederhana penjabaran saya, dan tentu lebih dari sekedar dosa/tidak, surga atau neraka. Jawaban dari pertanyaan ini ada didalam kesepian, kesedihan, rasa sakit, penderitaan, ketidakpuasan yang merayap didalam dirinya selama berbulan bulan (kalau tidak bertahun tahun), yang selalu disembunyikannya dari orang lain, terutama dari orang yang dia sayangi

Senin, 14 Mei 2018

Mendapatkan Segalanya

"Aku udah punya semua yang aku inginkan dari muda Jim. Aku udah punya rumah, aku bisa ajak istri dan anak anak jalan jalan keluar negri, anak anakku sekolah ditempat mahal, mobilku tiga, gajiku besar, aku udah punya semuanya, tapi kenapa aku ga bahagia Jim? Kenapa aku malah sedih?" Tanya seorang teman

Kamis, 26 April 2018

Rabu, 18 April 2018

Mindfulness Class 7 Mei 2018 Surakarta

Sakit adalah bagian dari kehidupan, dan tentunya setiap orang akan mengalami penyakit cepat atau lambat. Ada kalanya beberapa orang mengalami penyakit yang lebih berat, atau mungkin lebih lama, atau mungkin tidak ada kejelasan kapan sembuh, atau mungkin seakan semua tidak ada harapan.

Dalam kondisi seperti ini bahagia seringkali jadi angan angan saja. Banyak orang tidak mampu lagi merasakan bahagia dalam kondisi sakit penyakit yang tak kunjung usai ini.

Namun hal ini tidak sepenuhnya tidak bisa diubah. Bahagia ditengah rasa sakit mungkin sekali didapatkan.

Berbahagia ditengah penyakit adalah ketrampilan yang bisa dan perlu dilatihkan bersama bahkan sebelum sakit datang, menyadari rasa sakit, menerima rasa sakit dan tetap berbahagia ditengah rasa sakit.

Di kelas ini kita akan belajar bersama tentang kesadaran lain dalam rasa sakit. Kita akan belajar bersama tetap menjadi bahagia ditengah penyakit. Atau mungkin bersama-sama orang yang kita sayangi menjadi bahagia ditengah penyakit.

Acara ini akan diadakan pada
Tanggal 7 Mei 2018
Lokasi RSUD Dr Moewardi Surakarta
Waktu 15.00-19.00

Informasi dan pendaftaran (WA/SMS)
CP Asti 0812-6971-351
Ardi 0896-7346-9339

Investasi
Umum/Mahasiswa: 200.000
Dokter: 300.000


Pendaftaran bisa dengan menghubungi CP atau mengisi form ini

Rabu, 21 Februari 2018

Indigo, Spesial atau Bencana?

Anak-anak Indigo, menurut konsep New Age yang pseudoscience, adalah anak-anak yang diyakini memiliki sifat atau kemampuan istimewa, tidak biasa, dan supernatural. Konsep anak indigo mendapat minat dengan terbitnya serangkaian buku populer di akhir tahun 1990an dan beberapa film pada dekade berikutnya. Berbagai buku, konferensi dan materi terkait telah diciptakan seputar keyakinan akan gagasan anak indigo dan sifat dan kemampuan mereka. Penafsiran keyakinan ini berkisar dari tahap berikutnya dalam evolusi manusia, dalam beberapa kasus memiliki kemampuan paranormal seperti melihat makhluk halus, telepati, dengan keyakinan bahwa mereka lebih berempati dan kreatif daripada rekan-rekan mereka.